SRI for Sri

Oleh: Djoko Suud Sukahar *)

Jakarta – Beberapa kandidat presiden sudah ancang-ancang. Untuk sementara dua nama mencuat ke permukaan. Mereka adalah Aburizal Bakrie (Ical) dan Sri Mulyani. Jika Satrio Piningit tidak datang, diprediksi mantan Menkeu itu punya magnet tinggi menggaet simpati rakyat untuk menggantikan SBY. Kalkulasinya?

Pemilu masih tiga tahun lagi. Tapi gemuruh penggalangan dan ‘pemancingan’ respons massa sudah menggelinding. Setidaknya sudah ada enam nama terindikasi bakal ikut bertarung memperebutkan jabatan RI-1. Itu belum calon dari partai yang masih menimbang-nimbang jagonya.

Yang paling dini mencapreskan diri sebenarnya adalah Aburizal Bakrie. Tahun lalu niat Ketum Partai Golkar itu sudah digeber dimana-mana. Dampaknya, berbagai kepentingannya dikritisi. Akibat itu programnya layu sebelum berkembang. Niat itu dijadwal ulang, kembali diproklamasikan tahun depan melalui Partai Beringin. Di tahun 2011 ini, riuh untuk memancing peluang itu kian bergemuruh. Nasional Demokrat (Nasdem) menampilkan ‘sosok aslinya’. Ormas itu memecah diri daftar sebagai partai politik. Sebagai konsekuensi logisnya, perpecahan di tubuh Nasdem tak terhindari. Sultan HB X mundur diikuti pengurus di beberapa daerah.

Retaknya ormas yang diliputi pretensi sebagai kendaraan politik Surya Paloh dan HB X itu akhirnya kabur. Sosok siapa yang akan diusung pada Pemilu 2014 belum jelas. Itu yang memunculkan spekulasi, kalau toh ada tokoh yang ditampilkan, mungkin hanya untuk posisi RI-2. Itu karena figur yang tersisa memang hanya punya kapasitas untuk itu.

Tampilnya Nasdem sebagai partai politik diikuti lahirnya partai Nasional Republik (Nasrep). Partai yang dipandegani ‘tentara’ itu diindikasikan mengusung Hutomo Mandala Putra (Tommy). Dan memang itu yang sejatinya terjadi. Tommy di balik partai ini, termasuk alasan deklarasinya dipusatkan di Hotel Crowne, Jakarta.
Seperti tak mau ketinggalan kereta, partai politik baru yang berlabel Partai Serikat Rakyat Independen Indonesia (SRI) juga mendaftarkan diri. Kendati kelengkapan administrasinya masih perlu ditata ulang, tetapi satu yang penting dicatat, yaitu calon presiden yang akan dibawanya bertarung di pemilu tahun 2014. Partai ini memajukan Sri Mulyani Indrawati sebagai jagonya. Itu yang menyentak publik.

Baca Juga :  Seorang Lagi TKI Dipancung

Mantan Menkeu yang sekarang menduduki posisi sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia itu memiliki setumpuk kontroversi. Kontroversi negatifnya dikaitkan dengan ‘politisasi’ Century. Sedang positifnya adalah jawabannya yang tegas dan taktis ketika dicerca pertanyaan bertubi-tubi wakil rakyat.

Ketegasan, keberanian, dan kecerdasan itu yang terserap dan mengendap dalam mimetik rakyat. Sri Mulyani diasumsikan sebagai figur yang layak menggantikan SBY. Sebab SBY dinilai ‘pelan dan lamban’ dalam menyikapi berbagai persoalan kenegaraan. Taklah heran ketika namanya diorbitkan, respons yang muncul bervariasi. Plus dan minus.

Selain tiga kandidat itu, masih ada lagi kandidat lain yang diprediksi juga akan ikut bertarung. Itu adalah Prabowo Subianto dari Gerindra, Wiranto Hanura, Hatta Rajasa PAN, dan mungkin saja Ani Yudhoyono dari Partai Demokrat. Sedang PDIP rasa-rasanya hanya akan memajukan calon untuk RI-2, dan itu diprediksi adalah Puan Maharani.

Namun dari seabreg calon itu, nampaknya hanya tiga kandidat yang berpeluang besar untuk menang. Pertama diduduki Sri Mulyani, kedua Ani Yudhoyono, dan ketiga Aburizal Bakrie. Itu karena selain Sri Mulyani punya ‘modal dasar’ atas ‘kelebihannya’ dibanding SBY, dia relatif bersih, dan tokoh ini punya kekuatan untuk berkolaborasi dengan beberapa partai lain. Malah jika pemilu dilakukan tahun ini, kans terbesar untuk menang itu adalah Sri Mulyani. Adakah itu indikasi dia presiden mendatang?

Baca Juga :  Garudaku Terancam Patah Sayap

Dalam budaya Jawa, hadirnya seorang pemimpin itu melalui sebuah proses metafisis. Dalam konsep itu, tokoh yang bakal menduduki posisi itu disebut sebagai Satrio Piningit. Satrio ini bukan jender. Bisa laki atau perempuan.

Kemunculan ‘tokoh’ ini tak terduga. Biasanya baru ‘terasakan’ setahun sebelum pilihan. ‘Rasa’ itu sulit didentifikasi, karena hanya ‘hati’ yang merasakan. Uniknya, ‘rasa’ itu punya kesamaan tiap orang. Dan ‘rasa’ itu pula yang terkadang sulit untuk dirasionalkan. Maka dalam konteks ini, tokoh yang disebut itu bisa siapa saja. Bisa tokoh yang sudah bermunculan atau tokoh yang datang belakangan.

Adakah Sri Mulyani yang disebut Satrio Piningit itu? Atau justru Satrio Piningit itu yang bakal menjadi predatornya? Waktu masih panjang. Beberapa tahun lagi akan ketahuan siapa yang punya peluang untuk menjadi pemimpin negeri ini. (detik.com)

*) Djoko Suud, budayawan, menetap di Jakarta

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*