Sidang Dugaan Korupsi TPAPD Tapsel Tahun 2005 – Pencairan Triwulan III dan IV Bermasalah

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan enam saksi di sidang lanjutan kasus dugaan korupsi Tunjangan Pendapatan Aparatur Pemerintahan Desa (TPAPD) Pemkab Tapsel tahun 2005 sekitar Rp1.590.944.500 dengan terdakwa mantan Pemegang Kas (PK) Sekretariat Pemkab, Amrin Tambunan, Kamis (18/11).

Menurut tiga saksi yang memberikan keterangan, pencairan dana triwulan III dan IV bermasalah. Sidang dipimpin majelis hakim Efiyanto D SH dengan anggota Erwin Eka Saputra SH dan Tri Saragih SH, dihadiri JPU Sartono Siregar SH, dan Sri Mulyanti Saragih SH, serta terdakwa Amrin Tambunan yang didampingi kuasa hukumnya.

Saksi mantan Kabag Pemerintahan Desa Sekretariat Daerah Kantor Bupati Tapsel, Rustam Efendi Hasibuan yang menjabat bulan Maret 2005-2007, mengungkapkan pencairan TPAPD triwulan I dan II tahun 2005 diajukan melalui nota dinas ke Sekdakab sekitar bulan Juni 2005 yakni Rp2 miliar lebih yang saat itu dijabat Leonardy Pane, yang seingatnya mulai menjabat Plt Sekdakab April 2005 sampai Maret 2006.

Plt Sekdakab meng-acc atau mendisposisikan pengajuan pencairan anggaran TPAPD lebih dari Rp2 miliar ke PK, Amrin Tambunan, dan PK mencairkan uangnya ke Pimpinan Kegiatan yaitu Kasubbag Kekayaan Desa di Bagian Pemdes, Rahmatsyah Harahap.

Seterusnya, dicairkan ke sekitar 1.323 desa di 28 kecamatan se-Tapsel (sebelum Paluta dan Palas terbentuk, red) melalui camat. Di mana uang tersebut pembagiannya untuk Kades Rp100 ribu per bulan, Sekdes Rp75 ribu per bulan, dan 3 Kaur di desa masing-masing Rp65 ribu per bulan.

Baca Juga :  Perlu Adanya Gerakan People Power, Jika UU No 37 dan 38 Tahun 2007 tetap diabaikan Bupati Tapanuli Selatan

“Kalau tidak salah APBD Tapsel tahun 2005 disahkan Mei 2005, nota dinas diajukan setelah APBD disahkan Juni 2005,” ucap Rustam Efendi di depan persidangan yang dimulai sekira pukul 13.30 WIB.

Sementara untuk pengajuan pencairan triwulan III dan IV, kata Rustam, pengajuannya juga melalui nota dinas ke Sekda sekitar bulan Nopember 2005, dan Sekda meng-acc-kan ke PK, yang menurut seingat Rustam diajukan sebesar sekitar Rp2,6 miliar.

Namun, jumlah yang dicairkan PK sebesar sekitar Rp1,147 miliar. Orang mengambil uang sebesar Rp1,147 miliar tersebut juga pimpinan kegiatan yakni Rahmatsyah.

Uang sebesar Rp1,147 miliar itu tidak cukup dan hanya bisa dibagikan untuk desa di 25 kecamatan. Sedangkan tiga kecamatan lagi yaitu Kecamatan Sipirok, Arse dan Siais tidak. “Setahu saya kekurangannya tetap di Kasda,” tuturnya.

Saksi Ajijun Harahap yang menjabat Asisten I dan merangkat Kabag Pemdes mulai Juli 2004-Februari 2005, mengingat ada dana TPAPD di APBD tahun 2004 sebesar Rp5,9 miliar. Sementara pencairan TPAPD triwulan III dan IV tahun 2005, sepengetahuan Ajijun ada permasalahan, karena dirinya mendapat laporan yang saat itu masih menjabat Asisten I.

Disebutkan Ajijun, hingga dirinya diperiksa penyidik Poldasu, kekurangan dana TPAPD tahun 2005 yang belum dibayarkan sekitar Rp1,5 miliar belum disalurkan. Seingatnya, Plt Sekdakab Leonardy Pane mulai menjabat Maret 2005-April 2006, dan Sekdakab tahun 2001 sampai Maret 2005 adalah Rahudman Harahap. Ketika proses pencairan TPAPD tahun 2004 saat dirinya merangkap Kabag Pemdes, triwulan I dan II tersalurkan secara penuh dengan besaran Rp77.500 per bulan untuk Kades, Rp62.500 per bulan untuk Sekdes, dan Rp57.500 untuk masing-masing 3 Kaur di desa.

Baca Juga :  Tuntutan Pedagang Dikabulkan

Sementara untuk penyaluran triwulan III dan IV tahun 2004 ada kekurangan Rp480 juta. Di mana kekurangan dana TPAPD triwulan III dan IV tahun 2004 setelah dilihat buku APBD ternyata tercantum Rp70 ribu per Kades per bulan, Rp60 ribu per Sekdes per bulan, dan Rp50 ribu bagi masing-masing 3 Kaur desa. Ajijun mengaku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi dan di mana kesalahannya. (metrosiantar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*