Sepulang Studi Banding, Warga Sepakat Mengganti Mereka – 5 Kades Nagajuang Siap-siap Turun Jabatan

Kemarahan warga di 5 desa benar-benar sudah memuncak atas kepergian kepala desa (kades) mereka secara diam-diam untuk mengikuti studi banding ke Sulawesi dan mereka sepakat untuk mengganti kades mereka. Kemarahan warga ini muncul karena studi banding tersebut adalah undangan dari PT Sorikmas Mining (SM), yang sudah puluhan tahun dianggap musuh oleh warga.

Sebagian besar masyarakat 5 desa di Kecamatan Nagajuang, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) telah sepakat untuk mengganti kades masing-masing setelah pulang studi banding ke Manado, Sulawesi Utara yang didanai PT Sorikmas Mining (SM). Mereka berangkat Sabtu (10/9) lalu. Bukan itu saja, sebagian warga juga menyepakati agar kades keluar dari adat desa. Hal ini disampaikan tokoh masyarakat Nagajuang, Sahminan kepada METRO, Minggu (11/9).

Dijelaskannya, setelah keberangkatan 5 kades studi banding yang ditentang warganya sendiri, saat itu juga warga Najaguang melakukan musyawarah untuk memberikan tindakan mosi tak percaya terhadap kepemimpinan 5 kades tersebut. Kemudian, sebut Sahminan, musyawarah di setiap desa itu dihadiri hampir seluruh warga. Hasilnya, sekembalinya kelima kades yang berangkat, akan dipersiapkan pengajuan pergantian atau pilkades karena masyarakat sudah tak percaya lagi akan kepemimpinan mereka.

”Sejak awal seluruh masyarakat telah menolak keberangkatan studi banding ke Sulawesi. Itu karena yang mengundang adalah PT Sorikmas Mining, dimana masyarakat Nagajuang telah belasan tahun menolaknya. Ketika ada undangan untuk studi banding, kenapa 5 kades itu diam-diam berangkat tanpa diberitahukan ke warga masing-masing. Inilah yang menyebabkan warga melakukan musyawarah untuk melakukan pergantian kepala desa karena dinilai tak memihak terhadap masyarakat,” paparnya.

Kennedy Hasibuan, tokoh masyarakat Desa Tambiski Nauli di Kecamatan Nagajuang yang juga sebagai Kaur Pembangunan di pemerintahan desa itu mengatakan bahwa sebagai aparat desa mereka juga tak setuju atas keberangkatan kadesnya ke Sulawesi karena dianggap melakukan penghianatan terhadap masyarakat. Mengingat penolakan-penolakan sejak belasan tahun hingga sekarang terhadap PT SM.

Baca Juga :  Menko Kesra DR H Agung Laksono Kunker ke Paluta

”Awalnya kami tak tahu kalau ada undangan PT SM ke 7 desa se-Kecamatan Nagajuang. Namun karena sudah ada yang membocorkan, maka kami tanyakan kebenarannya ke kades. Setelah diketahui kami membuat musyawarah dengan masyarakat dan hasilnya seluruh masyarakat menolak keberangkatan itu. Tetapi pak kades tetap ngotot untuk berangkat. Akhirnya atas musyawarah kami, Sabtu (10/9) malam, memutuskan untuk mengeluarkan pak Kades dari paradatan,” ujarnya sembari mengatakan apapun yang terjadi pada para kades, seluruh warga tak akan membantunya.

selanjutnya, Minggu (11/9) tandatangan dari warga desa telah terkumpul dengann isi kesepakatan bahwa kades akan dikeluarkan dari paradatan. ”Kami telah berhasil mengumpulkan sebanyak lebih 100 tanda tangan atas pengeluaran kades dari paradatan. Lalu akan kami musyawarahkan kembali agar diberhentikan. Artinya dilakukan pilkades atau diganti,” tambahnya.

Menaggapi hal ini, Kepala Desa Tambiski Nauli Ahmad Sofian Siregar saat dikonfirmasi METRO, Minggu (11/9) sekira pukul 15.00 WIB mengaku saat ini sedang berada di bandara, Jakarta untuk terbang ke Sulawesi, lokasi yang dimaksudkan PT SM untuk studi banding. Dikatakannya bahwa mereka yang berangkat sebanyak 10 orang ditambah Camat Nagajuang Edi Sahlan. Dari 10 orang tersebut, di antaranya 5 orang kades dan 5 orang tokoh masyarakat. Disebutkan Sofyan, sebelum berangkat dirinya pernah mengadakan musyawarah dengan seluruh masyarakatnya. Namun diakuinya sebagian besar masyarakat menolak keberangkatan itu. Namun karena sudah ada Surat Perintah Tugas (SPT), dia tetap berangkat.
”Memang sebagian warga menolak. Namun saya katakan kepada mereka saya berangkat apabila kades yang lain berangkat. Artinya, kalau lebih banyak yang berangkat dari pada tak berangkat saya akan ikut,” ujarnya.

Baca Juga :  BAH....PAGAR AHA DO I AMANG.....???? untuk Renovasi Pagar Istana Presiden Butuh Biaya 22,5 Milyar....

Dilanjutkannya, persoalan kesepakatan masyarakat yang mau mengeluarkannya dari paradatan, dia tak tahu apakah itu kesepakatan masyarakat secara totalitas atau hanya sejumlah orang saja. Karena dikatakan Sofian, bahwa dia juga memiliki warga pendukung atas keberangkatan itu. ”Masyarakat yang mana yang mau mengeluarkan saya. Saya juga punya pendukung dalam keberangkatan ini. Ini kan tujuannya baik agar diketahui apa dampak tambang sebenarnya bagi masyarakat sekitar. Mudah kali buat mereka mengeluarkan saya,” pungkasnya. Lima kades yang berangkat studi banding tersebut antara lain, Kades Banua Rakyat, Banua Simanosor, Tambiski Nauli, Tarutung Panjang dan Humbang Satu. Sementara kades yang tidak berangkat berasal dari Desa Sayurmatua dan Tambiski Lama. (wan/ara)

Metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*