Sinabung Terus Semburkan Abu – Pengungsi Belum Boleh Pulang

?Memasuki hari kelima setelah peningkatan aktivitasnya, Gunung Sinabung belum menunjukan tanda-tanda mereda. 27 ribu lebih pengungsi juga belum diizinkan pulang ke rumah masing-masing.

Pasalnya, hingga Rabu (1/9), gunung yang statusnya resmi ditingkatkan menjadi  tipe A itu sejak meletus dan mengeluarkan lava panas, Minggu (29/8) dini hari, terus mengeluarkan asap dan debu vulkanik yang mengandung material.

“Informasi yang kita peroleh dari tim Vulkanologi di lapangan, hingga hari ini (kemarin,red), Gunung Sinabung masih menyemburkan asap, disertai debu vulkanik yang mengandung  material. Semburan asap setinggi 100 meter itu, dibawa angin bergerak dari arah barat daya Sinabung menuju  arah barat laut, persis di atas Desa Mardinding Kecamatan Tiganderket,” ujar Kabid Humas Pemkab Karo, Jhonson Tarigan, kemarin petang.

Jhonson tidak dapat merinci jenis material yang disemburkan gunung dengan ketinggian 2451 meter dpl itu.
“Data yang diberikan tim vulkanologi kepada kami hanya sebatas keterangan kalau  Sinabung, menyemburan asap dan debu yang mengandung debu partikel sedang tebal. Sementara efek dari semburan, diperkirakan  berpotensi  menimbulkan penyakit ISPA,” ucap Jhonson di Media Center, Posko Utama benca Letusan Sinabung, di pendopo rumah dinas Bupati Karo, Kabanjahe.

Sebelumnya, letusan gunung itu mengeluarkan abu vulkanik mengandung belerang dan silicon.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dr Surono yang dihubingi melalui telepon selularnya menjelaskan, hingga kemarin kondisi Sinabung masih berada di level IV, status awas. Sedangkan pantauan wartawan di lapangan,  Gunung Sinabung masih mengeluarkan kepulan asap keabu-abuan. Tinggi jangkauan asap tidak setinggi sehari sebelumnya. Bagian kawah di puncak gunung kerap tertutup awan, seiring pengaruh kondisi cuaca yang kabut.

Pos pemantauan Gunung Sinabung dipindah dari Desa Sukanalu Kecamatan Naman Teran ke Desa Ndokum Siroga Kecamatan Simpang Empat. Menurut Kadis Kesbang Pemkab Karo, Suang Karo-karo, sesuai keterangan pihak vulkanologi, pemindahan dilakukan untuk mempermudah pemantauan. “Tidak ada indikasi lain, sesuai keterangan Pak Surono. Mereka telah menemukan lokasi yang dapat meninjau langsung dua gunung berapi yang ada di Karo (Sibayak dan Sinabung). Dari kawasan  desa Ndokum Siroga, kedua gunung itu dapat dilihat dengan jelas. Lokasi baru, dapat  memantau keduanya. Dalam waktu dekat akan kita bangun pos pemantau permanen” ujar Suang.

Sementara itu, masyarakat diimbau untuk tidak perlu mengkhawatirkan sejumlah gunung berapi di wilayah Sumut akan meletus secara tiba-tiba, sebagaimana terjadi pada Gunung Sinabung. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dr Priyadi Kardono MSc menjelaskan, warga di sekitar gunung berapi bisa mendeteksi secara kasat mata agar bisa mengetahui berbahaya atau tidak gunung tersebut. Dijelaskan, sebuah gunung berapi yang hanya ada awan putih di atas puncaknya, maka itu berarti dalam kondisi sangat aman atau normal.

“Sedangkan bila ada asap putih yang terus keluar di atasnya, itu tandanya di dalam gunung sedang masak. Gampangnya begitu,” ujar Priyadi Kardono kepada koran ini di kantornya, Jakarta, kemarin. Selanjutnya, jika masakan itu sudah matang, maka keluar asap putih agak tebal. Asap itu tanda adanya letusan magnetik di dalam badan gunung. Dalam kondisi seperti ini, maka warga sekitar gunung harus mulai siaga.

Dijelaskan Priyadi, tahap berikutnya, ketika asap tebal putih sudah berubah menjadi hitam, itu tandanya material letusan magnetik sudah mau keluar. Menurutnya, tahapan ini yang sebenarnya ditunggu-tunggu. Alasannya, jika sudah masuk tahapan ini, maka tahapan berikutnya adalah reda. Dia mengibaratkan perut mual yang ingin muntah. “Begitu sudah muntah, perut menjadi lega,” terangnya, memberikan keterangan yang gampang dipahami warga awam.

