Sumut Sejahtera untuk Siapa ?

Oleh: Amrizal Nasution *)
Gaung pemilihan Gubernur Sumatera Utara sudah semakin terasa. Kelima calon Gubsu dan Wagubsu disibukkan dengan berbagai aktifitas untuk mensosialisasikan program-programnya, visi misinya ke tengah-tengah masyarakat, dengan tujuan menarik perhatian dan dukungan masyarakat untuk memilih pasangan tersebut pada hari pencoblosan yang akan digelar pada hari Kamis tanggal 07 Maret 2013. Aktifitas yang super padat setiap harinya dari para pasangan cagubsu dan cawagubsu, menjadikan mereka seperti selebritis di tengah-tengah masyarakat. Harapan besar pun diletakkan di pundak mereka jika terpilih nantinya. Masalahnya sekarang apakah setelah terpilih nantinya, mereka masih akan komit menepati janjinya-janjinya seperti yang pernah diucapkannya? Wallahualam.

Gus Irawan Pasaribu yang berpasangan dengan Soekirman termasuk diantara lima calon yang akan bertarung memperebutkan kursi SUMUT 1, sebuah jabatan yang menjadi incaran banyak orang. Mengusung tema “Sumut Sejahtera”, pasangan ini mempunyai rencana untuk menciptakan peluang usaha bagi generasi muda dan memberdayakan pelaku usaha mikro dengan target angka kemiskinan di bawah lima persen. Indikatornya adalah adanya 10.000 wirausaha muda setiap tahun yang dibekali ketrampilan, modal dan pendampingan. Sebuah target yang sangat realistis yang coba dibangun oleh pasangan no urut satu, GusMan.

Masih banyak lagi program-program Sumut Sejahtera yang ingin diwujudkan pasangan ini, andaikata terpilih nantinya memimpin Sumatera Utara. Pertanyaannya sekarang adalah apakah program Sumut Sejahtera akan benar-benar menyentuh sampai ke seluruh lapisan masyarakat? Atau jangan-jangan hanya sekedar slogan manis yang menyejukkan? Jawabannya ada pada duet GusMan.

Sumut Sejahtera Untuk Siapa?

Sumatera Utara diibaratkan sebagai “sesosok gadis cantik yang diperebutkan banyak pemuda untuk meminangnya”, sebuah propinsi yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusianya dengan berbagai macam suku, agama, ras, telah menjelma menjadi sebuah propinsi yang sangat diperhitungkan di tanah air tercinta ini. Bahkan investor-investor dari luar negeri mempunyai minat yang tinggi untuk berinvestasi di propinsi ini. Medan sebagai ibukota propinsi Sumatera Utara, kota terbesar ketiga di Indonesia menjadi pintu gerbang utama perekonomian di bagian Barat Indonesia.

Berdasarkan kenyataan inilah, pasangan GusMan bertekad bulat untuk membuat Sumatera Utara menjadi lebih sejahtera dari keadaan sekarang ini dan menjadikan Sumut sebagai propinsi nomor satu di Indonesia dan semuanya ini dipersembahkan untuk masyarakat Sumatera Utara, tiada lain. Target yang berat tetapi bukan mustahil untuk mencapainya asalkan dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Dan GusMan bertekad untuk menjadikan tahun 2013 ini sebagai momentum kebangkitan Sumut menuju Sejahtera. Walaupun untuk mewujudkannya tentulah perlu pembenahan, perbaikan dan pengawasan agar berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Sebuah pekerjaan rumah untuk Sumut Sejahtera.

Baca Juga :  Masyarakat Sumut Kehilangan Sosok Oegroseno

Untuk melihat sejauhmana program Sumut Sejahtera dapat berjalan dan berhasil di tengah-tengah masyarakat, maka dirasakan perlu mensosialisasikannya lebih dalam lagi ke tengah-tengah masyarakat. Yang pertama angka kemiskinan menjadi 5 persen hingga 2018. Dengan jumlah penduduk Sumatera Utara lebih kurang 13 juta jiwa, maka target yang ingin dicapai yaitu jumlah penduduk miskin sebanyak 650.000 jiwa hingga tahun 2018. Pengurangan angka kemiskinan ini seiring sejalan dengan penurunan angka kelaparan, termasuk ke dalam salah satu program MDGs. Walaupun untuk menangani masalah kemiskinan tidak mudah karena banyak aspek yang harus disentuh di dalamnya, tetapi duet GusMan berpikir lebih realistis untuk mencapainya hingga tahun 2018.

Pemberian modal untuk 50 ribu Kepala Keluarga (KK) setiap tahun sebesar 500 ribu hingga 1 juta rupiah secara bergulir, menjadi salah satu sistem yang kreatif dan inovatif dalam menciptakan Sumut Sejahtera. Dengan demikian secara langsung akan mengangkat derajat dan penghidupan masyarakat yang miskin, untuk berusaha demi meraih penghidupan yang lebih baik lagi. Karena bagaimanapun, apabila baik perekonomian suatu masyarakat maka semakin sejahteralah masyarakat tersebut.

