Setahun Kepemimpinan Syahrul Pasaribu Belum Sentuh Masyarakat

Medan, (Analisa). Tapanuli Selatan (Tapsel) adalah kabupaten dari akumulasi desa dalam pengertian sangat agraris, dengan segenap ketidakberdayaan masyarakatnya dalam bidang yang secara nasional kerap dianak-tirikan.

Dengan “memerdekakan” Padang Lawas Utara (Paluta) dan Padang Lawas (Palas), Tapsel baru adalah daerah yang lebih kecil dengan permasalahan kompleks. Di sinilah terdapat jalan buruk Aek Latong yang menjadi noktah nasional itu, sekaligus dapat menggambarkan betapa tertinggalnya Tapsel dilihat dari pembangunan infrastruktur.

Saat ini Kabupaten Tapanuli Selatan terdiri dari 14 kecamatan dipimpin H Syahrul M Pasaribu, Kamis kemarin (12 Agustus) tepat satu tahun Syahrul memimpin. Setelah terpilih dan dilantik masyarakat berharap akan adanya perubahan yang signifikan dan akan terwujud, jika pemerintah daerah serius dengan bertahap menggarap semua aspek dan jenis pembangunan sesuai dengan peruntukan yang berujung pada penentuan skala prioritas.

Namun tetap saja masih banyak rakyat Tapsel belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya, bahkan kepemimpinan Syahrul sama sekali tidak menyentuh masyarakat, kata Azmar Zunawi Harahap, Ketua Komite Masyarakat Intelektual Masyarakat Tapsel (Komit Tapsel), kepada wartawan Jumat (12/8).

Lebih lanjut, Azmar menilai sarana infrastruktur jalan masih banyak tidak tersentuh, bisa dilihat sarana transportasi ke Tangga Batu di Kecamatan Angkola Barat, Tandihat di Angkola Selatan, Mandalasena di Kecamatan Saipar Dolok Hole, Sihulambu, Tapus Nabolak, Guttingpege, Silangge di Kecamatan Aek Bilah, Tano Ponggol, Aek Nabara di Kecamatan Arse, Luat Harangan di Kecamatan Sipirok, dan banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu, Syahrul harus jujur dengan keadaan itu.

Isu Besar

Sementara itu Shohibul Anshor Siregar mencatat dua isu besar dalampemerintahan Syahrul-Rapolo dalam setahun ini. Isu pertama yang menjadi titik andalan komunikasi politik Syahrul setelah dilantik ialah tentang warisan defisit puluhan milyar rupiah. Semua pihak dibuat tahu soal ini yang tampaknya dimaksudkan untuk melukiskan betapa bobroknya pemerintahan lokal sebelumnya dan betapa sulitnya mencari solusi untuk akselerasi pembangunan Tapsel. Isu ini menebar pesemisme yang dalam.

Tetapi yang tersiar kemudian ialah bahwa Syahrul hanya berhasil meneriakkan hal ini untuk semacam kepentingan “rengek-rengek” seputar peluang memperoleh kucuran dana internal (pemerintahan), apakah provinsi atau pusat.

Baca Juga :  Ketua DPR: Penangkapan Susno Akan Bikin Warga Takut Melapor

Lobby untuk ini menjadi ujian pertama bagi Syahrul yang kerap mengingatkan banyak orang tentang pengalamannya sejak tahun 1980-an di lembaga legislatif. Sampai kini lobby itu masih belum terlihat melebar ke sayap lain, katakanlah untuk mengundang investasi dari pihak wiraswastawan. Ini penting dicatat, karena jika di suatu daerah kelompok pengusaha yang berjaya hanyalah karena keberuntungan akses khusus ke APBD, sebetulnya tak ada yang harus dibanggakan tentang itu, kata Shohibul juga Dosen Sosiologi Politik, Fisipol UMSU ini.

Setelah isu warisan defisit anggaran puluhan milyar hilang ditelan arus informasi yang silih berganti, isu berat kedua mengemuka tentang pemindahan ibukota dan pusat pemerintahan Tapsel dari Kota Padangsidimpuan ke Sipirok.

Seperti Tamu

Di kantor yang ditempati sekarang, Bupati dan seluruh aparatur tentulah seperti tamu saja dengan keterbatasan nyata. Mereka tak memiliki kewenangan sama sekali jika selangkah saja mereka keluar dari kantor itu. Katakanlah listrik mereka padam, air leding macet, atau kantor yang mereka tempati itu kebanjiran karena selokan tumpat. Para tamu di Kota Padangsidimpuan ini, hanya dapat menunggu “kebaikan hati” dinas-dinas Pemko Padangsidimpuan untuk membantu mereka. Ini mirip dengan sebuah pemerintahan di pengasingan. Tetapi begitupun Syahrul tak mau pindah, tuturnya.

Syahrul sendiri dan orang-orang dekatnya tentu tidak akan mengakui bahwa mobilisasi dukungan terhadap kemenangan dari incumbent, yang merupakan kejadian langka dalam perhelatan politik di Indonesia, terkait erat dengan sikap Ongku P Hasibuan yang tak mau memindahkan pusat pemerintahan ke Sipirok.

Tetapi banyak orang yang percaya bahwa dengan kasus ibukota ini Syahrul sedang menggali “kuburan” politiknya sendiri. Lagi pula, konflik seperti ini bukan tidak menyita banyak energi dan potensil pula mendasari mudahnya kemunculan konflik-konflik lain sebagaimana tersirat dipantangkan oleh Syamsul Arifin saat melantik Syahrul setahun lalu.

Diharapkan Syahrul tidak kehabisan waktu di Kilang Papan (lokasi pertapakan kantor Bupati yang ia rencanakan), dan obligasi moral memajukan Tapsel secara akseleratif sesuai harapan masyarakat tidak pernah surut. Tetapi satu tahun pemerintahan Syahrul-Aldinz ini masih belum menampakkan fakta-fakta yang pantas diacungi jempol, pungkasnya.

Baca Juga :  Melihat Tradisi Kaum Bapak di Acara Pesta

Sementara itu pemuda Tapsel Faisal Reza Pardede mengatakan, kepemimpinan Syahrul-Rapolo harus tetap didukung, tetapi jangan lupa juga harus tetap diingatkan agar bila bertindak tidak di luar ketentuan.

Ideal

Terkait ibukota Faisal menilai pusat pemerintahan yang paling ideal adalah lokasi atau wilayah yang aksebilitasnya mudah dijangkau rakyat, jika tidak tepat menempatkannya akan terjadi hight cost economy baik bagi rakyat maupun pemerintahnya sendiri.

Dalam penentuan lokasi ibukota PP 78 Tahun 2007 bisa menjadi pertimbangan yang terukur, namun jika bupati bersikeras pusat pemerintahan tetap di Kawasan Hutan Kilang Papan sampai ke Tolang diperkirakan terjadi degradasi pembangunan di Tapsel. Hampir tidak ada fasilitas pendukung di sana.

Sedangkan sekitaran Kota Sipirok telah dipersiapkan menjadi ibukota kabupaten dari tahun 1990, telah ada fasilitas pendukung lainnya seperti Sekolah SD sampai SMA, PDAM, RSUD Tapsel, jaringan komunikasi, layanan perbankan, pusat perdagangan, rumah ibadah. Sedangkan di kawasan yang direncanakan pemkab belum ada apa-apa sehingga tidak akan berkembang karena terlalu jauh dari pusat kegiatan masyarakat. (sug)

Sumber: www.analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*