Sipirok: Kota tua dan janji yang diabaikan

Sumber : Waspada Online 21 Agustus 2008

Ongku P Hasibuan dan Aldinz Rapolo Siregar naik menjadi bupati dan wakil bupati Tap-Sel pada tahun 2005 diawali dengan restu dukungan penuh masyarakat Angkola Sipirok didaerah sekitar, Sumut/Medan bahkan Pusat/Jakarta merekomendasikan dan mendukung pencalonannya, karena mereka berjanji akan mengabulkan keinginan masyarakat Angkola Sipirok sebagai daerah otonomi baru Angkola Sipirok. ( Drs. H Syamsul Bahri Ritonga MSi – Global News.com).

Ada rasa kekecewaan yang sangat dalam disitu juga kekecewaan seluruh masyarakat Angkola Sipirok, tentu akan lebih kecewa lagi kalau kenyataan sekarang Sipirok pun tidak menjadi ibukota Tap-Sel, Bupati Ongku telah menyiapkan 275 Ha Tanah untuk menjadi Ibu Kota Tapsel yang baru di Maragordong jaraknya 30 Km dari Sipirok mengarah dan persis diperbatasan dengan P Seidempuan Barat.

Kharakteristik Masyarakat Angkola Sipirok.
Masyarakat Sipirok mempunyai kharasteristik yang sangat toleran, friendly, gotongroyang, menghormanti sesama, suku ras maupun kepercayaan dan memegang teguh prinsip Nalihan Na Tolu yang telah menjadi nilai-nilai luhur yang menjadi pegangan masyarakat Angkola Sipirok dalam melaksanakan kehidupan aktipitas sehari-hari.

Sistem kekerabatan dan kehorminasan umat beragama di Daerah Angkola Sipirok mungkin dapat dijadikan contoh daerah-daerah lain di Indonesia, hampir tidak pernah kedengaran kasus-kasus criminal yang menonjol, konflik agama, tawuran antar kampung yang merupakan kasus-kasus klasik akar rumput (grass root) khususnya di tatanan masayarakat pulau Jawa dan daerah-daerah lain. Sehingga daerah Angkola Sipirok boleh dikatakan tidak dapat dijadikan menjadi batuloncatan para penegak hukum, untuk memcapai jenjang yang lebih tinggi karena berprestasi menyelesaikan konflik dan kasus-kasus hukum dimasyarakat.

Sikap toleran dan mau menerima (bukan mengalah) masyarakat Angkola Sipirok dapat dilihat dari dapat dilihat ketika Pemda Tap-Sel mengingkari janji pembentukan Angkola Siprok dengan suatu prinsip “Tidak Apa (Pokat Na Do) asal Sipirok menjadi Ibokota Tap-Sel.

Sejarah Dan Peradaban Kota Sipirok
Tak banyak Buku Sejarah yang mengulas tentang Asal Usul Sipirok, tetapi kalau kita melakuan melakukan browsing kedunia maya melalui raksasa pencari (search engine) “Google” SIPIROK, dalam hitungan 0,15 detik akan mencul 116.000 kata yang mengulas sipirok. Merupakan suatu pengakuan dunia international terhadap Sipirok.

Salah satu rujukan untuk mengetahui keberadaan dan peradaban masyarakat Angkola Sipirok adalah Tuanku RAO (Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak) 1816 – 1833 MOP dijelaskan Sipirok merupakan kota penting dalam dalam penyusunan strategi, pelatihan dan kota yang harus diperebutkan untuk penyiaran agama Islam di tanah batak selama perang Padri beberapa keajadian penting yang berhubungan dengan Sipirok dalam buku tersebut antara lain:

Pada tahun 1720 – 1745 Kantor pusat pemerintahan “PADRI” Tuanku Imam Bonjol Hutasinatar/Mandailing menempatkan Bondanalolot Nasution di Parausorat Sipirok, dengan sukses besar mengexport kuda beban ex-toba dan humbang serta diexport sampai ke Minangkabau dan Jambi.