Dia mengatakan, di seluruh Indonesia terdapat 34 gunung yang masuk kategori B. Untuk kategori ini tidak perlu dipantau terus-menerus. Sementara, yang masuk kategori A, jumlahnya tidak banyak, yakni seperti Gunung Merapi, Semeru, Kelud, dan beberapa yang lain. Yang masuk kategori A ini lebih mudah ditangani jika terjadi letusan. Pasalnya, kategori A ini dipantau terus. Dengan demikian, tahapan-tahapan aktifitas vulkanik bisa terpantau hingga menjelang meletus.

Baca Juga :  Diduga Konsumsi Sabu-sabu di Hotel Tanjung Balai, Wakil Ketua DPRD Simalungun Digerebek Bersama WIL

Priyadi menjelaskan, belajar dari kasus Gunung Sinabung yang meletus secara tiba-tiba setelah 400 tahun membisu, maka ke depan pemantauan gunung berapi akan diintensifkan. Diakui, selama ini pemantauan masih kurang karena terkendala terbatasnya peralatan pemantau. Dengan kejadian Sinabung, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, yang membawahi vulkanologi, telah mengajukan usulan anggaran untuk membeli alat pemantau. Priyadi mengatakan, sudah tentu BNPB akan mendukung usulan itu. “Minimal bisa untuk membeli seismograf,” ujarnya. Selain itu, alat lain yang mendesak adalah termometer yang dipasang di kawah. Alasannya, alat ini yang paling efektif untuk mendeteksi letusan.

Terkait dengan penyaluran bantuan ke pos-pos pengungsian, Priyadi mengingatkan para koordinator, yang di tingkat kecamatan biasanya dipimpin camat, agar melakukan manajemen secara baik. Berdasarkan pengalaman penyaluran bantuan saat bencana gempa di Jabar dan Padang, petugas-petugas di lapangan yang tidak dispilin, membuat pembagian menjadi kacau dan pengungsi marah karena merasa diperlakukan tidak adil.

Priyadi menyebutkan, setidaknya ada dua faktor yang biasanya mengacaukan penyaluran bantuan. Pertama, sumbangan dari masyarakat yang langsung disalurkan ke para pengungsi. Biasanya, masyarakat menyalurkan bantuan dengan memilih cara yang enak, lewat jalan yang gampang dilalui. “Sehingga bantuan menumpuk di satu tempat saja, yang lain belum dapat. Ini menimbulkan rasa iri di antara sesama pengungsi. Ini yang dulu terjadi di Jawa Barat,” kata Priyadi. Karenanya, untuk menghindari kekacauan, dia berharap agar masyarakat yang ingin memberikan bantuan, disalurkan saja ke pos utama yang ada di Kabanjahe. Pos utama ini yang nantinya mendistribusikan ke 21 pos yang ada.

Faktor kedua, ada petugas di lapangan yang menyelewengkan mekanisme penyaluran bantuan. Dia memberi contoh kasus di Padang, sopir yang mengangkut bantuan, membelokkan truk bantuan itu ke kampungnya. Hal lain yang bisa membuat keributan, jika barang bantuan sangat diperlukan, sedang jumlahnya masih terbatas. Untuk pengungsi letusan Sinabung misalnya, diakui Priyadi jumlah selimut masih kurang. “Padahal para pengungsi tinggal di jambur, semacam pendopo yang terbuka, dingin,” ujarnya. Dia mengatakan, bantuan selimut akan diupayakan ditambah.

Sementara, pantauan koran ini, aktifitas di kantor BNBP sendiri terlihat terus sibuk. Sejumlah pegawai menghadap layar komputer masing-masing. Koordinasi antarinstansi terkait juga terus jalan. Saat koran ini berada di ruang itu, baru saja masuk faks dari Pusat Vulkanologi tentang kondisi Sinabung hingga kemarin siang. “Status tetap awas. Pemantuan secara intensif terus dilakukan,” demikian Priyadi membacakan laporan yang baru masuk. Dijelaskan juga, tingkat kegempaan vulkanik dalam dan dangkal sudah menunjukkan tren penurunan. Jika Selasa tengah malam hingga Rabu pagi terjadi 9 kali gempa, maka dari pagi hingga siang kemarin, tinggal dua kali gempa saja.

Penerbangan Medan-Sibolga Dibuka Lagi

Tiga hari setelah Gunung Sinabung meletus dan penerbangan local dinyatakan berbahaya, jalur Medan-Sibolga dan penerbangan ke bandara perintis lain di Sumatera Utara kembali dibuka sejak kemarin (1/9). Angkasa Pura II Bandara Polonia sudah mengijinkan maskapai yang melayani jalur pendek tersebut kembali melayani penerbangan lokal.

