Sumber Daya Alam Dimungkinkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kecamatan Marancar

Oleh: Feber Sormin *)

Judul ini membuat saya teringat sekitar 25 tahun lalu Desa Haunatas, Kec. Marancar, Tapanuli Selatan, yang dulu masih masuk wilayah Kec. Batangtoru, Tapsel.

Saat wilayah desa-desa lain diluar luat Marancar sudah menikmati Penerangan dari PLN maka di Luat Marancar hal itu menjadi sangat yang tidak memungkinkan.

Sehingga saya masih mengingat orang Tua saya saat membuat Listrik di Desa kami dengan Tenaga Mesin seperti Mesin Genset, dan setelah beberapa saat muncul Penerangan Listrik dari PLTA yang dibangun oleh warga dikampung. Serta hal-hal demikian diikuti beberapa warga di kampung lainnya di Luat Marancar. Jam nyala listrik dibatas dengan Sore hari hingga Jam 10 Malam dan pagi dari Jam 5:00 WIB hingga jam 8:00 WIb atau bisa lewat jika ada sesuatu hal karena kebutuhan warga. Namun tidak bertahan lama kondisi ini, karena kemampuan Manajemen dan kelistrikan yang masih terbatas saat itu. Lalu ada beberapa warga yang membuat PLTA di sungai Marancar tepatnya beberapa kilometer di sebelah hulu Sungai Marancar dengan Daya yang lebih besar, namun hal ini juga gagal total mengingat Dana dan Pengelolaan manajement yang kurang serta lemahnya SDM dalam mengelola SDA yang ada.

Hingga menjelang tahun 1990annn PLN masuk ke wilayah Luat Marancar khususnya bagian Marancar Timur,dan masa itu masih Kec. Batangtoru. Masuknya PLN ke wilayah ini, secara otomatis membuat sedikit ada perubahan-perubahan, misalkan mulai masuknya elektronik berupa TV dan elektronik lainnya serta mulai lancar arus informasi dari Luar Luat Marancar. Namun Listrik yang tadinya diharapkan memberikan harapan-harapan bagi masyarakat untuk membantu kehidupan perekonomian di Luat Marancar akhirnya tidak sebagus yang diharapkan, dan sudah bertahun-tahun listrik ke daerah ini tidak stabil. Bahkan Mati Listrik di wilayah ini sudah menjadi biasa dan hampir tiap hari, atau bila tidak padam/mati listrik dari PLN maka arusnya yang sedikit, sehingga untuk menyalakan satu TV pun tidak sanggup di rumah-rumah warga. Dan kondisi ini berlangsung dari tahun ke tahun dan tidak jarang mati listrik lebih lama daripada nyalanya setiap hari.

Kondisi ini membuat Warga tidak terlalu berharap terhadap PLN untuk memperbaiki mutu pelayanannya di Luat Marancar khususnya bagian Timur (sekitar 15 desa lebih).

Seiring berkembangnya tehnologi dan elektronik beberapa bulan terakhir ke wilayah ini dan sesuai kemampuan masyarakat, saat ini masyarakat mulai menggunakan mesin Genset untuk kepentingan Rumah Tangga, Usaha-usaha/kedai/warung dan juga untuk kepentingan rumah Ibadah. Mengingat Listrik di Daerah ini saat ini benar-benar telah menghilangkan rasa kepercayaan masyarakat terhadap PLN akan pelayanannya, namun masyarakat tetap menggunakan PLN, hanya sudah diantisipasi setiap hari khususnya setiap malam. Karena tidak jarang PLN hanya nyala beberapa jam dalam 24 jam dan itu tidak teratur dan tidak ada pemberitahuan. Untuk menghindari kerusakan-kerusakan elektronik milik warga, maka warga di Luat Marancar saat ini lebih memilih memakai Mesin Genset walaupun hal biayanya pasti lebih mahal. Namun bagi mereka yang tidak memakai hanya untuk kepentingan rumah tangga saja, bisa menyalakan sewaktu-waktu saja untuk menghemat penggunaan Bensin Mesin genset tersebut.

Baca Juga :  Gubernur Sumut Yang Seperti Apa Yang Kita Harahapkan?