Tahun 1816 Blitzrieng dari Banteng Rao Ke Sipirok
Army Group Tuanku Rao diperintahkan Padri merebut Mandailing, Angkola dan Sipirok, untuk kemungkinan intervention Inggris dari Tapian Na Uli di Teluk Sibolga.

Pada tahun 1816-1818 Tuanku Rauo berkuasa di Sipirok, Tuanku Rao kembali Ke Sipirok pada tanggal 4 Syawal 1231/H selama 2 tahun untuk menjabat sebagai Gubernur Militer Pardi, headquartering in Sipirok. Setelah kembali dari benteng Bonjol pada thn 1818 Taunku Rao mengadakan rapat di Panglima di Sipirok, diatas Dolok Pemelaan /HGO Army Group Tuanku Rao, untuk melakukan penyerangan ke Tanah Batak sesuai dengan misi penyiaran agama Islam.

Baca Juga :  Ribuan Warga Sipirok Minum Kopi Bersama Pecahkan Rekor MURI

Pada tahun 1821, Tuanku Lelo Al Qahhar mendirikan benteng Padang Sidempuan, langsung dari pertempuran Air Bangistuanku Lelo The Deserter dengan 3.000 units Cavelry datang dan menetap di Angkola.

Dari data fakta sejarah tersebut, dapat dikatakan Sipirok dengan sejarah dan segala kekayaan dan paradapannya adalah kota tua yang harus dilestarikan, bahkan lebih tua dari maupun Kota Padang Sidempuan.

Ide Membangun Kota Baru
Pemkab Tapsel telah menyiapkan dan merencanakan tanah sebagai pusat perkantoran seluas 275 Ha di Maragordong, saya sangat mencintai masyarakat sipirok demikian ujar Bupati Ongku Hasibuan. (situs tapselkab).

Menurut hemat kami adalah suatu tindakan yang gegabah dan pengingkaran terhadap UU N0 37 Tahun 2007 dengan alasa apapun, pelanggran Undang-uang akan mengakibatkan konflik dan pembangkangan, contoh kasus pemindahan ibu kota Banggai Kepulauan Prov. Sul-Teng ke Salakan yang dilakukan untuk alasan pribadi Bupati, harga yang sangat masah harus dibayar rakyat.

Sangat kita sayangkan kalau kasus yang sama terjadi di Bumi Dalihan Natolu (Tap-Sel), sepengetahuan kami tidak ada daerah kecamatan lain yang keberatan dengan Sipirok ibu Kota Tapsel, lain kalau masalahnya kalau berkeinginan coba-coba, ambisi pribadi dengan mengabaikan UU Pemekaran lain masalahnya.

Secara ekenomi pembangunan kota baru (Maragordong) sangat tidak efisien dan tidak layak untuk pusat pemerintahan Tapsel, orientasi pemerintahan yang efisien adalah melakukan pelayanan yang murah dan efisien dan hadir ditengah komunitas masyarakat, bukan membangun kontor pelayanan di yang menjauhi Cactmant Area Service Public.

Orientasi pelayanan yang baik menurut kami dapat dilakukan dengan mengembangkan dan penataan kota yang sudah ada, bahkan untuk mengembangkan kota Jakarta saat ini dilakukan secara merger dengan Depok, Tangerang maupun Bekasi hal ini dilakukan untuk efisiensi public service, contoh kasus rencana ibu kota Jakarta yang akan dipindahkan ke Jonggol pada masa pemerintahan Ordebaru yang dilakukan atas ambisi peribadi, pemindahan ibukota Tangerang ke Tigaraksa, boleh bilang gagal total karena manfaatnya tidak maksimal dan bayak contoh kasus lainnya.

Membangun kota baru perlu biaya yang super besar, biaya membenahi dan mengembangkan Sipirok lebih sedikit dari pada membangun Maragordong disamping membangun perkantoran sarana-sarana pendukung lain yang perlu dibangun antara lain, sarana kesehatan, rumah sakit, transportasi, perkotaan, hiburan, entertainmen, stadion olah raga dll.

