Sumut Masih Didominasi Narkoba

Penutupan akhir tahun kasus narkotika dan obat berbahaya (narkoba) di Sumatera Utara (Sumut) yang masuk dari penyidik kepolisian sebanyak 12.653 kasus, termasuk narkoba jenis ganja, shabu, heroin, ekstasi, dan putaw.

“Berdasarkan berkas yang masuk, sebagian besar yang banyak ditangkap itu, pemakainya saja. Kalau pengedar, jumlahnya masi relatif kecil,”  kata Asisten Tindak Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu),  Warsa Susanta, tadi sore.

Menurut Wara, untuk kasus lainnya, seperti judi, kekerasan dalam rumah tangga, perdagangan manusia, pembunuhan, penggelapan, dan pencurian sebesar 40 persen. Masih banyak kasus narkoba yang terjadi setiap tahunnya dikarenakan pengedar dan pedagangnya masih belum bisa ditekan.

Sehingga, tuturnya, peredaran narkoba di Sumut hingga kini masih tergolong tinggi. Hal ini terbukti, kasus narkoba masih mendominasi perkara yang masuk ke kejaksaan. Dari 4.046 perkara pidana umum yang disidangkan selama 2010, 60 persen merupakan perkara yang berkaitan dengan narkotika.

Humas Pengadilan Negeri (PN) Medan, Ahmad Guntur, membenarkan narkoba masih mendominasi wilayah Sumut. Sedangkan sisanya termasuk perkara pencurian, perampokan, pembunuhan, penganiayaan, penggelapan, pencabulan, perdagangan anak, dan tindak pidana korupsi.

Ahmad menjelaskan, ada sepuluh perkara korupsi yang dianggap sudah selesai perkaranya. Dua divonis bebas, dan tiga masih berjalan dipersidangan, yakni perkara dugaan korupsi Kebun Binatang Medan (KBM) dengan tiga terdakwa, yakni Ramli Lubis, Tarmizi, dan Heryono.

Baca Juga :  Asas Praduga Tak Bersalah, Mendagri Belum Akan Nonaktifkan Gubernur Sumut

Kemudian dugaan korupsi Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Medan dengan terdakwa Syarifuddin dan Ramlan. Serta dugaan korupsi pembangunan gedung Politekes Medan dengan terdakwa Jeremias Sinaga, dan dugaan korupsi Panwaslu Kota Medan dengan terdakwa Fachrudin Majlul dan Ita Hariani.

“Semuanya masih dalam tahap pemeriksaan saksi. Kemungkinan putusannya awal 2010. Untuk kasus lainnya yang telah diputus, yakni kasus praperadilan 27 perkara dan pradilan perikanan 77 perkara.  Sedangkan perkara perdata, 475 sudah diputus, terdiri atas permohonan gugatan 273 dan gugatan niaga,” ungkap Ahmad.

Selanjutnya, erang Ahmad, perkara peradilan hubungan industrial (PHI) 92 yang telah diputus dari jumlah total yang masuk 109 perkara, terdiri atas 88 perkara pada tahun  2010 dan 21 perkara sisa 2009. Sedangkan 17 perkara lagi tengah dalam proses, dan jumlah hakim yang menangani perkara dipersidangan 34 orang. (WASPADA.CO.ID)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*