Siswi SMP Diperkosa, Dipecat Karena Hamil

Nasib Bunga (nama samaran), siswi kelas II di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Humbahas sangat mengenaskan. Diperkosa oleh tetangganya yang tak lain adalah mantan kepala desa, kini dia tak lagi bisa melanjutkan pendidikanya. Dia dipecat karena hamil.

Kenyataan pahit itu menyebabkan trauma dan stres berat. Kini berdasarkan pemeriksaan medis, di dalam perutnya telah tumbuh janin berusia enam bulan. Sejak kejadian perkosaan itu, korban membisu dan tak mau bicara dengan siapapun, kecuali kepada kedua orangtuanya.

Lepraem (70), bapak korban, yang tak terima akan nasib anaknya, membuat laporan pengaduan ke Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sumut di Jalan Perintis Kemerdekaan, Selasa (24/8).

“Anakku ini makin sedih karena dia dipecat dari sekolahnya. Dia menjadi sangat terpukul karena merasa dia menjadi orang yang sangat bersalah atas pemerkosaan yang dihadapinya,” tukas Lapraem.

Lapraem menceritakan, kasus perkosaan itu terjadi saat korban sedang mandi di toilet umum di lingkungan rumahnya, 27 Januari 2010 lalu sekitar pukul 17.40 WIB.

Kebetulan letak toilet itu berdekatan dengan rumah pelaku, STL alias Kabut (52). Pelaku mengawali aksinya dengan menyuruh korban membelikan rokok. Ketika korban ke luar dari toilet, pelaku langsung menyeret korban ke dalam rumahnya.

“Dua teman anakku menjadi saksinya. Mereka itu melihat anakku diseret keparat itu ke dalam rumah. Jadi kenapa anakku pula yang kini jadi korban, dituding dia berbohong telah diperkosa,” tukas Lepraem geram.
Sebenarnya, kata Lepraem, pelaku sudah diamankan polisi dan kini menjadi tahanan titipan di Lapas Siborong-borong. Hanya saja mereka melihat ada kesan pelaku dilindungi oknum kepolisian. Dan ada dugaan polisi tak menyertakan UU Perlindungan Anak dalam kasus itu.

Baca Juga :  Cacingan Masih Jadi Ancaman Di Sumut

Pihak Polsek Doloksanggul yang menangani kasus itu bahkan sempat tidak merespon pengaduan tersebut. “Laporan kami baru diterima setelah kami menyurati Kapolres Humbahas,” kata Kepala Desa Marbuntonga Marbundolok, Dahlan Banjarnahor (45) yang turut mendampingi korban ke Medan.

Pelaku sendiri, menurut Dahlan, pernah manjabat kepala desa pada era 1980-an, sehingga dikhawatirkan memanfaatkan relasinyamemengaruhi proses hukum itu. Belakangan saat dimintai pertanggungjawabannya, pelaku menyebutkan dirinya sebagai wartawan dan menyebutkan tindakan keluarga korban menempuh jalur hukum akan berakhir sia-sia.

“Makanya kami datang ke KPAID Sumut untuk mengawal kasus ini. Kami ingin pelaku dihukum sesuai hukum agar kasus seperti itu tidak terulang lagi,” ungkap Dahlan.

Permintaan itu langsung disambut baik Ketua KPAID Sumut Zahrin Piliang yang berjanji akan menyurati Pemkab Humbahas, kejaksaan, maupun kepolisian agar tetap menegakkan hukum sesuai prosedur.

Namun yang menjadi perhatian serius KPAID Sumut ialah kebijakan SMP Negri 1 Baktiraja yang memecat korban sebagai pelajar di sekolah itu. “Kita menilai sekolah telah salah besar. Korban seharusnya dirangkul dan diberi dorongan melanjutkan pendidikannya. Bukan malah dipecat yang tentu mematikan masa depannya,” tukas Piliang.
Untuk membantu korban, dalam waktu dekat KPAI Sumut akan ke Humbahas mendesak pemerintahan di sana membantu korban supaya bisa kembali melanjutkan pendidikannya. “Dia ini korban. Seharusnya kebijakan lebih berpihak padanya,” pungkas Piliang.

Baca Juga :  Pengungsi Sinabung Bertambah Banyak

Sumber: Sumut Pos

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*