Kalau Sipirok sudah ada 288 tahun yang lalu (sejak tahun 1720), dengan eskalasi pertumbuhan kali lebih cepat dari kota normal perlu waktu 120 tahun lagi, agar Maragordong Ibu Tapsel sama dengan Sipirok saat ini, untuk itu butuh biaya yang luar biasa banyak. Untuk memenuhi ambisi apa boleh buat Anggaran harus dikorbankan untuk itu dengan mengabaikan hak-hak masyarakat Tapsel seperti kesehatan, irigasi, jalan, sekolah dll, perlu pengorbanan yang luar biasa besar dari masyarakat Tapsel.

Saya tidak dapat membayangkan kota baru seperti apa yang akan dibangun di Maragordong. Tapi sepengetahuan saya kalaupun terelaisasi akan terjadi High Cost Economic Public Service, karena jarak dari masyarakat yang akan dilayani sangat jauh, Sigalangan 50 Km, Batang Toru, 45 Km Sipirok 30 Km, Sipagimbar 80 Km yang paling dekat hanya untuk pelayanan ke masyarakat kota Padangsidempuan 8 Km, atau mungkin pemerintah tak mau pusing dengan urusan masyarakat dengan menghindari demo.

Baca Juga :  Hari Ini, Beckham Mulai Latihan di Tottenham

Potensi pertumbuhan kota Maragordong kedepan juga tidak bisa diharap, karena diluar lahan 275 Ha yang dibebaskan Pemkab, masyarakat tak akan bisa membangun hunian, pertokoan atau bangunan lain yang bersifat bangunan privat, karena tanah tersebut milik pemerintah dan tidak di jual, pembebasanya hanya dapat dilakukan melalui DPR, banyangkan untuk bangun hunian pribadi dan warung rokok milik pribadi harus ijin ke DPR.

Penutup
Teori Maslow, hampir sama dengan tujuan dan hakekat hidup masyarakat Angkola Sipirok, kalau semua keinginan sudah terpenuhi, yang terakhir adalah kekuasaan (Hamoraon , Hagabeon, Hasangapon). Ongku Hasibuan (decision maker) pemkab Tapsel telah mendapatkan itu semua, waluapun janji yang pernah terucap dengan mengesampingkan keinginan masyarakat Angkola Sipirok dengan keberhasilan memekarkan Palatu, Palas menjadi otonom baru yang merupakan kota asal dan kelahirannya dan sekarang akan memindahkan Sipirok sebagai ibu kota Tapsel.

Makna terdalam dalam hagabeon, hamoran dan hasangapon seseorang akan tercapai kalau asal-usul tempat memulai pengembaraan dalam hidupnya, bisa terjaga sampai akhir dunia. Akan hal dengan masyarakat Angkola Sipirok yang sangat bangga dengan tanah kelahiran, tanah asal ”SIPIROK NAULI BANUA NASONANG”, “ASAL NI BORU NIRAJAI SIBORU ENGGAN NAJOGI. Berilah masyarakat Angkola Sipirok sedikat kebanggaan, dengan menjadikan Sipirok sebagai ibu kota Kabupaten.

Pengembangan Sipirok dapat dilakukan denga beberapa alternatip kepinggiran Kota Sipirok antara lain, Padang Bujur, Pasar Malam, Silangge Atau Sappean. Untuk mendapatkan tanah pertapakan untuk kantor Bupati, saya percaya orang Sipirok sangat menginginkan dan mendukung itu. Maka untuk itu perlu mempelajari kharakter orang Sipirok datangi namora orong-orong Sipirok, harajaon dan panguasa luat, dengan manukkus dan membawa paroppa sadun dan burangir yang penting maksud dan tujuan tercapai sehingga Bupati Tapsel mendapatkan Hamoraon, Hagaben, Hasangapon yang hakii dimata Masyarakat Sipirok.

Pardomuan Pane, SE, MM
Anak Sipirok tinggal di Jakarta

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*