Simpang Pining Dipenuhi Lubang

MADINA-Jalan Kabupaten yang menghubungkan Desa Muara Sabut dengan Simpang Pining Kecamatan Ulupungkut Kabupaten Mandailing Natal (Madina) kondisinya rusak parah. Selain jalan tanjakan,  kondisi jalan dipenuhi lubang-lubang dan batu kerikil. Akibatnya sangat  menyulitkan bagi pengguna jalan.

Amatan METRO, Minggu (15/1), selain berlubang, jalan rusak sepanjang lima kilometer ini dikhawatirkan bisa menelan korban. Di samping  itu, kondisi jalan di perparah karena terdiri dari tanah, sehingga kalau hujan, badan jalan sangat licin dan tidak bisa dilalui kenderaan roda empat.

M Ikbal, salah seorang warga Desa Simpang Pining kepada METRO mengatakan, kondisi jalan  yang rusak parah ini sudah berlangsung lama, namun belum pernah mendapat pembangunan, meskipun sudah pernah diaspal beberapa tahun lalu. Namun yang diaspal itupun saat ini sudah rusak.

”Seingat saya, mulai dari Muara Sabut hingga ke desa Simpangduhu Dolok pernah diaspal beberapa tahun lalu, namun  sekarang kondisinya sudah rusak di akibatkan parit jalan yang tidak bagus. Sedangkan mulai dari Simpangduhu Dolok ke Simpang Pining masih dalam kondisi jalan tanah,” ujarnya

Kalau diperhatikan, jalan ini sudah tidak layak lagi digunakan oleh warga beberapa desa di daerah itu, karena kondisinya hancur tidak ubahnya seperti jalan tikus, padahal keberadaannya  sangat penting bagi ribuan warga. “Akibat kondisi jalan yang rusak parah ini, menyebabkan warga  kesulitan membawa hasil bumi ke Pasar Hutagodang atau Kota Nopan. Padahal, desa kami ini  termasuk  penghasil kopi terbesar di Madina,” ucap Ikbal diamini sejumlah warga.

Baca Juga :  Tak Miliki Lumbung dan Penggiling Padi - Produksi Padi dan Kedelai Digudangkan di Rumah

Sebenarnya upaya perbaikan jalan ini, dikatakan warga  sudah pernah dilakukan secara  bergotong royong. Namun karena parahnya jalan yang rusak, upaya warga belum optimal. Untuk itu warga sangat berharap kepada Pemkab Madina segera membangun jalan tersebut.  ”Kami sangat berharap Pemkab Madina membangun jalan ini. Bila hujan, maka sulit dilalui kendaraan, padahal kenderaan sangat dibutuhkan untuk mengangkat hasil bumi. Tidak jarang kenderaan yang lewat harus didorong warga karena terjebak dengan lumpur atau tanah liat yang berada di badan jalan,” ujar warga lain, Nasrun.

Lebih rinci diceritakan Nasrun, untuk tiba ke desa mereka dari simpang Muara Sabut yang berjarak sekitar 5 kilometer itu, warga harus mengeluarkan uang sebesar Rp8 ribu untuk ongkos angkutan menuju desa itu, itupun apabila cukup penumpang. (wan/mer)

Sumber: metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*