dr Ria Novida Telaumbanua br Sihotang MKes: Siantar Harus berubah!!

Pematangsiantar , Dr Ria Novida Telaumbanua Br Sihotang MKes mengatakan, pemerintah dan rakyat harus sama-sama berubah. Kita ingin kota yang indah, bersih dan damai, dengan status ekonomi masyarakat yang membaik. Tidak ada demonstrasi yang anarkis, tidak ada pengangguran, tidak ada ketidakadilan, tidak ada perampasan hak. Itu harapan semua walau kadangkala pesimis untuk digapai. Kondisi saat ini telah sampai kepada masa transisi yang “rawan”, dimana semua masyarakat apatis akan datangnya suatu kebaikan dalam kehidupan. Bahkan ketika kita menyampaikan suatu konsep perubahan pun, masyarakat hanya mentertawakan, karena dianggap hanya janji-janji gombal seseorang yang ingin menduduki suatu jabatan seperti yang lalu-lalu. Setelah menduduki tempat yang empuk, apa ada yang menunaikan janjinya? Hanya alasan yang selalu didengar sebagai jawaban.

Ketika mengunjungi sebuah permukiman yang kumuh di salah satu sudut kota, saya menemukan banyak anak-anak yang penuh dengan luka infeksi di sekujur tubuh akibat penyakit kulit yang kronis. Anak-anak di daerah tersebut rata-rata kurus dan kerdil dibandingkan umurnya, Banyak balita yang kurang gizi termasuk ibunya. Setelah menelusuri lingkungan pemukiman, terlihat sumber penyakit ada pada mata air yang penuh dengan sampah, yang juga merupakan tempat mandi anak-anak dan penduduk. Ketika saya berdialog dengan penduduk, tidak banyak yang antusias, malah melontarkan kata kata dengan sini. Ada banyak ibu yang datang kemari, tanya-tanya, berfoto-foto, janji-janji, tetapi tidak ada realisasi. Tersentak mendengar komentar ini, tetapi sebenarnya itulah realita yang terjadi.

Wajar kalau masyarakat marah dan sinis, karena masyarakat hanyalah korban janji dari para pejabat yang telah mereka dudukkan dikursi empuk. Mereka tidak merasa berdosa jika janji itu tidak mereka penuhi. Ada puluhan lokasi permukiman di Kota Siantar yang dijalani dengan tim sambil melakukan bakti sosial pelayanan pengobatan, ada banyak pula sisi kehidupan yang belum tersentuh yang belum pernah tergambar oleh dunia luar.

Banyak masalah kehidupan yang ditemukan selama perjalanan ketengah masyarakat, banyaknya masyarakat miskin yang tidak mempunyai kartu Jamkesmas, sehingga mereka tidak bisa berobat secara cuma-cuma di rumah sakit. Hak-hak mereka diyakini telah dialihkan kepada orang orang yang tidak berhak. Banyak masyarakat yang terbujur di rumah-rumah karena tidak sanggup berobat, banyak kasus kesehatan yang perlu penanganan operasi tetapi tidak terlaksana, sehingga penyakit itu menjadi bagian dari hidupnya sampai ajal menjelang. Rumah-rumah penduduk yang masih beralaskan tanah, dan jauh dari hunian rumah sehat, apalagi dari penerangan listrik. Transportasi dari kota ke pedalaman terputus karena ruas jalan yang masih dari tanah liat yang sulit dilalui pada waktu hujan. Petani mengeluh, karena tidak ada uang membeli pupuk, dan jika panen hanya tinggal membayar hutang piutang. Ada sekelompok masyarakat yang terus resah dan gelisah karena sumber kehidupan mereka ada di tanah garapan yang sewaktu waktu diambil paksa, atau bahkan ada yang tidak mendapatkan hak ganti rugi, ketika tanahnya di serahkan kepada pihak tertentu. Semakin mendalam menjelajahi kehidupan masyarakat, diketahui banyaknya anak yang putus sekolah, yang hanya sekolah sampai SMP.