Dengan sumber daya alam yang melimpah seperti hasil pertanian, perkebunan, hasil laut, tambang dan mineral lainnya, menjadi langkah awal untuk menggerakkan perekonomian rakyat. Tentunya dengan sistem pengelolaan yang baik, pendidikan dan pelatihan bagi bermacam profesi di masyarakat, sistem birokrasi yang ramah dan tidak berlarut-larut, pembangunan infrastuktur yang menyentuh langsung ke daerah-daerah bahkan ke pelosok desa yang terpencil sekalipun yang selama ini jauh dari pantauan pemerintah propinsi, akan menjadikan masyarakat lebih sejahtera. Komitmen pasangan GusMan menjadikan Sumut sebagai propinsi nomor satu di Indonesia rasanya lebih terasa realistis.

Kemudian program Sumut Sejahtera adalah masyarakat dapat jaminan asuransi kesehatan. Hal ini bisa diselaraskan dengan akan bergulirnya program Sistem Jaminan Sosial Nasional pada 2014 nanti. Pembenahan dan peningkatan kualitas sarana dan prasarana rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu dan posyandu sudah menjadi suatu keharusan dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Jangan lagi ada pendiskriminasian di tengah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

Selanjutnya pendidikan gratis 12 tahun dan pendidikan ketrampilan bagi pemuda putus sekolah menjadi point ketiga Sumut Sejahtera. Tidak dapat dipungkiri pendidikan merupakan kunci utama maju mundurnya suatu bangsa. Dengan pendidikan gratis 12 tahun diharapkan tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah disebabkan ketiadaan biaya. Harus diingat bahwa anak-anak usia sekolah adalah generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa. Minimal 20 persen dari anggaran APBD harus diperjuangkan untuk pendidikan, demi terciptanya generasi muda yang berkualitas dan berakhlak mulia. Untuk para sarjana yang baru lulus dari perguruan tinggi, diarahkan supaya menjadi wirausahawan muda. Diharapkan dengan program Sumut Sejahtera ini dapat melahirkan 10.000 wirausahawan muda setiap tahunnya. Karena bagaimanapun sudah saatnya sekarang para lulusan sarjana menciptakan lapangan kerja baru, yang secara langsung juga akan mengurangi tingkat pengangguran.

Baca Juga :  Puasa, Ajang Introspeksi Nasional

Anti korupsi dan mereformasi birokrasi menjadi program Sumut Sejahtera yang mempunyai kredit tersendiri. Sekarang ini lebih dari setengah kepala daerah di Indonesia baik propinsi, kabupaten/kota yang terlibat korupsi. Komitmen GusMan untuk anti korupsi menjadi sebuah tantangan berat dengan banyaknya “godaan” yang akan mengerubuti mereka, akankah mereka sanggup? Keikhlasan dan kejujuran dalam bekerja menjadi kunci dari pertanyaan ini. Birokrasi yang berbelit-belit yang rawan akan terjadinya korupsi harus dipangkas dan direformasi. Jangan ada lagi istilah “kalau bisa dipersulit ngapain dipermudah”?

Penutup

Masyarakat sejahtera memang menjadi tujuan dari setiap negara dan bangsa di dunia ini, tidak terkecuali Indonesia. Dan Sumatera Utara yang akan memilih pemimpinnya akan berupaya sekuat tenaga untuk mencapai impian tersebut. Tentunya dengan dukungan dan kerjasama seluruh elemen di masyarakat, Sumut Sejahtera akan terwujud. Memang masih banyak lagi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, yang penting kita berusaha seterusnya biarlah menjadi urusan Yang Maha Kuasa. Komitmen GusMan untuk Sumut Sejahtera perlu didukung, menjadi lebih indah dan menyejukkan untuk diimplementasikan secara nyata di masyarakat. ***-analisadaily.com

*) Penulis adalah staf Yayasan Pusaka Indonesia

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Jargon kampanye Gus Irawan Sumut Sejahtra utk memenuhi syahwat politiknya menjadi Gubsu, kita apa motipasi Gus ingin jadi Gubsu, dari pengalaman dan kapasitas sangat jauh dari layak, pengalaman sebagai Dirut Bpdsu tdk cukup sbagai tolak ukur keberhasilan, selama hidupnya Gus hanya kerjanya di situ, mulai dari staf samapai direktur tentunya karena di kantrol oleh abang2nya. Yakin dia itu takkan diterima di bank umum atau perusahaan lain dgn pengalaman lokal begitu. Diahir masa jabatannya masih sempat ngembat duit bpdsu utk pasang potonya 24 M, tentunta utk pencitraan. (Samapai potonya betebaran dimana2 pohon, angkot, wc umum bahkan dibuang di Got). Kasus lain yg akan meledak adalah indikasi krupsi 344M, cukuplah sekali Gubsu di tangkap KPKsetelah terpilih………………

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*