Soal Ahmadiyah, Fakta Sejarah Diputarbalikkan

Fauziah Fauzan

PIMPINAN Perguruan Diniyyah Puteri menuntut pihak-pihak yang telah memutarbalikkan fakta sejarah, terkait dengan keberadaan Ahmadiyah yang oleh MUI telah dinyatakan sebagai aliran sesat, dalam kaitannya dengan Minangkabau.

“Keberangkatan Abu Bakar Ayyub dan kawan-kawan ke India, sama sekali tidak ada kaitannya dengan anjuran Rahmah El Yunusiyyah dan Zainuddin Labay. Kami sangat mengetahui, Rahmah dan Zainuddin adalah penentang kertas seluruh ajaran yang bertentangan dengan Alquran dan Sunnah,” ujar Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Fauziah Fauzan, SE, Akt, M.Si, didampingi Pengawas Yayasan Rahmah El-Yunusiyyah Prof. Dr. H. Fauzan, MA, Rabu (9/2), di ruangan kerjanya.

Ditegaskan, sepanjang sejarah yang tercatat dalam berbagai buku dan desertasi doktor  tentang Rahmah dan Zainuddin, tidak pernah diketahui dan tercantum pernyataan yang mengindikasikan anjuran terhadap Abu Bakar Ayyub tersebut.

Berdasarkan fakta sejarah dan telaahan para ahli, menurut Fauziah, Zainuddin dan Rahmah sangat mengetahui aliran yang tengah berkembang di Qadyan, India, pada waktu itu, adalah aliran sesat dan menyesatkan. Zainuddin sendiri, katanya, telah berkorespondensi dengan tokoh Islam sekaliber Mohammad Iqbal di Pakistan terkait dengan perkembangan Ahmadiyah.

“Beliau juga telah mengupas karya Al-Maududi dan An-Nadhawi yang telah menyatakan Ahmadiyah adalah sesat dan menyesatkan. Dengan begitu, tidak mungkin Zainuddin dan Rahmah akan merestui keberangkatan para pemuda Minangkabau ke Qadyan untuk belajar ajaran sesat,” ucap Fauziah.

Baca Juga :  Pakai Ulos, Jokowi Ikut Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba

Terkait dengan fakta sejarah tersebut, menurut Fauziah, menempelkan nama besar Rahmah dan Zainuddin  ke dalam aliran Ahmadiyah merupakan tindakan yang penuh kebohongan dan kedustaan. Bukan hanya keluarga besar Diniyyah Puteri yang terluka akibat pemutarbalikan fakta sejarah itu, menurutnya, tetapi juga telah melukai perasaan banyak pihak di Minangkabau.

Jangan gegabah

Terkait dengan adanya pemberitaan yang dilansir salah satu media di Sumbar, bahwa urang awak (orang Minang) pengikut pertama Ahmadiyah, dinilai Fauziah sebagai tindakan provokatif dan gegabah. Ke depan, dia berharap, media massa bisa berhati-hati dalam mengemas setiap informasi yang akan disampaikan kepada publik.

“Klaim itu menunjukkan adanya pengabaian fakta-fakta sejarah yang benar, menyampaikan berita bohong, menutup-nutupi kesesatan Ahmadiyah, memfitnah Perguruan Thawalib Padang Panjang, memfitnah pendiri Diniyyah Puteri Rahmah El-Yunusiyyah dan Zainuddin Labay, dan membuat kesimpulan provokatif melalui klaim Minangkabau tak ada masalah dengan kehadiran Ahmadiyah,” ujarnya.

Melalui surat bernomor 015/PP/BI/DP/I/2011 tanggal 9 Februari 2011, menurut Fauziah, Perguruan Diniyyah Puteri menggugat media massa yang memutarbalikkan fakta sejarah agar mengklarifikasinya dengan memulihkan nama baik Rahmah dan Zainuddin. “Kita juga menuntut agar secara tertulis kekeliruan itu dicabut,” sebut Fauziah. (Musriadi Musanif, SKH Singgalang)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Polres OKU Sumsel Dibakar Oknum TNI

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*