Baca Juga :  Kapolda Sumut Izinkan Anggotanya Jadi Agen Togel

“Terasa sesak ketika banyak para ibu mengeluh bahwa suami dan anaknya menganggur, tidak punya pekerjaan tetap. Lebih ironisnya lagi, kalau disatu sisi banyak masyarakat mengeluh tentang susahnya untuk hidup, ada sekelompok masyarakat yang mengeluh sampai hampir menangis, bahwa mereka juga takut mati, karena hak untuk mendapatkan tanah perkuburan juga tidak ada. Betapa mahalnya tanah perkuburan tempat jasad akhir di tanamkan. Tidak akan terbeli karena sewaktu hidup pun juga sudah susah. Akhirnya terlihat perkuburan ada di halam rumah-rumah penduduk, karena mahalnya lahan perkuburan terutama untuk warga kristiani. Terpaksa kami kuburkan di gang ibu dokter, kata seorang guru jemaat salah satu gereja. Mereka pendatang yang menyewa rumah, mereka sangat miskin, tidaklah layak di rumah orang lain dikuburkan jasadnya, tambahnya memelas. Ternyata hak untuk matipun tidak ada lagi di kota ini. Benarkah kenyataan ini?” ungkapnya dengan tegas.

Kehidupan nyata yang menyedihkan dari pinggiran kota, ternyata ada di dalam kota yang sepertinya tidak bermasalah. Ada keluhan para pedagang yang setiap hari resah dengan penggusuran tempat mereka mencari nafkah. Padahal di lubuk sanubari mereka juga tersimpan masalah-masalah yang lebih berat lagi, modal untuk berdagang juga susah untuk didapat, sehingga mereka mau tak mau terjerat pada penggadai atau rentenir yang mencekik leher. “Tidak ada yang tahu betapa besar penderitaan kami, Anak-anak kami juga perlu sekolah seperti anak yang lain, dan kami juga perlu sehat, tetapi dari mana kami dapatkan semua ini? Kalau kami sakit parah saja baru mau berobat, itupun karena belas kasihan teman pedagang ramai-ramai mengumpulkan dana buat perobatan. Kalau kami digusur, kemana lagi kami mencari makan ibu dokter?” kata seorang pedagang yang diucapkan kembali dr Ria Novida Telaumbanua.

Baca Juga :  Di Sumut Terdapat Seribuan Pengidap HIV/AIDS

Pengusaha juga tidak luput dari keluh kesah. “Izin mengeluarkan barang dan mengangkut barang sangat sulit, kata seorang pengusaha ternama dari keturunan Tionghoa. Ada 6 atau 7 izin yang harus saya lewati untuk mengangkat satu produk barang, bayangkan Ibulah” cerita dr Ria. Sudah jelas nilai barang itu menjadi mahal, karena biaya izin dibebankan kepada konsumen yang tak lain adalah masyarakat.

Berjalan menelusuri kekelompok masyarakat kelas menengah khususnya dipemerintahan, tidaklah juga lepas dari sesuatu yang tidak menyenangkan. Keluhan pergantian pejabat yang sangat cepat dan tidak sesuai kompentensinya ternyata sangat meresahkan kalangan pegawai. Tidak ada program yang selesai dengan baik. Tidak akan pernah konsep kerja tergapai dengan situasi yang tidak menentu. Reward terhadap prestasi yang selalu diabaikan, dan kemudahan-kemudahan untuk melanjut sekolah bagi pegawai jarang didapat, bahkan cenderung dipersulit dengan berbagai alasan. Izin untuk sekolah sangat sulit walau membayar sendiri. Wah…! Jika meneropong kekelompok lebih ke atas lagi, terdengar adanya ketidakproporsionalan penempatan pejabat dilihat dari kesukuan, agama dan ras, menyebabkan acap terjadi konflik tersembunyi.

Semua di atas adalah segelintir dari banyaknya persoalan masyarakat yang akan di emban untuk diselesaikan dikemudian hari, sangat berat , namun tidak akan menyurutkan langkah untuk berhenti berjuang. Untuk itulah , saya datang, untuk semua masalah itu saya berjuang, untuk semua suku bangsa, untuk semua golongan, tanpa terkecuali. Dengan rahmat dan ridho Tuhan, dan keinginan kuat berubah ber-sama dari semua pihak, saya yakin kota Siantar akan berubah ke arah yang lebih baik menuju SIANTAR KOTA SEJAHTERA UNTUK SEMUA. (BP/u)
Sumber: http://hariansib.com/?p=124595

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*