Sukaduka Masinis KA; Tak Rela Selalu Jobjek Kesalahan

KECELAKAAN kereta api (KA) di Pemalang yang menelan korban jiwa berjumlah besar, mengingatkan kita pada tragedi serupa di Bintaro, Jakarta 19 Oktober 1987 silam. Dalam musibah tersebut jumlah korban tewas bahkan mencapai 129 orang. Adalah Slamet Suradio, (71) warga Dusun Krajan Kidul RT 02 RW 02, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, yang menjadi masinis KA 220 jurusan Tanah Abang-Merak naas tersebut. Suradio ternyata hingga kini masih trauma dengan kecelakaan tersebut.

Bahkan ketika terjadi kecelakaan di Pemalang, Suradio pun mengaku masih trauma karena mengingatkan kecelakaan Bintaro tersebut.

”Terus terang hingga kini saya masih trauma dan miris jika mendengar berita kecelakaan kereta api. Sebagai seorang masinis saya bisa membayangkan apa yang dirasakan seorang masinis yang mendapat musibah hebat seperti itu,” kenangnya.

Menurut Slamet, tragedi Bintaro terjadi pada Senin Pon, 19 Oktober 1987 tepat pukul 07.30. Saat kejadian Slamet berada di lokomotif KA 220 dan ketika maut berada di depan matanya, ia hanya mampu berteriak Astagfirullahaladzim berulang-ulang, sambil mencoba se-kuat tenaga mengerem dan membunyikan klakson kereta.

Saat tabrakan, ia sudah tidak sadarkan diri. Ia baru tersadar ketika sudah masuk ICU rumah sakit Kramat Jati Jakarta dengan luka patah kaki kanan, retak pinggul lima centimeter, dan semua giginya rontok akibat terhantam handle rem kereta dan terlempar hingga belakang jok kursi masinis.

Baca Juga :  Pekerja Tuntut Enam Hal dalam Peringatan Hari Buruh

“Waktu itu saya hanya melihat signal aman ketika memasuki halte Pondok Bitung. Namun secara bersamaan dari arah berlawanan tibatiba muncul KA 225 Jurusan Rangkas Bitung- Jakarta. Lalu duarrr…! tabrakan maut itu pun tidak bisa terhidarkan. Kecepatan kereta yang saya kemudikan saat itu sekitar 40 Km/jam,” ujar Slamet.

Menurut Slamet, ia turut prihatin apa yang dirasakan masinis KA Argo Bromo Anggrek (M Halik Rusianto) yang memiliki nasib sama dengannya. Masinis selalu menjadi objek penyelidikan dalam kecelakaan kereta. “Hemat saya, sebaiknya ceritakan apa adanya. Setahu saya seorang masinis baru akan menjalankan kereta atau memasuki stasiun ketika ada sinyal aman dari petugas pemberitahuan tentang persilangan,” ujarnya.

Dia mengimbuhkan, apabila hal itu yang terjadi di Petarukan, Pemalang, dirinya tidak terima jika masinis dikambinghitamkan. Dia bahkan menyatakan siap untuk menjadi saksi ahli dalam kejadian itu. Slamet juga mengaku mendapat tekanan dari beberapa pihak pascakejadian Bintaro. Dari interogasi normal kepolisan hingga todongan pistol untuk memaksa dirinya mengaku telah menjalankan kereta tanpa aba-aba. Dr-yan

Sumber: http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=41832&Itemid=1

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*