Sumut 10 Besar Kasus HIV/AIDS

Aktivis kemanusian sedang membagi-bagikan bunga mawar kepada sejumlah pengendara, dalam rangka peringatan Hari AIDS sedunia, Minggu (30/11). (Foto/JPNN)

MEDAN – Sumatera Utara (Sumut) termasuk dalam 10 besar provinsi di Indonesia yang memiliki kasus HIV/AIDS (human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome) di Indonesia.

Rentang usia 15 hingga 49 tahun adalah usia dominan ODHA (orang hidup dengan HIV/AIDS), yaitu 90 persen dari total kasus yang ditemukan. Untuk itu, agar program penanggulangan HIV/AIDS di Sumut dapat berjalan lancar, sudah dibentuk Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB).

Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) Dinkes Sumut, NG Hikmet menuturkan, LKB ini akan dikelola di Puskesmas-puskesmas yang ada di Sumut. Memang hingga kini LKB masih dalam proses sosialisasi. Namun, Hikmet yakin program ini akan berjalan dengan baik jika didukung masyarakat. Menurut Himet, LKB dibentuk supaya bukan hanya pemerintah dan lembaga sosial peduli HIV/AIDS saja yang bergerak dalam penanggulangan, namun juga masyarakat sendiri.

“Nantinya, masyarakat akan menjadi kader yang mendekatkan layanan kesehatan kepada ODHA. Karena hingga kini, masih banyak kita jumpai ODHA yang enggan memeriksakan kesehatannya,” ujar Hikmet, Minggu (30/11).

Kehadiran masyarakat dalam penanggulangan ini, lanjut Hikmet, diharapkan bisa mempercepat penemuan kasus HIV sehingga bisa ditanggulangi sejak dini. Selain itu, dengan semakin besarnya pengetahuan tentang HIV/AIDS, masyarakat tidak lagi mendiskriminasi ODHA, sehingga para penderita bisa membuka diri.

Baca Juga :  Dana Desa Tapsel Rp 57 M Masih Terganjal PP

Terkait penanggulangan penyakit ini, menurut Hikmet pemerintah menggandeng NU (Nahdatul Ulama) dan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) yang dibiayai GF (Global Fun) untuk dana penanggulangan HIV/AIDS. Namun Juni 2015 nanti, program GF akan dihentikan. Tapi, Hikmet mengaku yakin setelah Juni nanti Sumut dapat berdiri sendiri dalam program penanggulangan.

Karena hingga sekarang, semakin banyak kabupaten/kota yang sudah mengalokasikan dana untuk penanggulangan penyakit yang menular melalui hubungan seksual tidak aman, transfusi darah serta penularan ibu penderita kepada anak yang dilahirkan ini.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumut, Rachmatsyah menjelaskan dalam pencegahan penularan baru kasus HIV/AIDS, diperlukan upaya gotong royong, komprehensif dan berkesinambungan dalam penanggulangan di masyarakat. Karena hingga kini, peningkatan penemuan kasus terus terjadi.

Bahkan kini, kelompok yang tertular HIV telah berkembang kepada kelompok risiko rendah, yaitu perempuan dan anak. Masalah yang hingga sekarang masih terjadi, jelas dia, stigma dan diskriminasi masih dialami ODHA di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, dalam Peringatan Hari AIDS Sedunia, Senin (1/12), KPA kembali mengajak pemerintah, stakeholder dan masyarakat memerhatikan dan menanggulangi bersama masalah ini.

“Dalam puncak kegiatan Hari AIDS Sedunia yang dipusatkan di Lapas Tanjung Gusta, kita membuat tema ‘Cegah dan Lindungi Diri, Keluarga dan Masyarakat dari HIV/AIDS’. Melalui tema ini, diharapkan masyarakat dapat teredukasi bahwa HIV/AIDS tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, namun masalah sosial lainnya,” tukasnya. (nit)

Baca Juga :  Cermin 7 - Album Baru dan fresh Dari God Bless

/METROSIANTAR.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*