Sri Sultan: Lereng Merapi Kusam, Seperti Tak Ada Kehidupan

Pemandangan desa-desa yang terletak di lereng Gunung Merapi di perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah pasca letusan besar tadi malam sangat mencengangkan. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubowono X menyebut kondisi di wilayah itu mirip dengan kawasan pedesaan yang mati.

“Suasana di desa di sekitar lereng merapi saat ini sepi. Warnanya kusam seperti tidak ada kehidupan,” kata Sri Sultan saat mengunjungi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Jl Cendana 15, Jumat (5/11/2010).

Mengingat situasi yang masih berbahaya, Sri Sultan mengimbau warganya agar tidak dulu naik ke atas untuk mengurus hewan peliharaan atau sekadar memeriksa rumah yang kosong. Ia juga telah mengusulkan agar Pemkab Sleman membeli seluruh hewan ternak milik warga.

“Supaya mereka bisa tenang di pengungsian,” katanya.

Hingga pukul 17.10 WIB, korban tewas akibat letusan kedua Gunung Merapi tercatat 69 orang. Seluruh jenazah berada di Rumah Sakit dr Sardjito, Yogyakarta. Sementara, korban luka mencapai 77 orang. Mereka menderita luka bakar akibat tersengat awan panas Gunung Merapi.

Sedangkan RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten, Jawa Tengah, merawat sebanyak 20 warga yang menderita luka bakar. 15 di antaranya warga Sleman dan 5 lainnya berasal dari kecamatan Kemalang, Klaten. Seluruhnya adalah data untuk hari ini. (detik.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Kasus Kepailitan Telkomsel - Telkomsel boleh lanjutkan usahanya

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*