Sumut Masuk Musim Hujan, Hati-hati Demam Berdarah….!

Dinkes Sumut: Hati-hati Serangan DBD

Masuk petengahan  di Mei ini, Sumut melewati musim panas dan masuk musim penghujan. Demikian prakiraan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Polonia,  Selasa (18/5).

Kepala Seksi (Kasi) Data dan Informasi (Datin) BMKG Cabang Polonia Medan, Firman AMG, menjelaskan hal ini  bisa dilihat, Sumut sudah masuk musim  hujan pertama di musim panas ini, seperti Selasa (17/5),  hujan gerimis yang panjang.

Lamanya intensitas hujan lebat maupun gerimis, untuk hujan lebat  berlangsung setengah hingga satu jam. “Sedangkan  panas diselingi gerimis berlangsung hingga satu jam lebih,” jelasnya.

Dengan cuaca demikian, Firman mengingatkan, puting-beliung dan petir yang saat ini harus diwaspadai, daerah yang berpotensi terjadinya ini antara lain Tanjungmorawa, Lubukpakam, Belawan, Mabar, Delitua, dan daerah dataran rendah yang mengarah piggiran pantai.

Selain daerah Pantai Timur daerah dataran rendah, BMKG juga menegaskan kepada seluruh masyarakat yang berdomisili di Pantai Barat seperti Madina, Tapanuli Tengah (Tapteng), Tapanuli Utara (Taput) berpotensi terjadinya banjir yang disebabkan curah hujan di daerah tersebut tinggi. Dan kewaspadaan juga diminta di daerah pegunungan. ”Sebab daerah pegunungan  ini berpotensi terjadinya tanah longsor,”himbaunya.
Selain itu, Firman juga menjelaskan bahwa hujan yang turun tidak menentu ini dapat terjadi di pagi hari, siang, sore dan malam. Pagi, siang dan sore umumnya hujan yang turun bersifat lokal. Berbeda dengan malam hari, hujan lebih luas atau merata.

Meskipun sudah memasuki hujan, BMKG juga menjelaskan bahwa kondisi ini juga membuat masyarakat merasa gerah, hal ini disebabkan panas bumi yang keluar tertahan oleh awan.

Baca Juga :  Becak Vespa Jadi 'Raja Jalanan Kota Sidimpuan'

Demam Berdarah Mengancam!
Memasuki musim hujan ini, masyarakat Sumatera Utara layak meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan penyakit  demam berdarah dengue (DBD) untuk Mei sampai tiga bulan ke depan.

Pasalnya, evaluasi Dinas Kesehatan Sumut (Dinkes Sumut) di lima tahun terakhir, memperlihatkan April adalah kasus terendah, dan kenaikan mulai kembali terjadi di bulan Mei.

Kepala Seksi Penanggulangan Pemberantasan Penyakit  Bersumber Pada Binatang (P3B2) Dinkes Sumut, Suhardiono, kemarin di ruang kerjanya mengatakan, terjadinya peningkatan kasus di Mei, diperkirakan karena curah hujan yang lebih banyak di Mei, berbeda dengan April yang lebih sedikit.

“Karena itu artinya akan banyak genangan air bersih,  tempat nyamuk Aedes Aegypty untuk berkembang biak. Namun dari evaluasi pada lima tahun ini, belum tentu akan juga terjadi di  Mei tahun ini,  namun tidak ada salahnya untuk kita mewaspadainya,”kata Suhardiono.

Untuk kewaspadaan ini, kata Suhardiono melanjutkan, Kepala Dinkes Sumut, akhir April 2010 telah mengirimkan surat edaran ke masing-masing kabupaten Kota yang intinya meminta  kewaspadaan peningkatan kasus DBD ini.

“Ini hanya bentuk kewaspadaan saja, yang mana intinya masing-masing kabupaten kota telah mengetahuinya sehingga bisa mengambil langkah pencegahan, seperti pengasapan,” katanya.

Untuk tahun ini, dari Januari sampai Maret, sebanyak 897 orang, di antaranya 398 kasus, 1meninggal di Medan. Namun sayangnya Dinkes Sumut belum menerima keseliruhan DBD di April 2010. “Sehingga kami belum mengetahui, apakah di Mei ada akan ada penambahan kasus,“ kata Suhardino.

Ia juga meminta kepada masyarakat agar tetap melakukan antisipasi dengan melakukan  pola hidup sehat, yakni dengan melakukan menguras, megubur dan menutup, mengubur barang barang bekas, menguras bak kamar mandi, menutup tempat air.

Baca Juga :  Biaya Rehab Rumah Dinas Walkot Sibolga Capai Rp6 M

“Sehingga  jika telah dilakukan, saya yakin tidak ada yang terkena. Nyamuk DBD berbeda dengan nyamuk malaria, yang suka dengan tempat-tempat kotor atau semak-semak. Karena itu DDB paling banyak ada di Medan,” kata Suhardiono.

Di tempat terpisah, Humas RSU Dr Pirngadi Medan, Edison Parangin-Angin, mencatat di April jumlah pasien  inap di RSU Dr Pirngadi Medan terkena DBD turun jika dibandingkan tiga bulan sebelum April.  Ia merincikan, Januari 26 orang, Februari 20 orang, Maret 25 orang dan April 16 orang. Total jumlah pasien inap DBD 87 orang.

Berdasarkan jumlah pasien, 1 di antaranya meninggal dunia penduduk asal Jalan Batang Serangan Langkat. Namun  daftar laporan pasien DBD di RSU Dr Pirngadi Medan, 90 persen adalah penduduk Medan, yakni satu dewasa dan sisanya anak-anak.

Sumber: http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&task=view&id=37283&Itemid=53

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*