Sepedamotor Distop dan Diseret Masuk Mobil, Staf KPU Dianiaya 5 Rekan Kerja

Sumber: www.metrosiantar.com
Senin, 14 September 2009

SIDIMPUAN-METRO; Tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh NS, salahseorang Pegawai Negeri Sipil di Komisi Pemilihan Umum Kota Padangsidimpuan dan empat temannya, boleh dibilang mirip dengan adegan sinetron. Pasalnya, Desriani boru Nasution (20) yang bekerja sebagai staf KPU atau Tenaga Kerja Sukarela alias TKS dianiaya, setelah sebelumnya sepedamotor yang dikendarai Desriani distop, lalu korban diseret ke dalam mobil dan selanjutnya dijambak, dipukul, bahkan ditendang.

Kepada METRO, Desriani didampingi orangtuanya, Ali Sati Nasution, mengaku, sebelum berangkat kerja Jumat (12/9) lalu sekira 10.00 WIB, dirinya dijemput oleh rekannya sesama TKS di KPU, Wanti. Lalu, keduanya mengendarai sepedamotor untuk berangkat kerja dari rumahnya di perumahan Sopo Indah, Pal IV Pijor Koling, Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara. “Saya heran, kenapa Wanti menjemput saya pergi kerja, padahal sebelumnya tidak pernah samasekali. Namun, meskipun heran, akhirnya saya ikut juga, begitu tiba di depan kantor KPU, saya melihat NS seperti sedang menunggu sesuatu bersama dengan 3 rekannya yang lain. Merasa curiga saya meminta Wanti untuk memutar arah sepedamotor kembali ke arah Jalan Kenanga,” terangnya.

Ketika sampai di Jalan Kenanga atau tepatnya di sekitaran Kantor Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Budi Luhur milik Depag Tapsel, sepedamotor yang mereka kendarai dihadang oleh satu unit mobil sedan merah jenis toyota scarlet dengan nomor polisi BK 752 HD yang dikemudikan NS warga Jalan Durian, Kelurahan Wek VI, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan bersama dengan tiga rekannya.

Lalu, NS dan ketiga rekannya memaksa korban masuk ke dalam mobil sekitar pukul 12.00 siang yang diikuti oleh Wanti. Sedangkan sepedamotor yang mereka tumpangi dengan Wanti ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan.

Selanjutnya, terang Desriani, di dalam perjalanan dirinya diperlakukan kasar. Di mana dirinya dijambak, dipukul dan d tendang di bagian tubuh dan kakinya, sembari dibawa ke obyek wisata Tor Simarmsayang dan akhirnya setelah dianiaya oleh kelimanya di dalam mobil, dirinya diturunkan sekitar pukul 24.00 malam, di Jalan Imam Bonjol di depan loket ALS, Padangmatinggi. Akhirnya Destriani pulang ke rumahnya dengan menumpang becak.

Baca Juga :  KPU Padang Lawas Gelar Karnaval Damai Beserta 12 Parpol Peserta Pemilu

Setelah sampai di rumah, dirinya menceritakan kejadian tersebut kepada orang tuanya yang sudah sangat khawatir seharian karena putrinya tersebut tidak pulang kerumah dan merasa heran pulangnya tengah malam dengan kondisi kusut dan menangis apalagi selama menghilang seharian.

“Saya kebingungan melihat Destriani belum pulang. Saya hubungi HPnya terus-menerus tapi gak aktif, ternyata sim card HP putri saya sudah dirusak oleh para penganiayanya tersebut dengan tujuan agar dirinya tidak bisa dihubungi oleh siapapun,” tambah Ali Sati, Minggu (13/9).

Desriani menduga jika kejadian tersebut berawal ketika NS meminjam uang kepada dirinya sebesar Rp1 juta Minggu (6/9) lalu, kemudian dirinya meminjamkan uang tersebut kepada temannya dengan perjanjian uang tersebut harus dikembalikan secepatnya pada Rabu (9/9), dan ketika dirinya memintanya kepada NS yang bersangkutan belum bisa mengembalikan dan akhirnya mereka berdua bertengkar mulut hingga akhirnya NS memberikan sebuah HP untuk membayar utangnya tersebut. Namun setelah itu, tutur Desriani, dirinya selalu diancam dengan pesan singkat yang masuk ke HP-nya hingga akhirnya terjadilah kejadian tersebut.

Atas kejadian tersebut Destriani mengadu ke Polresta Padangsidimpuan, Jumat (11/9) lalu dengan dugaan penyekapan dan penganiayaan yang dilakukan oleh 5 rekannya sendiri sebagai staf KPU Padangsidimpuan.

Sementara itu, NS yang dihubungi melalui telepon selulernya kepada METRO, Minggu (13/9) membantah semua kejadian tersebut dimana dirinya mengatakan bahwa dirinya secara baik-baik membawa korban ke dalam mobilnya untuk membicarakan permasalahan dirinya secara pribadi dengan korban, tapi bukan karena soal hutang, namun persoalan kekasih.

NS juga menegaskan bahwa dirinya bersama dengan teman-temannya yang lain tidak ada menyentuh korban sedikitpun, selain itu dikatakannya korban diturunkannya secara baik-baik di depan loket ALS sekitar pukul 19.00 WIB.

Baca Juga :  Jalan Protokol Kota Padangsidimpuan Segera Diperbaiki

“Tidak ada pemukulan atau penganiayaan dan tindak pemaksanaan, karena dia (Desriani, red) juga saya ajak baik-baik masuk ke dalam mobil untuk membicarakan sesuatu yang pribadi. Bukan masalah hutang karena saya sudah membayarnya jadi apa yang dikatakannya itu semua adalah bohong dan karangan dia (Desriani, red) saja,” ungkapnya.

Sementara itu Sekretaris KPU Padangsidimpuan, Pailin kepada METRO, mengatakan bahwa dirinya belum mengetahui secara jelas persoalannya. Walaupun begitu dirinya akan segera mencari tahu dan jika memang benar ada oknum PNS yang terlibat di dalamnya akan diberi sanksi.

“Secara jelas saya belum tahu pasti tapi kalau bisa berdamai sajalah dan mengenai oknum PNS yang terlibat di dalamnya akan kita proses nantinya,” sebutnya.

Kapolresta Padangsidimpuan, AKBP Roni Bahtiar Arief yang di onfirmasi melalui Kasat Reskrim, AKP Iskandar HR melalui telepon selulernya, Sabtu (12/9) membenarkan adanya laporan penganiayaan tersebut dan pihaknya saat ini sedang memintai keterangan dari korban, dan untuk sementara dikenakan pasal penganiyaan ringan.

“Benar ada laporan itu dan saat ini kita sedang melakukan pemeriksaan karena sejauh ini kita belum bisa memastikan kebenarannya,” tukas Kasat Reskrim mengakhiri. (phn)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*