Status RSBI SMA Negeri 6 Jakarta Dievaluasi

Sejumlah siswa SMAN 6 mengacungkan jari tengah ke arah puluhan wartawan yang sedang menggelar aksi di depan SMA 6, Jakarta (19/9). Aksi protes puluhan wartawan ini terkait dengan pemukulan terhadap wartawan Trans7, Oktaviardi, yang sedang meliput tawuran pelajar SMA 6 dengan SMA 70. TEMPO/Subekti

TEMPO Interaktif, Jakarta – Menyusul tawuran dan bentrokan antara pelajar SMA Negeri 6 Jakarta Selatan dengan wartawan, Senin 19 September 2011, maka status menuju Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) di SMA itu dievaluasi.” Status RSBI sedang dievaluasi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan” kata Hamid Muhammad, Direktur  Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional, Hamid Muhammad, saat dihubungi Selasa, 20 September 2011.

Hamid mengatakan, salah satu indikator yang mempengaruhi dalam RSBI adalah pendidikan berkarakter. Bagi sekolah dengan status menuju RSBI, Hamid menuturkan, selain masalah akademis, masalah moral jadi pertimbangan. “Ini tidak hanya untuk SMAN 6, ya,” kata dia.

Kementerian Pendidikan pun sudah meminta laporan kejadian dari pihak SMAN 6. “Saya sudah mengutus pejabat ke sekolah tersebut,” ujar Hamid. Laporan tersebut berada dalam pengawasan Wakil Menteri Pendidikan Fasli Jalal.

Sebenarnya, kata Hamid, kasus rusuh di SMAN 6 berada dalam wilayah pengawasan Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Tapi, kata dia, apa yang terjadi di SMAN 6 banyak diliput media dan sudah rutin terjadi di Ibu Kota sehingga apa yang terjadi di Jakarta dikhawatirkan bisa menjadi letupan di daerah. Maka, kementerian pun ikut terlibat.

Menurut dia, sanksi bagi SMAN 6 harus dilihat dulu hasil penyelidikan kasus itu. “Sampai saat ini belum ada kejelasan siapa yang salah. Kami tunggu dulu, tidak serta merta sanksi,” ujar dia.

Baca Juga :  Selisih Quick Count Tipis, Menko Minta Siaga Satu

Bentrok antara siswa SMAN 6 dan wartawan dimulai sekitar pukul 12.30 WIB kemarin. Bentrokan terjadi antara puluhan siswa yang baru keluar dari gedung sekolah dan sejumlah wartawan yang sedang menggelar aksi damai. Aksi damai itu buntut dari pengeroyokan terhadap wartawan Trans 7, Oktaviardi, saat meliput tawuran antara SMAN 6 dan SMAN 70.

 

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. sejumlah siswa mengacungkan jari tengah? mentang2 yg paling kelihatan yg mengacungkan jari tengah-_- jelas jelas dominan yg mengacungkan JEMPOL

  2. mereka datang bukan untuk menggelar aksi damai, melainkan untuk mencari sensasi demi sesuap nasi. gerbang dijebol, atap sekolah kami diinjak-injak, guru kami dilemparkan semangkuk bakso. saya mengakui kedua belah pihak sama2 bersalah. mohon dimaklumi pelajar SMA masih sangat2 labil, mereka masih menikmati masa mudanya (mencari jati diri). Perlu diingat hanya segelintir siswa yg terlibat, sisanya menjadi korban (sulit dijelaskan). di indonesia, orang2 merasa ada keributan itu seru, wow, patut diikuti perkembanganya. para wartawan juga salah, mereka menklaim sma6 too bad, bukanya mengajari, mangayomi, malah membuat masalah baru dgn membuat masalah semakin panas. sejak itu mereka mencari cari cara bagaimana supaya sekolah kami menjadi sangat sangat jelek dimata masyarakat indonesia. kalian mengorbankan siswa siswi yg tidakbersalah! mereka sangat punya senjata yg dpt memudahkan untuk mensugesti orang banyak yaitu media. mereka miliki itu untuk curhat kepada masyarakat. dimedia semuaaanya kami yg salah. TIDAK PERNAH sekali pun saya melihat(ditayangkan) atau membaca di media-media indonesia adanya keluhan-keluhan dari warga kami sma6jakarta, komentar kami, komentar salah satu teman saya saat pers, tidak pernah di-ta-yang-kan atau di-tu-lis-kan. wartawan memang bisa menggenggam dunia. mereka lebih berpendidikan & lbh tua dari kami, namun, kelakuanya masih sama seperti orang2 tidak berpendidikan. kata-katanya lbh tajam dari apapun bagi saya bisa dilihat sendiri comment2 dr mereka. MEREKA HANYA KORBAN FISIK (1orgkorban yg lukanya takseberapa) SEDANGKAN KAMI KORBAN SEGALANYA (fisik, mental, jiwa, masadepan, dsb). maaf, that’s all my opinion. just-my-opinion. terimakasih

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*