Jika kita melihat Sumber Daya Alam di Kec. Marancar yang rata-rata pegunungan dan dikelilingi Hutan yang masih terbilang baik, dan banyaknya aliran-aliran Sungai yang mempunyai Arus Air di Sungai yang masih agak stabil, maka Sumber Daya Alam ini sangat memungkinkan dikelola untuk pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Air. Minimal untuk Kebutuhan Luat Marancar/kecamatan Marancar. Saya jadi teringat ada tulisan di Media massa disalah satu daerah di Sumatera Barat menggunakan PLTA di Suatu wilayah yang terdiri dari beberapa Desa dan mereka kelola secara Swadaya. Dan HIngga saat ini mereka sangat tercukupi kebutuhan Listrik bahkan lebih hanya gara-gara memamfaatkan Sumber Daya Alam untuk kebutuhan Listrik. Pengelolaan PLTA ini juga mereka lakukan gara-gara Listrik di Daerah ini sering mati dan tidak bisa diprediksi jam berapa mati dan jam berapa nyala, mengingat hampir tiap hari listrik mati. Sehingga dengan kesepakatan masyarakat dari beberapa desa mereka membuat Listrik dengan PLTA dan pembiayaannya ditanggung secara bersama-sama. Bahkan keuntungannya bukan hanya penerangan tapi pengaiaran yang terhadap sawah di Daerah ini semakin baik dan lancar hanya gara-gara memamfaatkan SDA yang ada.

Wilayah Kec. Marancar yang memiliki Sungai diantara tebing-tebing pegunungan yang sangat dekat dengan perkampungan sangat memungkinkan untuk dibuatkan PLTA yang bisa untuk kebutuhan Kec. Marancar, bahkan bila dikelola dengan baik bukan tidak mungkin berlebihan. Pihak Pemda Setempat, Pengusaha, atau Organisasi masyarakat bisa memberikan arahan terhadap masyarakat agar bekerjasama membuat PLTA di Kec. Marancar secara Gotong royong. Tentunya akan lebih baik lagi jika Pihak Kecamatan atau kepala Desa atau masyarakat yang mengerti akan hal itu bisa menjadi motor untuk pemamfaat SDA di Wilayah ini menjadi Penerangan yang murah dan berkecukupan.
Jika ada yang menggerakkan ini, bukan tidak mungkin masyarakat akan mendukung secara semangat mengingat penderitaan terhadap penerangan yang selama ini tidak terpenuhi bahkan sangat memprihatinkan.

Baca Juga :  SBY akan Mengamandemen Konstitusi .... ?

Jika saat ini lagi banyaknya dana PNPM untuk mendukung sarana prasarana di Desa-desa, maka hendaknya pihak Kecamatan bekerjasama dengan Pihak Desa yang terkait dan tokoh masyarakat perlu mempertimbangkan agar penggunaan PNPM bisa digunakan untuk pembuatan PLTA di wilayah ini. Mungkin tidak sekaligus, namun dengan banyaknya Sungai di wilayah Kec. Marancar yang sangat memungkinkan dibuat PLTA, maka penggunaan PNPM sangat memungkinkan digunakan untuk pembuatan Sarana Kelistrikan di Daerah ini dengan pengelolaan Masyarakat serta memaksimalkan SDM dan SDA yang ada di Kec. Marancar guna mendukung kehidupan roda perekonomian di wilayah ini.

Jika hal ini dilakukan maka saya percaya Luat Marancar/Wilayah Kec. Marancar tidak akan pernah kekurangan Listrik/Penerangan lagi sepanjang masa dan mamfaat dari PLTA itu akan mempengaruhi kesemua sektor termasuk meningkatkan rasa cinta Masyarakat untuk menjaga debit sungai air dan pemeliharaan Hutan disekitar wilayah ini.

Akhir kata, mudah-mudahan Penerangan di Wilayah ini bisa secepatnya beralih ke PLTA dan tidak selalu mengharapkan Listrik dari PLN, dan PLN bisa mengalihkan arusnya ke wilayah lain di Tapanuli Selatan.

*) Penulis  adalah Pemerhati Perkembangan Dan Pebangunan Daerah Tapanuli Selatan Khusus-nya Kec. Marancar. Bekerja Sebagai Konsultan Perpajakan dan Tinggal di Jakarta. Blog: http://komunitasmarancar.blogspot.com/

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*