Stop Sebut Mereka “Orang Gila”

JAKARTA, “Orang gila”. Kata ini kerap digunakan masyarakat untuk menyebut mereka yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Penyebutan “orang gila” membangun stigma negatif bagi mereka yang terganggu jiwanya. Diskriminasi pun terjadi di lingkungan masyarakat.

“Tolong jangan sebut mereka lagi dengan orang gila. Jangan lagi ada label-label mengatakan mereka orang gila, edan, dan sebagainya,” ujar Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Eka Viora dalam acara memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, di Jakarta, Jumat (10/10/2014).

Seperti yang dialami banyak penderita gangguan jiwa berat skizofrenia, orang awam sering menyebut mereka “orang gila”. Padahal, penyebutan ini bisa membuat mereka merasa tertekan. Tak sedikit pula keluarga ataupun lingkungan sekitar yang menganggap orang dengan skizofrenia (ODS) sebagai aib sehingga dikucilkan.

Seperti disebut dalam Undang-Undang Kesehatan Jiwa, mereka adalah orang dengan gangguan kejiwaan (ODGK) atau orang dengan masalah kejiwaan (ODMK). Mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

“Mereka masih punya harapan. Mereka bisa diobati. Di jaminan kesehatan nasional sudah dijamin,” kata Eka.

Stigma negatif yang melekat pada mereka justru akan menghambat kesembuhan. Pengobatan juga tidak hanya dilakukan secara medis. Dukungan keluarga dan lingkungan juga sangat diperlukan. Pemerintah pun kini telah memiliki regulasi yang kuat untuk menjamin orang dengan gangguan kesehatan jiwa melalui UU Kesehatan Jiwa.

Baca Juga :  Pengentalan Darah, Waspada Bahayanya

Menurut Eka, pemerintah akan terus membenahi pelayanan kesehatan jiwa mulai dari puskesmas. Pemerintahan baru di bawah pimpinan Joko Widodo nanti harus segera membuat 5 peraturan turunan dari Undang-Undang Kesehatan Jiwa yang baru saja disahkan ini.

/KOMPAS.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*