“Penerbangan ke Sibolga sudah normal kembali. Sudah beberapa maskapai yang menerbangkan pesawatnya untuk rute Medan-Sibolga,” beber Staff OIC Airport Duty Manager Bandara Polonia Medan, Martin, kemarin.

Meski sudah dinyatakan aman, belum semua maskapai langsung membuka pelayanan. Maskapai Susi Airlines masih menunggu kondisi normal kembali. Alasannya, karena Susi Airlines tidak memiliki pesawat yang berbadan besar.
“Untuk penerbangan di atas 7.000 km dari permukaan laut, membutuhkan pesawat yang berbadan besar. Hal tersebut untuk menghindari hujan debu dan asap yang tersisa akibat letusan Gunung Sinabung,” tegas Martin lagi.
Seperti diketahui, Susi Airlines menggunakan pesawat-pesawat berbadan kecil seperti jenis Foker dan Cassa.
Salah satu maskapai yang bisa langsung melayani rute-rute ke bandara perintis itu antara lain Wings Air yang mampu terbang di atas ketinggian 10.000 km di atas permukaan laut.

Baca Juga :  Pemprov Sumut Terima 90 CPNS Tenaga Kesehatan

“Wings Air mempunyai armada pesawat yang berbadan besar yang mampu melewati batas ketinggian aman,” tegasnya.

Posko Kesehatan Dipindah

Posko Pusat Kesehatan Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Letusan Gunung Sinabung dipindah dari areal utama posko di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karo ke kantorDinas Kesehatan Kabupaten Karo.
Kadis Kesehatan dr Diana Br Ginting menyatakan, pemindahan itu guna efesiensi kerja kerja petugas kesehatan. “Kondisi tempat di pos utama, tidak jarang menyulitkan kinerja kita. Dipastikan posisi di wilayah Dinkes akan memaksimalkan kinerja tim kami. Jika ada hal yang dibutuhkan, silakan saja datang ke Dinkes,” ujar Diana.
———
Bentuk dari keprihatinan terhadap bencana alam yang dialami masyarakat Kabupaten Karo, mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) menggalang aksi bantuan dana. Menggunakan beberapa kotak kardus, para mahasiswa menadahkan kotak itu ke setiap pengguna jalan yang melintas di depan kampus USU.

MPW PP Sumut diwakili Ketua Koti PP Sumut Ibnu Abas beserta rombongan mengunjungi dan memberi bantuan pada pengungsi di Jambur Taras Berastagi, kemarin. Bantuan berupa, 500 kg beras, kaos PP 50 buah, Mie Instan 50 dus dan air mineral. Disela-sela penyaluran bantuan itu, Ibnu Abas yang mewakili Ketua MPW PP Sumut Anwar Syah, atau yang akrab disapa Aweng ini mengatakan, pihaknya turut prihatin atas musibah yang dialami oleh masyarakat Karo, khususnya warga yang bermukim di kaki Gunung Sinabung, yang kini mengungsi.

“Kita dari Pemuda Pancasila turut prihatin. Ini kita berikan bantuan atas kepedulian kita sesama manusia,” ungkap Aweng melalui Ibnu Abas. Rombongan juga memberi bantuan di Jambur Lige.

Ketua tim penggerak PKK Sumut, Ny Fatimah Habibie Syamsul Arifin bersama rombongan juga mengunjungi sejumlah penampungan pengungsi.

Ny Fatimah, didampingi Ketua Adhyaksa Dharma, Kartini Ny Sution Usman Aji, Ketua Bhayangkari Daerah Sumatera Utara, Nyonya Ning Oegroseno dan Ketua Percit Ny Yeni Leo Siegers.

Kehadiran ibu-ibu muspida Sumut yang bertepatan dengan HUT Polwan pada tanggal 01 September 2010  ini disambut Waka Polres Karo, Kompol J Simanjuntak, dan para anggota polwan yang terus bertugas selama paska bencana.

PMI Cabang Binjai juga mengirim relawannya ke lokasi pengungsian di Desa Telagah, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat.

“Di Desa Telagah anggota kita sebanyak  enam orang, di Tanah Karo anggota kita sebenayak 7 orang, dan mereka ditugaskan untuk melakukan Assessment atau pendataan terhadap para pengungsi,”ujar Warsito SE, Kepala Markas PMI Cabang Binjai, kemarin.

Sumber: http://www.hariansumutpos.com/2010/09/60394/sinabung-terus-semburkan-abu.html

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*