Suhu Air Sekitar Gunung Anak Krakatau Naik, Warga Diminta Menjauh

Gunung Anak Krakatau mengeluarkan benda material panas saat letusan pada 30 Oktober 2007 lalu. Dok.TEMPO/Arie Basuki

Suhu air laut di perairan Selat Sunda memanas akibat aliran material vulkanik atau lahar yang keluar dari letusan Gunung Anak Krakatau. Namun hingga kini, belum diketahui berapa celsius peningkatan suhu permukaan air laut disekitar gunung tersebut.

Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Cinangka Kabupaten Serang, Anton Tripambudi, mengatakan, letusan dan dentuman yang keluar akibat letusan Gunung Anak Krakatau tersebut mengakibatkan suhu air laut di perairan Selat Sunda meningkat. Namun dirinya belum menghitung kenaikan suhu air laut akibat aliran material vulkanik yang jatuh ke laut.

“Kami belum mengetahui kenaikan suhu air laut itu. Namun kami himbau agar warga selalu waspada dan jangan mendekat hingga radius 2 kilometer ” kata Anton, Selasa (2/11).

Dari data seismograf di Pos Pemantau Gunung Anak Gunung Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, telah terjadi peningkatan jumlah gempa tremor dibandingkan dengan Senin (1/11) lalu, dari 151 kali menjadi 229 kali.

“Meningkatnya jumlah tremor membuat banyak material vulkanik keluar dari dalam Gunung Anak Krakatau,” ujar Anton.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Banten, Achmad Sarialam mengatakan, hunian hotel di sepanjang Pantai Anyer, Kebupaten Serang hingga Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang tidak terpengaruh dengan adanya aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini.

Baca Juga :  Jika Terbukti Ijazah Palsu, PNS Dipenjara, ya Otomatis Bisa Dipecat

“Hunian hotel masih normal dan masih banyak tamu yang sengaja datang ke hotel untuk menggelar acara,” kata Achmad Sarialam, Selasa (2/11).

Bahkan, kata dia, di Pantai Anyer, terdapat kegiatan Festival Internasional Pemuda Olah Raga Bahari (FIPOB) Ke 5 yang dibuka oleh Menpora Andi Malaranggeng di Hotel Sol Elite Marbela, Pantai Anyer. “Jadi tidak ada dampak yang signifikan akibat Aktivitas Gunung Anak Krakatau itu,” ujarnya. (tempointeraktif.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*