Seputar Kontroversi Tentang Sebutan Batak: Sebaiknya Azhari “Dilawan” Dengan Data

Oleh: Shohibul Anshor Siregar *)

batak Seputar Kontroversi Tentang Sebutan Batak: Sebaiknya Azhari “Dilawan” Dengan Data
Suku Batak (google.com)

Temuan riset Antropolog Ichwan Azhari tentang eksistensi Batak yang dipublis ke media pekan lalu akan menjadi kontroversi berkepanjangan terutama di kalangan orang Batak. Bagaimana pun juga, Ichwan Azhari telah meruntuhkan segala macam mitos yang dipegang teguh selama sekian lama, dan penjelasannya  tentang Batak sebagai julukan yang konon stigmatif cukup mengguncang.

Namun saya sebagai orang Batak sangat berkeinginan untuk secara dewasa menerimanya, dan satu-satunya jalan untuk “melawan” Ichwan Azhari hanyalah data. Hanya saja Ichwan Azhari dalam menginterpretasi data-data tersedia harus secara cermat membedakan kepentingan data intelijen dan data ilmiah para akademisi. Itu amat penting bagi ilmuan di negara-negara bekas jajahan.

Dalam komponen akademisi saja masih perlu dipilah antara yang mengabdi kepada kepentingan penguasa dan yang mengabdi untuk kepentingan ilmiah semata. Ilmu sosial telah mencatat keajegan pengabdian “pelacuran” terhadap penguasa betapa pun zalimnya, dan begitu penguasa zalim itu runtuh secepat kilat pula ilmuan sosial tertentu membentengi diri antara lain dengan mencerca penguasa yang baru diruntuhkan.

Tetapi saya yakin Ichwan Azhari berjalan dalam koridor ilmiah yang objektif. Juga saya yakin bahwa sebagai ilmuan sosial tentu ia pun akan amat terbuka dengan sanggahan, karena itu menjadi bagian dari integritas seorang ilmuan.

Distorsi
Tahun 1985 saya pernah menulis tentang Sisingamangaraja XII, dan diakhir tulisan itu saya nyatakan bahwa dalam konteks Pahlawan Nasional asal tanah Batak ini H Mohammad Said, pendiri Harian Waspada, termasuk orang pertama dari kalangan intelektual Indonesia yang mencoba merintis pendekatan baru dalam menuliskan segala sesuatu tentang diri sendiri (bangsa Indonesia) yang eks jajahan. Di belakang H Mohammad Said mungkin kita bisa mencatat Aqib Suminto. Kini Ichwan Azhari muncul seolah melakukan debungking (penjungkirbalikan) pemahaman. Ini dapat disebut meneruskan rintisan para pendahulu tersebut.

Baca Juga :  Kita, Indonesia, Dalam Catatan Google

Apa yang dilakukan oleh Urli Kozok, seorang ilmuan asal Jerman, adalah sesuatu keistimewaan pula. Ia memberi suatu perspektif baru tentang perang Batak dan uniknya karena ia berasal dari Jerman, bahkan sekampung halaman dengan IL Nommensen, missionaries paling berhasil di Tanah Batak.

Baik Mohammad Said, maupun Naqib Suminto, Ichwan Azhari dan Urli Kozok adalah intelektual yang memberi sesuatu yang berbeda kepada masyarakat di tengah kesadaran besarnya distorsi (penyimpangan) tentang sejarah dan pemahaman tentang jati diri sebagai bangsa bekas jajahan.

Temuan Ichwan Azhari
Sebagai identitas etnik sebutan Batak ternyata tidak berasal dari orang Batak sendiri. Orang luar, yang oleh Ichwan Azhari disebut secara halus “para musafir barat”, telah berusaha mengkonstruksi makna baru yang berbeda dengan apa yang pernah disarankan oleh van Der Tuuk, miisionaris Belanda yang lama bermukim di Tanah Batak sebelum kedatangan IL Nommensen.

Temuan Ichwan Azhari menunjukkan bahwa pengukuhan nama Batak terjadi sekitar tahun 1860-an saat misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak.

Ichwan Azhari adalah ilmuan sosial muda dari Unversitas Negeri Medan (Unimed) yang sebelum mengungkapkan temuannya terlebih dahulu melakukan riset mendalam di Jerman. Ia telah memeriksa arsip-arsip yang ada di Wuppertal, Jerman, baik yang tersimpan dalam pustaha, atau tulisan tangan asli Batak, maupun bahan-bahan lainnya.  Sebuah institusi penting KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau the Royal Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) di Belanda juga telah memberinya keleluasaan untuk risetnya. Dia juga mewawancarai sejumlah pakar Kebatakan di Belanda dan Jerman seperti Johan Angerler dan Lothar Schreiner.

Baca Juga :  FRAKSI SIPIROK, DPRD TAPSEL

—————————————–

*)Penulis: dosen sosiologi politik FISIP UMSU, Koordinator Umum ‘nBASIS
sohibul Seputar Kontroversi Tentang Sebutan Batak: Sebaiknya Azhari “Dilawan” Dengan Datan’BASIS adalah sebuah Yayasan yang didirikan tahun 1999 oleh sejumlah akademisi dan praktisi dalam berbagai disiplin (ilmu dan keahlian). ‘nBASIS adalah singkatan dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya dan memusatkan perhatiannya pada gerakan intelektual dengan strategi pemberdayaan masyarakat, pendidikan, perkuatan basis ekonomi dan kemandirian individu serta kelompok.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. temuan itu mudah2an ada mamfaatnya… tapi kalau cuman thn 1860an mmmmm pertanyaannya kalau sesuatu tarombo sudah berada diangkatan nomor 15/keturunan 15 dan asumsi satu angkatan berselisih 20 tahun atau lebih … kira2 nyambung ngak tuh tahun…. terus apa arti Tarombo si Raja Batak itu sendiri????…. he.aha.a.a lagian kira2 apa mamfaatnya memperdebatkan itu yah…. satu hal yang perlu dibanggakan dari masyarakat Batak adalah mungkin salah satu suku di Indonesia ini yang sering mengatakan BANGSA BATAK dalam arti menunjukkan bahwa batak itu ada beberapa daerah, kalau bangsa jawa, bangsa kalimantan, bangsa irianjaya sih belum pernah dengar….

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*