Sita 8 Ton Ganja Asal Aceh, BNN Pecahkan Rekor 10 Tahun

Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap seorang petani Sawi, Ajid alias Damir yang memiliki ladang ganja seluas 1000 meter persegi saat rilis kasus Narkotika jenis ganja di Gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, 16 September 2014. TEMPO/M IQBAL ICHSAN

Jakarta – Badan Narkotika Nasional memusnahkan barang bukti terbanyak selama sepuluh tahun terakhir berupa ganja asal Aceh seberat 8 ton. Menurut Kepala BNN Anang Iskandar, sindikat yang berada di balik kasus ini bukan pemain sembarangan. “Karena mereka berani bermain dalam jumlah yang sangat besar,” kata Anang, Rabu, 12 November 2014.

Ganja yang dimusnahkan adalah hasil sitaan pada Jumat, 24 Oktober 2014. Saat itu, sekitar pukul 07.00 WIB, petugas menangkap tiga tersangka pengedar ganja di sebuah rumah makan di Telaga Samsam Kandis, Riau. Ketiganya yakni M. Jamil, 32 tahun, dan dua temannya: Muhallil, 25 tahun, dan Syafrizal, 20 tahun. Ketiganya dibekuk ketika truk yang mereka kemudikan mogok.

Hari itu juga, petugas meringkus sindikat lain di Mampang, Jakarta Selatan. Budiman alias Ade, 45 tahun, diringkus di rumahnya di Mampang. Ade berperan sebagai penjaga gudang dan pengatur distribusi ganja sesuai dengan pesanan.

Polisi juga membekuk Bang Pin, 47 tahun, di rumahnya, Jalan Mohammad Toha. Pria yang berperan sebagai pengendali sindikat itu adalah residivis kasus 40 kilogram ganja yang bebas tahun lalu. Bila pengiriman ganja itu berhasil, ia dibayar 1,2 ton ganja atau setara dengan Rp 1,2 miliar. Sang sopir truk, M. Jamil, diupah Bang Pin sebanyak Rp 120 juta. Sedangkan Syafrizal diberi Rp 50 juta dan Muhallil Rp 20 juta.

Baca Juga :  LKPJ TA 2011 Bupati Tapsel Tipu Rakyat

Anang menuturkan seluruh tersangka terancam Pasal 111 ayat (2) dan Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal pidana mati atau penjara seumur hidup.

/TEMPO.CO

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*