Seputar Desa Barnang Dilanda Deman Chikungunya

Jumat, 06 November 2009 – www.metrisiantar.com

Dinkes: Hanya Demam Biasa
TAPSEL-METRO; Sekitar 50 persen warga Desa Barnang Koling, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapsel yang diserang sakit mirip gejala chikungunya dalam dua bulan terakhir ini bukan penyakit chikungunya, tapi sakit demam biasa.

Hal ini ditegaskan Kepala Bidang Pengendalian Masalah Penyakit (PMK) Dinas Kesehatan Kabupaten Tapsel, dr Ismail Fahmi Ritonga MKes bersama Kasi PPL, dr Sri Khairunnisa kepada METRO, Kamis (5/11) usai tim medis yang dipimpin Kepala Puskesmas Dano Marsabut melakukan pengecekan langsung ke desan tersebut.

“Dari hasil tes medis yang dilakukan pihak puskesmas melalui para pasien dan juga kepala desa, diketahui bahwa penyakit tersebut bukan penyakit chikungunya melainkan penyakit demam biasa saja,” jelas dr Sri.

Namun begitupun, terang keduanya, untuk memastikan laporan dari puskesmas tersebut benar adanya atau tidak, pihaknya akan langsung turun ke lapangan, Sabtu (7/11) depan dan akan sekali lagi melakukan pemeriksaan untuk memastikan, untuk menghilangkan kekhawatiran para warga. Selain itu pihaknya juga berencana akan melakukan pengobatan kepada masyarakat jika memang benar-benar itu penyakit chikungunya.

“Kita akan langsung datang ke lokasi Sabtu (7/11) depan untuk memastikannya. Namun dari laporan Kepala Puskesmas Dano Marsabut dari hasil pemeriksaan yang mereka lakukan itu bukan penyakit chikungunya dan sudah diberitahukan kepada warga dan juga kepala desa agar mereka tidak khawatir. Dan kita perkirakan itu merupakan penyakit demam biasa akibat peralihan cuaca dan pancaroba,” pungkas keduanya.

Baca Juga :  Mahasiswa Lempari Kantor Tambang Emas

Selasa (4/11) lalu, Kepala Desa (Kades) Barnang Koling, Hadan Siregar dan Borkat Siregar (35) mengungkapkan dalam dua bulan terakhir ini sekitar 50 persen warga yang berpenduduk 44 Kepala Keluarga (KK) menderita sakit bergantian dengan gejala persendian terasa ngilu disertai meriang, kepala sakit dan berat serta sulit menggerakkan anggota tubuh mirip gejala chikungunya.

Termasuk juga Masna Pohan (46) dan anaknya Marieti (17) yang masih terbaring ketika disambangi METRO di rumahnya mengungkapkan sudah mengalami penyakit tersebut sekitar seminggu, namun akibat keterbatasan dana, ibu 9 anak yang baru sebulan di tinggal mati suaminya tersebut belum mendapatkan perawatan dari Tenaga Kesehatan akibat belum punya biaya, bahkan dua hari belakangan putrinya Marieti mengalami sakit dengan gejala yang sama yang awalnya dimulai dengan kepala terasa sakit.

“Parsendian sude hacit inda targulotkon (persendian semua sakit, tidak tergerakkan), pat dohot pamatang borat (kaki sama badan berat), ulu hacit muse dok-dok (kepala sakit dan berdenyut-denyut), marubat inda adong biaya dope hepeng anggi (berobat belum ada biaya sama uang adek), sojungada karejo (belum bekerja lagi),” keluhnya.

Di mana warga menyebutkan sulit berobat karena jarak tempuh ke Desa Saba Tarutung sekitar 7 kilometer, mengingat selama 10 tahun terakhir ini tenaga kesehatan di desa mereka tidak ada. (phn)

link: https://apakabarsidimpuan.com/2009/11/seputar-desa-barnang-dilanda-deman-chikungunya/

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 13 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Petani Minta Irigasi Batang Ilung Diperbaiki

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*