Sinabung Masih Status Awas – 8 Gunung Berapi di Sumut Terus Dipantau

Tiga hari pasca memuntahkan lava panas, kondisi Gunung Sinabung masih belum stabil. Kondisi tersebut memaksa  24 ribu lebih pengungsi harus tetap bertahan di lokasi pengungsian.

“Keadaan Sinabung, masih datar-datar saja. Belum dapat dikatakan kearah negatif atau positif. Yang pasti belum  signifikan. Masih tetap berada di level IV, status awas,” ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dr Surono, ketika dihubungi Sumut Pos, Selasa (31/8) siang.

SEKOLAH DILIBURKAN: Para siswa SD terpaksa pulang lebih awal setelah sekolah mereka diliburkan terkait letusan Gunung Sibayak.//AFP PHOTO/SUTANTA ADITYA

Menurut Surono pihaknya masih  harus menunggu  sejumlah perkembangan dan reaksi, yang ditunjukan gunung yang sejak Minggu (29/8) lalu ditetapkan satusnya menjadi tipe A itu.  “Vulkanologi tidak dapat memberi kepastian, vulkanolog bukan  peramal. Kami harus memberikan keterangan yang sesungguhnya bukan perkiraan,” ucapnya.
Menyimpulkan kondisi gunung berapi, menurut Surono ibarat  melihat mendung, Siapapun tidak dapat memastikan apakah turun hujan atau tidak. Oleh karena itu  ujar Surono lagi,   untuk sementara biarkan pihaknya bekerja agar dapat menyimpulkan, status Sinabung.

Sejauh ini sesuai pengakuan Surono, dalam menghadapi gunung  berapi yang berada di ketinggian 2451 m dpl itu, pihaknya tidak menemukan kendala. Fasilitas peralatan dan sebagainya diyakini cukup untuk  melakukan  penelitian. Menurutnya, pihak Pemkab Karo juga  telah sepakat untuk membuat dua pos pengamatan gunung (Sinabung dan Sibayak).

Disinggung hubungan letusan Gunung Sinabung dengan letusaan sejumlah gunung berapi lainnya di Indonesia sebulan belakangan, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, menegaskan tidak ada hubungan. Dia meyakini, kalau kejadian letusan sejumlah gunung berapi, secara kebetulan saja.

“Gunung berapi memiliki karakteristik masing-masing. Dapat dipastikan berbeda satu dengan yang lainnya. Tidak ada hubungan antara satu letusan gunung  dengan yang lainnya, beberapa bulan terakhir di Tanah Air. Kita tetap menghimbau pemerintah tetap bersiaga dan bisa memberikan perlindungan optimal untuk masyarakat dengan semua sumber daya yang ada,” bebernya.

Terkait imbas letusan Sinabung, khususnya bagi gunung api yang ada di Sumut seperti, Gunung Sibayak (Karo), Gunung  Pusuk Buhit (Samosir), Gunung Sorik Merapi (Madina), dan gunung purba di bawah Danau Toba, Kepala PVMBG, menjelaskan tidak akan ada pengaruh. Ditanyakan tentang kondisi gunung tersebut saat ini, khususnya Gunung Sorik Merapi yang juga menyandang tipe A, Surono mengatakan  pihaknya terus melakukan pantauan.

“Seluruh Gunung berapi tipe A di Indonesia, kita pantau 24 jam per hari. Sementara tipe B satu atau dua kali per tahun. Kalau  bagaimana ke depannya, kapan meledak, kami tidak bisa ramal dan pastikan. Gejala yang ditunjukan gunung-gunung tersebutlah yang dapat memberi isyarat kepada kita untuk mengetahui perkembangannya,  kesimpulannya  tidak dapat dipastikan sebelum ada gejolak yang di tunjukan,” katanya.


Tipe Mitigasi Sinabung Diubah

Sementara itu, pemerintah mengubah strategi mitigasi atau pemantauan gunung api Sinabung, Sumatera Utara yang meletus pada Minggu (29/8) lalu. Berdasar laporan dan analisa strategi mitigasi berubah dari tipe B menjadi tipe A karena aktivitas letusan dan sifat gunung api tersebut tidak pernah tercatat sejak tahun 1600. Perubahan status menjadi tipe A berarti aktivitas vulkanik Gunung Sinabung akan dipantau selama 24 jam.

Baca Juga :  Wapres: Pengoperasian Bandara Kuala Namu Jangan Molor

“Berbeda dengan gunung api bertipe B yang dipantau dua kali atau satu kali dalam satu tahun,” ujar kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Surono di Jakarta kemarin.

Surono meminta Pemprov Sumatera Utara dan Pemkab Karo untuk menyediakan pos pengamatan Sinabung. Pihaknya akan melengkapi sumber daya manusia dan kebutuhan teknologi pemantau aktivitas vulkanologi yang akan digunakan untuk memantau dua gunung api sekaligus yakni Sinabung dan Sibayak.

“Sebelumnya kami hanya memantau secara terus menerus gunung api Sorik Marapi yang merupakan tipe A,” kata Surono.

Dia mengatakan, Gunung Api di Indonesia adalah yang terbanyak di dunia dengan 129 gunung api aktif, dan merupakan tipe gunung api yang mendapatkan prioritas dalam strategis mitigasi. Kini pihaknya fokus kepada gunung api tipe A yang jumlahnya cukup banyak yakni sekitar 80 gunung. Sedangkan gunung api tipe B ada sekitar 34 gunung, diantaranya Sibayak dan Sinabung yang berada di Sumut.

