Shohibul Anshor Siregar: Belajarlah Dari Pengalaman dan Mulai Menentukan Sikap

Shohibul Anshor Siregar: Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Litbang dan Hikmah Kebijakan Publik PWM Sumatera Utara

Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Litbang dan Hikmah Kebijakan Publik PWM Sumatera Utara Shohibul Anshor Siregar meminta warga Muhammadiyah dapat memetik pelajaran berharga dari pengalaman politik lokal di Sumatera Utara paling tidak dari kurun 5 tahun terakhir.  Hal itu dikemukakannya saat membuka Musyawarah Daerah II Muhammadiyah Kabupaten Batubara, Ahad (27/03).

Hasrat politik elit tertentu dalam Muhammadiyah dalam kurun 5 tahun terakhir benar-benar membuat Muhammadiyah seperti komoditi saja. Dampak yang buruk terlihat pada terbengkalainya agenda-agenda substantif dalam  bidang dakwah, sosial dan pendidikan.

”Saatnya menentukan sikap untuk berhenti membincangkan kekuasaan tanpa memikirkan modalitas. Adalah lebih terhormat mempersiapkan pribadi-pribadi warga Muhammadiyah sebagai anggota civil society ketimbang menjadikannya sebagai komoditi politik sebagaimana cenderung digandrungi dalam arena politik lokal dalam kurun 5 tahun terakhir.

Meski mungkin saja saat ini akan jauh lebih bermanfaat mendiskusikan jabatan Kepala Desa, Lurah atau bahkan Kepala Lingkungan bagi warga Muhammadiyah ketimbang jabatan Gubernur, Bupati, Walikota dan bahkan Presiden”, namun di atas segalanya mempersiapkan kecerdasan politik warga Muhammadiyah sebagai kelompok civil society jauh lebih penting.

Partai Politik. Tanpa mengabaikan benang merah hubungan historis dan idiologis dengan Partai Amanat Nasional, Siregar mengakui bahwa hubungan Muhammadiyah dengan partai politik akan selalu menjadi persoalan yang dinamis.

”Kepentingan Muhammadiyah akan tetap lebih pada pengakomodasian aspirasi masyarakat yang sama sekali tidak selalu diukur dari model-model agregasi keanggotaan yang tidak mencerdaskan sebagaimana terlihat dalam keajegan 5 tahun terakhir”.

Baca Juga :  Kapolres: Polisi Tidak Tolerir Aksi Blokir Jalan Bandara Kualanamu

Model agregasi politik kontemporer di Indonesia amat mengecewakan, nyaris tanpa moral dan cenderung mencontohkan pola penghalalan segala cara (Machiavelli). Transaksi menjadi nafas utama, dan jahatokrasi (kekuatan jahat) lebih dominan ketimbang demokrasi yang bahkan cuma berhasil diterapkan sebatas prosedural belaka”.

Muhammadiyah berkepentingan terhadap politik dan akan selalu memberi pengaruh untuk kemaslahatan negara dan bangsa, pungkasnya. (SAS)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*