Serba-serbi Ujian Nasional Hasil Liputan 6

Pengawasan UN Gunakan CCTV
Liputan6.com, Jakarta: Sekolah Menengah Pertama Negeri 49, Jakarta Timur, mengandalkan teknologi close circuit television (CCTV) yang dipasang di berbagai sudut kelas untuk memantau pelaksanaan ujian nasional (UN), Rabu (31/3). Sehingga, kepala sekolah dan para guru bisa ikut mengawasi dari ruangan khusus. Tujuan, agar UN berlangsung secara jujur dan terbuka.

Sementara di Mandailing Natal, Sumatra Utara, seorang siswa terpaksa mengikuti UN di dalam mobil. Pasalnya, ia mengalami kecelakaan hingga kaki sebelah kanannya patah. Di lokasi lain, sejumlah siswa terlambat tiba di sekolah lantaran jalan menuju sekolah dikepung banjir.

Di Tasikmalaya, Jawa Barat, seorang siswa tidak bisa mengikuti UN. Sebut saja namnya Restu. Ia harus berurusan dengan polisi setempat lantaran merusak toko, warnet, dan rumah warga.(ASW/SHA)

Kunci Jawaban Diselipkan di Rok dan Dasi
Liputan6.com, Depok: Jawaban ujian nasional (UN) tingkat sekolah menengah pertama di salah satu sekolah swasta di Depok, Jawa Barat, diduga bocor, Selasa (30/3). Para siswa mengaku telah mendapatkan jawaban UN di pagi hari sebelum ujian dilaksanakan. Mereka mengaku mendapatkan jawaban dari siswa lainnya.

Kunci jawaban disembunyikan di dalam kelas dengan berbagai cara. Para siswi menyembunyikannya di lapisan rok, sedangkan siswa laki-laki menyelipkan di dasi. Menurut pengakuan salah seorang siswa, kunci jawaban diperoleh dari para guru di lembaga bimbingan belajar. Kepala Bagian Operasional Kepolisian Resor Depok Komisaris Polisi Dramayadi menyatakan hingga kini pihaknya masih menyelidiki dugaan kebocoran ini. Ia meminta pihak sekolah melaporkan kasus tersebut ke Dinas Pendidikan setempat.(YNI/ANS)

Perjuangan Siswa Pulau Terpencil untuk Bersekolah
Liputan6.com, Polewali Mandar: Semangat puluhan anak di pulau terpencil di Polewali Mandar, Sulawesi Barat pantas diacungi jempol. Betapa tidak, sejak pukul 04.00 WITA atau subuh dini hari, para siswa sudah bangun dan mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah mengikuti ujian nasional. Mereka kemudian membuka-buka buku mata pelajaran yang akan diujikan untuk sekedar menyegarkan ingatan.

Baca Juga :  316 TKI di Arab Akan Dibebaskan, 23 Terancam Pancung

Terbatasnya sarana angkutan perahu antar pulau juga menyebabkan para siswa kerap harus menuggu perahu berjam-jam sebelum berangkat ke kota. Tak sedikit siswa di antaranya sering terlambat ke sekolah karena ketinggalan perahu. Para siswa di pulau biasanya berangkat rombongan dengan perahu angkutan yang dikenal warga dengan sebutan taksi. Taksi baru berangkat jika jumlah penumpang lebih dari lima orang.

Tiba di dermaga, para siswa langsung turun dan membayar ongkos sebesar Rp 3.000 kepada pemilik taksi. Sebagain siswa masih harus berjalan kaki dari dermaga ke sekolah mereka, sementara siswa yang sekolahnya lebih jauh dari dermaga masih harus menggunakakan angkutan umum ke sekolah masing-masing.

Keadaan tersebut membuat pihak sekolah prihatin. Salah satunya guru dari Sekolah Menengah Pertama Al-Ma’Aruf Umar misalnya yang mengakui sulitnya tantangan para siswa di pulau-pulau terpencil menempuh ujian nasional. Para guru juga sebetulnya sudah menganjurkan siswanya agar menumpang sementara di rumah keluarganya di kota agar tidak terlambat mengikuti ujian. “Para siswa yang terlambat datang ujian, tidak diberi perpanjangan waktu menyelesaikan soal-soal ujian,” kata seorang guru.

Hal tersebut semakin parah jika kondisi cuaca buruk yang tidak menentu. Keadaan tersebut kerap menjadi hambatan para siswa di pulau terpencil. Namun demikian, demi pendidikan, jarak yang jauh dan kondisi medan yang sulit terutama saat cuaca buruk tidak menyurutkan semangat mereka menuntut ilmu.(BJK/AYB)

Ada Lembar Jawaban di Tong Sampah
Liputan6.com, Serang: Kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di SMP Negeri 3 Kota Serang, Banten, Selasa (30/3) terungkap. Lembar kunci jawaban mata pelajaran Bahasa Inggris tercecer di tong sampah. Pengawas independen juga melaporkan adanya kunci jawaban dalam bentu pesan singkat (SMS).

Saat diminta konfirmasi, para siswa mengaku membeli kunci-kunci jawaban itu sebesar Rp 500 ribu per mata pelajaran. Menurut pihak pengawas indepeden, kunci jawaban UN banyak beredar ke sejumlah SMP di Kota Serang. Padahal telah diberlakukan pengawasan yang ketat dan diawasi polisi.(AIS)

Sumber: www.liputan6.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Kerukunan Beragama - Para Pendeta di Aru Nyanyikan Mars MTQ

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*