Soal Penebangan Kayu di Dolok Silou

Bupati Simalungun Drs T Zulkarnain Damanik MM memerintahkan, agar aktivitas penebangan kayu di Nagori Meriah Dolok Kecamatan Dolok Silou dihentikan. Bahkan dengan tegas Bupati mencabut Izin Pemanfaatan Kayu Tanah Milik (IPKTM) dari pengusaha pemilik.

Hal tersebut ditegaskan, Bupati usai melakukan peninjauan langsung ke kawasan hutan yang tidak termasuk dalam kawasan hutan berdasarkan SK No. 44 tahun 2005 itu, Kamis (17/6).

Bupati yang berangkat bersama rombongan, pukul 08.00 WIB dan pulang dari lokasi hutan sekitar pukul 17.30 WIB itu ,mengatakan, di areal itu sesuai pengamatan langsung mereka bersama rombongan, harus dijaga kelestariannya. Sebab penebangan kayu di sana dinilai dapat menganggu Daerah Tangkapan Air (DTA).

Kata Bupati, ekosistem di sekitar lokasi sangat perlu dijaga, mengingat dampaknya terhadap daerah yang ada hilir bisa saja terkena dampak negative. Sehingga harus dihijaukan kembali. Bupati juga berterima kasih kepada Kapoldasu atas sidaknya beberapa hari lalu yang memantau kawasan ini dari udara. Karena langkah ini dapat menjaga kelestarian lingkungan di Kabupaten Simalungun.

Hal itu diputuskan dan dinyatakan Bupati didampingi Kadis Kehutanan, Ir Amran Sinaga, Asisten Ekbang Mudzrin SSos, Kepala Badan Lingkungan Hidup, Ir Jonner Sibarani, Kabag Pembangunan, Rohben Purba SPd, Kasatpol PP Drs Ojahan Nainggolan dan Kakan Perizinan Terpadu, Adnadi Girsang SH.

Rombongan Bupati melakukan peninjauan ke lokasi IPKTM milik pengusaha bernama Gogom Tarigan di Nagori Meriah Dolok, untuk lebih menegaskan perihal pemanfaatan IPKT tersebut.

Bupati juga menegaskan, kegiatan IPKTM itu jangan sampai mengganggu kekondusifan Kabupaten Simalungun, apalagi saat menjelang pelaksanaan Pemilukada yang akan digelar 26 Agustus 2010 mendatang. Kepada instansi terkait, Bupati mengingatkan, lebih selektif dalam memberikan IPKTM, sehingga tidak mengganggu daerah tangkapan air.

Baca Juga :  Ajaib, iPad Bisa Jadi "Pengganti Paspor"

Kadis Kehutanan Ir Amran Sinaga mengatakan, meski lokasi terlihat bentuknya seperti hutan, namun areal ini merupakan Areal Penggunaan Lain (APL) yang pemanfaatannya bisa untuk produksi pertanian, perkebunan dan pemukiman. Itu sebabnya Dinas Kehutanan memberikan izin tersebut, dengan maksimal luas lahan yang boleg diolah dengan IPKTM maksimal 75 hektare. Soal luas lahan yang sudah dijamah melalui IPKTM ini berkisar 50 hektare.

Terkait langkah menghijaukan kembali areal tersebut, Amran Sinaga menjelaskan, telah dilakukan penanaman kembali dengan tanaman pohon jabon di areal seluas 30 hektare.

Dalam kunjungan ke lokasi tersebut yang juga dihadiri, pengusaha pemilik IPKTM Gogom Tarigan dan para masyarakat eks pemilik lokasi antara lain, Karisma Purba Tambak, J Darman Girsang, Nasib Saragih dan Jonersin Girsang, Camat Dolok Silou Drs Henry Sembiring, Pangulu Nagori Meriah Dolok Mardelinson Sipayung, dan juru ukur Dinas Kehutanan Simalungun Haryono, serta Tiopan Munthe dan Parhusip dari Dinas Kehutanan Provinsi Sumut, dilakukan dialog antara pemilik IPKTM dan masyarakat eks pemilik lahan dengan Bupati, yang semula merupakan areal pertanian ladang yang berpindah-pindah.

Dalam dialog ini, masyarakat menjelaskan, lahan itu semula merupakan ladang berpindah 34 KK penduduk Huta Sindar Dolok nagori yang sama, namun telah mereka tinggalkan selama 30 tahun lalu dan areal telah mereka jual kepada, Gogom Tarigan.

Kepada Gogom, Bupati memerintah untuk tidak boleh lagi melakukan kegiatan IPKTM dan menyatakan mencabut izinnya serta harus menyelesaikan kewajibannya untuk melakukan penghijauan di seluruh areal yang sudah ditebang. Mendengar perintah dan keputusan Bupati, Gogom menyatakan bersedia melaksanakannya.

Baca Juga :  Setelah Terbuka, Trafik Google+ Melonjak 1.269 Persen

Sementara itu, Tiopan Munthe mengatakan, areal tempat penebangan, berdasarkan titik koordinat sesuai dengan peninjauannya ke lapangan, disebutnya merupakan areal di luar kawasan kehutanan, baik hutan lindung sesuai SK 44 tahun 2005 maupun kawasan hutan register. Bahkan, jika diukur secara garis lurus, kata Munthe, dari lokasi IPKTM ke hutan lindung terdekat yaitu hutan lindung Singgalang paling tidak mencapai jarak 10 km. sementara untuk Kecamatan Dolok Silou tidak terdapat hutan register.

Secara topografi, Munthe menjelaskan, kegiatan IPKTM yang dilakukan di Meriah Dolok masih memenuhi persyaratan dengan kemiringan bervariasi antara 8 sampai 150 dan 15 – 250 derajat. Artinya, lokasi penebangan landai dan agak curam.

Sumber: http://metrosiantar.com/Berita_Foto/Soal_Penebangan_Kayu_di_Dolok_Silou_

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*