Sumut Butuh Studio Film

Bersihar Lubis
Bersihar Lubis
Sumut Butuh Studio Film

Saya gembira mendengar geliat film di daerah ini. Sebuah film berjudul “Ilu Namaraburan” diluncurkan di sebuah kafe di Medan, Sabtu (11/3) lalu. Inilah, film perdana produksi PT Pelita Utama yang dipimpin Friendky Pasaribu dan disutradarai Pontyanus Gea dan skenario ditulis Bonardo Sinaga.

Sebetulnya, sudah ada 4 karya film berbahasa Batak karya Pontyanus Gea. Bahkan juga telah menghasilkan film berbahasa Nias, seperti Ono Sitefuyu dan Lua-Lua Bowo Sebua. Selain Ponti Gea masih ada sutradara Shaut Hutabarat.

Bersihar Lubis – Penulis

Tanah Karo pun tak ketinggalan dalam produksi film daerah. Di antaranya Jinaka, Dalan Robah, Melumang La K

epaten, Erpudun La Erpadan, Rondong Durhaka, dan Nggara karya sutradara muda Ori Semloko.

Masih ada pekerja film seperti Onny Kresnawan, Diana Saragih, Baharudin Saputra, Yan Amarni Lubis dan sejumlah nama lainnya di Medan.

Di Kabupaten Mandailing Natal ada Djeges Art yang dikomandani Askolani Nasution sejak 2010 sudah memproduksi 11 judul film. Di antaranya Biola na Mabugang, dan Willem Iskandar.

Juga Sanggar Pelangi Nusantara Tapanuli Tengah yang memproduksi film berjudul: Rubiahku Tapian Nauli pada 2016 lalu. “Film ini berkisah tentang penyiaran agama Islam di Tapanuli Tengah,” kata Hasridawati Tambunan, pimpinan produksi Pelangi Nusantara.

Sesungguhnya, Sumut pernah berjaya di kancah perfiman nasional. Film Turang (Rentjong Film) pernah meraih citra dalam FFI ke-2 pada 1960 disutradarai oleh Bachtiar Siagian. Saat itu, film Kunanti Di Djogdja (Radial Film) meraih Piala Citra untuk Skenario Terbaik. Radial Film didirikan pada 1953 oleh Mohammad Said, Amir Jusuf, dan Edisaputra.

Baca Juga :  Pelanggaran Aturan Pengelolaan APBD di Sumut Marak

Masih ada film Kuala Deli (1954), Sungai Ular (1961), A Sing Sing So (1963), Butet (1974), Buaya Deli (1978), Sorta (1982), Musang Berjanggut (1983),dan Secangkir Kopi Pahit (1985) dan puluhan karya lainnya.

Maraknya karya film inilah yang mendorong Gubernur Marah Halim Harahap membangun Studio Film Sunggal pada 1981. Sayang, studio ini tersia-sia. Bangunannya rusak dan aset-asetnya hilang.

Semoga dengan maraknya produksi film di Sumut akan mendorong pemerintah kembali membangun studio film. Tentu saja akan menggelorakan industri kreatif, karena produk film itu dijual berupa CVD dan DVD yang beredar di pasar: (Bersihar Lubis)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 2 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*