“Dengan adanya kejadian Gunung Sinabung meletus, maka seluruh gunung api tipe B akan mendapat perlakukan paling tiak sama dengan pemantauan yang dilakukan terhadap gunung api tipe A,” kata Surono.

Pantauan dan informasi yang diperoleh wartawan koran ini di lapangan, kemarin, tidak ada letusan besar atau lava yang dikeluarkan Sinabung, Pandangan kepulan asap disertai debu vulkanik yang dikeluarkan dari puncak Sinabung, insensitasnya tidak sebesar sehari sebelumnya. Pagi hingga sore hari kawasan puncak Gunung Sinabung mayoritas  tertutup awan.

Sekolah Masih Diliburkan

Sementara itu, 29 unit sekolah yang berada di kaki gunung tersebut terpaksa diliburkan. Para murid meninggalkan bangku sekolah, ikut mengungsi bersama keluarganya masing-masing.

Data dari Posko Utama Penanggulangan Bencana Alam Letusan Gunung Sinabung, menyebutkan sekolah yang masih libur itu terdiri 26 unit SD dan tiga unit SMP.

Gedung-gedung sekolah tersebut kini tertutup debu. Salah satunya adalah SD Negeri 047175, Simacem, Simpang Empat. Bagian atap dan halamannya tertutup debu vulkanik cukup tebal. Tetapi bendera Merah Putih tetap terpasang di tiang bendera di halaman sekolah.

Dinas Pendidikan setempat belum memutuskan hingga kapan kegiatan belajar mengajar di seluruh sekolah tersebut kembali aktif. Kondisinya bergantung pada aktivitas vulkanik Gunung Sinabung, jika sudah aman, maka sekolah akan dibuka kembali.

Sementara itu pengungsi kembali ke rumah masing-masing untuk memberi makan ternak mereka, Selasa (31/8). Selain itu, mereka juga mengamankan perabotan seperti TV ke tempat yang aman. Setelah itu, mereka kembali lagi ke posko.

Pemerintah meminta warga yang bermukim di radius enam kilometer dari kawah aktif Gunung Sinabung harus mengungsi, meski dalam dua hari terakhir gunung ini tenang. Bantuan untuk para pengungsi terus mengalir.
“Bantuan itu diserahkan langsung ke posko utama berupa selimut, handuk, beras, mie instan, makanan bayi, susu, biskuit, masker, tisu, pembalut wanita, air mineral dan lainnya,” jelas Kepala Bidang Humas Pemkab Karo, Jhonson Tarigan di Posko Utama, Jalan Veteran, Kabanjahe, Selasa (31/8).

Baca Juga :  Pemilih tunanetra di Medan antusias mencoblos

Menurut Jhonson, bantuan tersebut akan langsung didistribusikan ke setiap lokasi pengungsian di 17 titik yang tersebar di Kabanjahe, Berastagi dan beberapa kecamatan lainnya di Kabupaten Karo. Termasuk ke lokasi pengungsian Jambur Lige di Kabanjahe.

Namun, para pengungsi di Jambur Lige malah mengeluh kekurangan selimut. Padahal bantuan lainnya, terutama makanan, berlimpah di sana. Akibat kekurangan selimut, para pengungsi terpaksa kedinginan pada malam hari. Apalagi lokasi tersebut berada di Jambur yang merupakan ruangan terbuka tanpa dinding.

“Kami kekurangan selimut. Kalau malam, dingin kali. Apalagi malam kemarin itu hujan. Yang kasihan itu anak-anak sama ibu-ibu,” ungkap Surbakti, salah seorang pengungsi di posko Jambur Lige.

Di posko Jambur Lige sendiri terdapat sekitar 3.000 lebih pengungsi. Mereka terpaksa tidur berdesak-desakan. Belum lagi, jika turun hujan, para pengungsi pria terpaksa harus beristirahat di dalam jambur. Mereka tidak bisa tidur di luar karena diguyur hujan.

Kondisi para korban letusan Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, di sejumlah titik pengungsian mulai mengkhawatirkan. Kementerian kesehatan di Jakarta, menerima laporan kegiatan dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP Medan) di Gunung Sinabung, bahwa lalat sudah mulai terlihat di sekitar tempat pengungsian. Kondisi ini telah dikoordinasikan dengan Dinkes Provinsi.

“Untuk upaya langsung pengendalian vector, maka KKP Medan akan menurunkan petugas pengendali vektor hari ini,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama.

Selain itu, dari hasil pengawasan epidemiologi di lapangan, lanjut Tjandra, dijumpai kasus baru penyakit menular dan tidak menular, antara lain ISPA, diare, gastritis, cefalgia, dan mialgia.

Sementara itu, Tim SubDit Kes Matra dan Subdit Surveilans KLB P2PL, melaporkan bahwa telah dibangun sistem pengawasan setempat. Pos kesehatan setempat melaporkan perkembangan kesehatan setiap pukul 22.00 WIB ke satkorlak dan ke pusat. Kasus tertinggi di beberapa posko kesehatan adalah ISPA dan kongjungtivitis.

Sumber: http://www.hariansumutpos.com/2010/09/60318/sinabung-masih-status-awas.html

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*