Sungai Sangkunur, Kec. Angkola Barat, Kab. Tapanuli Selatan Meluap

Selasa, 02 Pebruari 2010 – www.metrosiantar.com

BANJIR- Jalan PTPN III Batangtoru yang terendam air sungai Sangkunur, Minggu (31/1). Terlihat kendaraan roda empat sulit melintasi genangan air

TAPSEL-METRO; Kelurahan Sangkunur, Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) selama ini selalu menjadi langganan banjir. Selain diakibatkan daerahnya dataran rendah, jarak sungai Sangkunur dengan pemukiman warga juga cukup dekat, yakni sekitar 10-20 meter. Dan setiap hujan deras sekitar 1-2 jam saja, maka air sungai akan meluap menutupi badan jalan, bahkan masuk ke rumah warga dengan ketinggian air bisa mencapai pinggang orang dewasa.

Beberapa anak desa di Kelurahan Sangkunur yang kerap menjadi langganan banjir antara lain Lembah Sangkunur, Sangkunur, Simataniari, dan lainnya. Bahkan seperti, Minggu (31/1) lalu, akibat hujan deras selama hampir satu jam, air sungai Sangkunur yang membentang ratusan meter mulai dari PTPN III Batang Toru hingga ke Sangkunur dan sekitarnya. Sebagian badan jalan PTPN III Batang Toru digenangi air sehingga menyulitkan para pengendara, baik roda dua maupun roda empat. Selain badan jalan, puluhan rumah warga juga terendam air.

A Dalimunthe, warga setempat kepada METRO, Minggu (31/1) sekitar pukul 17.00 WIB menjelaskan, kondisi tersebut sudah bukan merupakan hal yang aneh bagi mereka. Biasanya jika hujan tidak berlanjut, maka air akan kembali surut. “Memang tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, hanya saja areal persawahan warga yang terendam air dan masih beberapa bulan disemai diperkirakan rusak. Kita minta pemerintah untuk memperhatikan keadaan ini agar kami bisa hidup dan berusaha lebih tenang lagi tanpa takut akan banjir,” terangnya.

Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) bersama rombongan yang baru saja kembali dari kunjungan kerja ke Desa Batu Rosad yang masih wilayah Kelurahan Sangkunur mengatakan, akan secepatnya membuat beronjong ataupun meluruskan aliran sungai Sangkunur agar jika air sungai sangkunur meluap tidak sampai ke badan jalan ataupun ke pemukiman warga.

“Kita akan upayakan secepatnya, ini berbahaya jika dibiarkan terus,” ujar bupati yang berungkali turun dari mobilnya hanya untuk menanyai langsung kondisi masyarakat yang rumahnya terendam air.

Pantauan METRO, badan jalan khususnya menuju Simataniari tidak tampak lagi karena ditutupi air yang ketinggiannya selutut orang dewasa dan sulit dilalui kendaraan roda dua dan empat. Bahkan di jembatan Simataniari, ketinggian air mencapai sekitar sepinggang orang dewasa dan tidak bisa dilalui kendaraan roda dua, setidaknya selama satu jam. Sedangkan untuk kendaraan roda empat harus pelan-pelan karena airnya mencapai pintu mobil dengan arus yang cukup deras dan bahaya jika tidak hati-hati untuk melintasinya.

Ongku: 2011, Sangkunur Sekitarnya Mulai Dibangun

Masyarakat Kelurahan Sangkunur meminta kepada Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel), Ongku P Hasibuan dalam kunjungannya pertama ke desa itu, Minggu (31/1) lalu untuk membangun daerah mereka, khususnya infrastruktur jalan, jembatan, penerangan, kesehatan dan pendidikan.

Tokoh agama Batu Rosad, Yamohana Giawa meminta kepada Bupati Tapsel untuk lebih memperhatikan desa-desa yang masuk dalam Kelurahan Sangkunur. Di mana selain akses jalan sekitar dua kilometer panjangnya masih jalan tanah, sehingga akses kendaraan roda empat sulit untuk datang meskipun bisa, namun sangat sulit dilalui jika musim hujan tiba.

Tokoh masyarakat, Aliaman Giawa menambahkan, di desa mereka belum ada penerangan listrik. Dirinya meminta kepada Bupati Tapsel agar sekitar 500 kepala keluarga (KK) yang ada di Batu Rosad, Pasir Bidang, Aek Parira, Aek Tarutung, dan beberapa anak desa lainnya dimasuki penerangan listrik dan pembangunan jalan. Dirinya juga meminta kepada Bupati untuk kembali meluruskan Sungai Sangkunur yang semakin hari semakin dekat saja jaraknya dengan pemukiman warga. Di mana jika dulu jaraknya sekitar 20 meter dari pemukiman, saat ini tinggal 6 meter saja. Sehingga setiap musim hujan, jika air sungai meluap akan menggenangi badan jalan dan rumah warga.

Baca Juga :  Beranikah PEMDA TAPSEL, KANTOR POLISI, KANTOR TNI DAN DIREKSI PERUSAHAAN TAMBANG di Kec. Batangtoru Menjadikan air Limbah Menjadi Kebutuhan sehari-hari????

“Kami meminta kepada Bupati Tapsel untuk memperhatikan desa kami ini,” harapnya.

Selain pemasangan listrik dan pembangunan jalan, di desa mereka juga tidak ada tenaga kesehatan, karena tenaga kesehatan atau bidan desa tinggalnya jauh di Sangkunur, sehingga sulit untuk menjangkaunya. Mereka meminta kepada Bupati Tapsel untuk mengadakan tenaga kesehatan di daerah mereka yang terdiri dari beberapa anak desa.

