Sidang Perdana Perampokan Bank CIMB Niaga

Senpi Dijemput ke Lampung Naik Motor

90113813b9468d560c5549f33cef3ffb3cf8f3c Sidang Perdana Perampokan Bank CIMB Niaga
SIDANG TERORIS- Salah satu terdakwa perampokan Bank CIMB Niaga dibawa ke ruang sidang di Pangadilan Negeri Medan, Selasa (29/3).

MEDAN-Sidang perdana perampokan Bank CIMB Niaga Medan dan penyerangan Mapolsekta Hamparan Perak digelar di Pengadilan Negeri Medan, Selasa (29/3). Enam terdakwa disidangkan di ruang sidang utama, Cakra Dua, Cakra Empat, Cakra Enam, Cakra Tujuh, dan ruang sidang Kartika.

Keenam terdakwa yang menjalani sidang perdana yakni Jaja Miharja alias Fadillah alias Hasim alias Syfrizal, Khairul Rizal alias Beben Khairul Banin alias Beben alias Reza alias Abu Ziyad alias Musna alias Ari Saputra alias Samson. Marwan alias Nanong alias Wak Geng, Agus Sunyoto alias Sayafuddin alias Gaplek alias Plek. Jumirin alias Sobirin. Muhammad Khoir alias Butong.

Pantauan POSMETRO (grup METRO), sidang dikawal ketat oleh petugas gabungan TNI/ Polri baik di dalam maupun di luar gedung pengadilan. Sebanyak 671 personel aparat gabungan menjaga ketat PN Medan yang sedang mengadili enam terdakwa teroris, perampok Bank CIMB Niaga senilai Rp340 juta.

Terlihat sejumlah pasukan Brimob bersenjatakan lengkap, baik tameng maupun senpi laras panjang. Tak cuma sekitar gedung pengadilan, penjagaan juga terlihat dalam radius 500 meter dari pengadilan, seperti di kawasan Jalan Kapten Maulana Lubis dan Jalan Imam Bonjol.

Bahkan lima mobil peralatan berat milik Brimobdasu, baik kendaraan water canon, lapis baja rantis, mobil jihandak dan mobil sekuriti barier disiagakan, baik di depan ataupun di belakang gedung PN Medan. Dalam sidang perdana pelaku perampokan bersenjata api di Bank CIMB Niaga yang menewaskan Brigadir Anumerta Manuel Simanjuntak, dan penyerangan Mapolsekta Hamparan Perak yang menewaskan dua anggota Polri, mengagendakan pembacaan dakwaan terhadap keenam terdakwa.

Baca Juga :  Seluruh Penumpang Lion Air Yang Kecelakaan di Bali Selamat

Keenam terdakwa pelaku perampokan bersenjata api yang dikenakan pasal teroris itu disidang di enam ruang sidang yang berbeda. Para terdakwa ini dikenakan dakwaan pasal yang berlapis, salah satunya terdakwa Jumirin yang disidang di ruang Cakra II, yang dipimpin majelis hakim M Nur, Agus Romiko dan Sumabana Hutagalung. Sementara itu Jaksa Penuntut Umum (JPU) nya Antonius Simamora SH.

Dalam pembacaaan berkas dakwaan jaksa penuntut umum mendakwa bahwa Jumirin dikenai pasal berlapis di antaranya pasal pertama primer pasal 15 jo pasal 9 UU RI No 215 No 23 tentang Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1 Tahun 2002 tentang pemberantasan tindak pidana teroris. Dengan subsider pasal 13 huruf B, lebih subsider pasal 13 huruf B UU Pemberantasan Tindak Pidana Teroris atau kedua KUHP 480 ke 1.

“Dalam dakwaan disebutkan Jumirin mendapat tugas sebagai tim survey. Dia bahkan sudah melakukan survey di BRI Cabang Asahan. Namun kejahatan itu tidak sempat dilakukan karena terburu sudah ditangkap,” ujar Antonius seusai persidangan pada wartawan.

Sementara itu jaksa penuntut umum (JPU) lainnya Iwan Ginting juga mengatakan para terdakwa sebelum melakukan perampokan, telah membagi tugas untuk menyukseskan aksinya. Yakni ada yang masuk ke bank, berjaga-jaga di luar bank, dan ada pula yang bertugas melumpuhkan petugas keamanan. “Perampokan tersebut direncanakan hanya berlangsung selama lima menit, kemudian terdakwa dan rekannya melarikan diri dengan sepedamotor dan mobil yang telah diparkirkan tidak jauh dari lokasi perampokan,” ungkap Ginting.

Baca Juga :  Pengeroyokan Wartawan di Madina Dikecam

Lebih lanjut dikatakan Ginting, terdakwa dan rekannya mendapatkan senjata dari seseorang yang berdomisili di Lampung. Di mana, rekan terdakwa menjemput senjata jenis AK 56 langsung ke Lampung dengan mengendarai sepedamotor selama empat hari. “Pembayaran senjata tersebut dilakukan setelah senjata tiba di Medan,” ungkapnya. Kuasa hukum terdakwa, Mahmud Irsad Lubis mengatakan, pihaknya akan mengajukan eksepsi terhadap dakwaan JPU Di hadapan majelis hakim yang diketuai oleh ET Pasaribu, kuasah hukum terdakwa memberikan keterangan tidak semua kliennya terlibat perampokan.

Bukan Teroris

Usai persidangan, Irsad Lubis, menolak kliennya dikatakan teroris. Bahkan dia beranggapan kliennya hanya pelaku perampokan. “Jika teroris, enggak mungkin mau mengintai dua bank dan akhirnya dipilih salah satu pada hari H,” katanya.
“Terlalu dini  mengatakan klien saya teroris,” tambahnya.(rud/sal/pmg) – (metrosiantar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*