Shohibul Anshor Siregar: Indonesia Butuh Pemimpin Yang Tidak Menyandera Bangsa

Google

Keresahan seorang pemimpin hendaknyalah tidak terletak pada berapa puluh digit sisa depositonya di bank, dan seberapa banyak kekayaan negara yang akan dicurinya lagi besok pagi. Demikian Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS) dalam diskusi memperingati Harkitnas yang diselenggarakan organisasi itu Kamis malam di Medan.

”How green your valley, how rich your country, but how poor your people”. Betapa hijaunya seluruh lembah tanah airmu, betapa kaya raya negerimu, tetapi betapa miskin rakyatmu hingga kini. Itulah yang mesti selalu hadir dalam benak para pemimpin Indonesia, yang harus selalu memburunya saat duduk, berdiri, berjalan dan bahkan sampai saat tidur seperti menyesali dan menyumpahi diri sendiri karena telah gagal memberi yang terbaik bagi rakyat, tegas Shohibul Anshor Siregar.

Selain maraknya korupsi yang sudah mendarah-daging, coba hitunglah berapa juta lagi yang terbiasa hidup 8 jam tidur pulas, 8 jam bekerja malas-malasan, dan 8 jam istirahat sambil ngerumpi, berjudi togel atau menghadapi papan catur. Memang tak bisa berdamai dengan keadaan dan tak kunjung tibanya kebijakan yang merubah nasib, sejumlah orang berjanji kepada diri sendiri untuk berjihad di mancanegara sebagai TKI, dan sebagian mereka memang dikirim pulang dalam peti mati. Kembali kita bertanya kepada diri kita ”How green your valley, how rich your country, but how poor your people”.

Secara paradoksal, pertanyakanlah secara serius berapa ratus ribu elit politik yang kebanyakan waktunya dihabiskan untuk berpikir membuat kejahatan terhadap negara. Mungkin juga mimpi orang inipun penuh adegan kejahatan terhadap masyarakat. Jangan-jangan dalam ritus keagamaan yang ia jalani batinnya pun lebih sering dikuasai oleh pemikiran jahat yang menghalanginya “bertemu” Tuhan. Jika orang ini nanti terlambat taubat, maka tuhanpun tidak akan “mengenalnya” kecuali sebagai pengikut setan.

Baca Juga :  Lima Calo CPNS Berhasil Diringkus

Klenikisme. Percaya kepada datangnya wangsit dan klenik sebagaimana lazim dalam perpolitikan Indonesia akan mengantarkan bangsa ini ke alam lain yang menghindari masalahnya sendiri. Karena itu hari ini ucapan dan lakon orang besar terasa semakin penting karena tergerusnya idiologi dengan pragmatisme dan formalisme nasionalisme yang amat memalukan di antara elit bangsa. Tegak di antara bangsa-bangsa tidak dibuktikan oleh Bung Karno dengan sekadar seremoni (konferenasi Asia Afrika) di Bandung pada tahun 1955. Ia tidak sekadar mengajak semua orang menghargai hidup dan membangun martabat masing-masing tanpa mengorbankan siapapun. Ingatlah sebuah kontroversi besar Indonesia ketika keluar dari PBB di bawah kepemimpinan Soekarno.

Kemandirian sebuah bangsa amat penting. Perhatikanlah Ahmadinejad. Ia bukanlah seorang emosional ketika menantang Obama debat terbuka di depan media soal akar masalah kerumitan dunia internasional dan menegaskan satu-satunya solusi hanyalah mengakhiri dominasi Amerika plus kapitalisme yang sudah bersejarah ratusan tahun. Kalian bicara apa? Nuklir? Mengapa saya tak bisa sedangkan kalian mencari keuntungan dalam nuklir? Apa yang kalian tahu tentang terorisme selagi kita tak bisa membedakan Osama dan Obama? Apa yang kalian fahami tentang rasisme selagi Israel dengan perdana menteri pembunuh terlatih, dengan perlindungan PBB dan badan-badan dunia lainnya serta aliansi-aliansi lain di bawah hegemoni Amerika masih tegak menghambat dialog? Itu kemarahan Ahmadinejad yang secara serius ingin digantikan oleh Amerika dengan boneka mereka sebagaimana diperagakan di berbagai belahan bumi lain tak terkecuali di Timur Tengah.

Baca Juga :  Inilah Kejanggalan Kasus Antasari

Pada bagian akhir ceramahnya Shohibul Anshor Siregar yang juga dosen sosiologi politik FISIP UMSU ini menegaskan bahwa pemimpin sejati harus menangis saat rakyatnya tak dapat sekolah. Ia tak boleh puas memuji diri dan memancing pujian kultus individu untuk dirinya. Biarlah angka-angka statistik sekadar cocok untuk introductory dalam menentukan entry point menyelesaikan pekerjaan serius menanggulangi kemiskinan rakyat. Filosofi bernegara tetaplah harus diasah setiap waktu agar tak bisa terjebak dalam kenaifan seperti tragedi menggantung dasi di leher pada saat celana dan baju belum dimiliki, sebagaimana tergambar pada dilema Ujian Nasional yang penuh penipuan diri. Lagi pula siapa yang percaya terhadap ujian jika ijazah pun lazim diperjualbelikan?

Pemimpin yang tahu prioritas tidak sekadar berdiri paling depan pada setiap seremoni dan dengan senjata ampuh birokratisasi menggenggam psikologis banyak orang tak ubahnya pion di atas papan catur, pungkasnya. (SAS-email)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*