Sementera itu warga Aek Parira di wakili tokoh masyarakat, Talizaro Zega langsung memberikan proposal bantuan untuk dibangun jembatan atau rambin menuju ke desa mereka kepada Bupati Tapsel, Ongku P Hasibuan dengan panjang sekitar 20-25 meter yang biayanya diperkirakan Rp350 juta.

Sementara itu Amir Hulu yang juga merupakan tenaga pendidik di sekolah dasar swadaya di daerah tersebut meminta kepada Bupati Tapsel untuk membangun sekolah di desa mereka, karena sejak dulu tidak ada sekolah di desa tersebut. Baru di tahun 1990, atas dasar swadaya masyarakat, maka dibangunlah sekolah dasar terbuat dari papan sebanyak 3 ruangan yang saat ini siswanya sebanyak 106 orang untuk kelas 10-3 yang diajar oleh tiga guru termasuk dirinya di Pasir Bidang.

Kemudian untuk kelas 4-6 sekolah di SDN Aek Tarutung sebanyak 317 orang yang jaraknya sekitar satu kilometer dari Batu Rosad dan dua kilometer dari Pasir Bidang. Kemudian di Pasir Bidang juga ada program paket A bagi siswa yang tidak lulus SD yang siswanya saat ini sebanyak 62 orang.

“Sekolah merupakan permintaan kami yang sangat mendesak Pak Bupati, karena tanpa pendidikan, anak-anak kami tidak akan maju-maju. Kami minta agar dibangun sekolah di daerah kami ini. Kalau masalah lahannya, kami sudah persiapkan hibah dari masyarakat,” pintanya.

Bupati Tapsel, Ongku P Hasibuan menjawab pertanyaan masyarakat tersebut mengatakan, untuk jalan tahun ini diperkirakan sekitar 2 kilomter akan dibangun dari Simataniari. Kemudian tahun 2011 direncanakan akan sampai ke arah Batu Rosad, Pasir Bidang, dan lainnya yang jaraknya dari Simataniari sekitar 2 kilometer. Sedangkan untuk SMP ada di Sirongit yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari Batu Rosad.

“Tidak sampai dua tahun lagi jalan pasti akan sampai ke tempat kita ini,” ujarnya.

Sedangkan untuk penerangan Pemkab Tapsel akan menjajaki kerja sama dengan PT PLN untuk memasang instalasi listrik ke daerah tersebut, atau paling tidak tiangnya akan dipasang oleh Pemkab Tapsel, dan PT PLN hanya tinggal memasukkan arusnya saja. Paling lambat rencana ini bisa diselesaikan pada 2011 mendatang. “Tahun 2011 akan segera kita upayakan,” sebutnya.

Untuk warga di Aek Parira, mengenai keinginan untuk dibangun jembatan atau rambin, Dinas PU akan melakukan tinjauan lapangan terlebih dahulu untuk memperkirakan asumsi biaya yang harus dikeluarkan. Dan kemudian, jika bisa dimasukkan anggarannya dalam P-APBD Tapsel TA 2010, maka kemungkinan akan bisa segera dibangun.

Baca Juga :  M Hidayat wujudkan masyarakat agamis

“Dananya butuh sekitar Rp350 juta dengan panjang antara 25-30 meter, mungkin bisa dibangun tahun ini,” ujar Kadis PU, Ir Arwin Siregar.

Untuk tenaga kesehatan atau bidan desa, Pemkab Tapsel akan memberikan sarana transportasi kepada bidan desa yang sudah ada agar bisa melakukan tugasnya sehingga bisa mencakup seluruh wilayah yang masuk dalam Kelurahan Sangkunur, termasuk Batu Rosad, Simataniari, Pasir Bidang, dan lainnya.

Sementara untuk bidang pendidikan, mengingat jumlah siswa yang sekolah dari beberapa anak desa tersebut sampai 423 orang, maka jika bisa ditampung dalam P-APBD Tapsel TA 2010 ini, segera akan dibangun sekolah baru sebanyak 6 ruangan atau sampai kelas 6. Karena dananya begitu besar sampai miliaran rupiah, maka anggarannya akan dimasukkan dalam APBD TA 2011 mendatang.

“Ini sangat prioritas mengingat dari jumlah siswa sudah sangat cukup untuk dibuat sekolah baru, makanya akan kita usahakan. Jika tidak bisa dianggarkan di P-APBD, maka akan kita anggarkan di APBD 2011 mendatang, dan akan kita tempatkan sekalian dengan guru-gurunya. Kemudian guru yang sudah ada akan kita berdayakan juga, apalagi kita sudah mengirim surat kepada Men PAN dan BKN, bagaimana kalau honor komite di angkat menjadi PNS agar tenaga pengajar lebih bergairah mengajar,” ujar Kadisdik Tapsel, Drs Marasaud menambahi keterangan Bupati.

Namun dirinya mengatakan bahwa hal tersebut bisa saja berubah atau belum bisa dipastikan, mengingat daerah yang akan dibangun di Tapsel bukan hanya Angkola Barat saja, tetapi 12 kecamatan dengan 493 desa dan 10 kelurahan yang ada di Tapsel. Semuanya mendapatkan prioritas pembangunan yang setara dan tidak ada perbedaan atau dianaktirikan.

Sementara itu, mengenai permintaan warga agar Sungai Sangkunur diluruskan dan di buat beronjong agar jika air sungai meluap tidak menggenangi jalan dan juga perumahan warga, Bupati Tapsel meminta kepada Dinas PU segera menempatkan alat berat untuk mengeruk pasir dan memindahkanya ke pinggiran, sehingga air sungai tidak akan masuk ke jalan atau ke perumahan warga .

“Ini memang sudah sering terjadi. Kita upayakan untuk dibuat beronjong. Saya pikir tahun ini bisa diselesaikan,” sebutnya. (phn)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*