Surat kepada Presiden – Pak Presiden, Anda Pidato Seperti Obama

AS Laksana – detikNews

Jakarta – Pak Presiden, seorang kawan yang mengaku selalu mengikuti tulisan-tulisan saya kemarin menyampaikan beberapa rincian tentang apa yang anda lakukan saat anda berpidato. “Kalau dia sedang bicara, tangannya pasti menengadah, telapak tangannya dadah, membuat lingkaran dengan jempol dan telunjuk, menarik nafas panjang, telunjuknya berdiri, bibirnya menciut,” tulisnya dalam surat yang ia kirim untuk saya.

Saya penasaran pada pengamatannya. Apakah anda benar seperti itu, Pak Presiden? Maksud saya, apakah anda sedang mencontoh gestur Barack Obama? Atau meniru bagaimana cara ‘anak Menteng’ itu meyakinkan orang banyak untuk mendukung dirinya?

Tentu saja Obama seorang komunikator yang sangat hebat. Jika tidak, akan sulit bagi dia memenangi pemilihan presiden di Amerika Serikat, negeri yang memiliki sejarah rasisme agak keterlaluan terhadap warganya yang berkulit hitam. Bahkan mungkin ia akan kalah seandainya diadu dengan kotak kosong. Ia berkulit hitam dan namanya mengandung ‘Hussein’, sesuatu yang mengundang antipati warga AS.

Namun ia berhasil merebut kepercayaan mayoritas pemilih di negeri itu. Dan saya melihat dalam berpidato ia selalu membuat tanda lingkaran dengan jempol dan telunjuk. Karena itukah ia bisa meraih kepercayaan? Tunggu dulu. Yang jelas, ia tahu bagaimana menjadikan dirinya bagian dari orang-orang yang mendengarnya. Di Kairo, misalnya, ia memulai pidatonya dengan assalamualaikum. Publik menerimanya hangat seketika dan, dengan salam itu, Obama telah menjadikan dirinya ‘bagian’ dari orang-orang yang hadir untuk mendengarnya. Setelah itu, apa yang ia sampaikan akan terdengar sebagai ucapan seorang kawan.

Mengenai jempol dan telunjuk yang membentuk lingkaran, saya kira itu ia pelajari dari Neuro-Linguistic Programming (NLP). Ia menciptakan jangkar (anchor) yang ia perlukan untuk membangkitkan perasaan tertentu di dalam dirinya. Mungkin untuk membangkitkan dan mempertahankan perasaan tenteram, atau rasa persahabatan, atau kepercayaan diri. Dan orang yang mendalami NLP, pastilah mempelajari dan memahami prinsip-prinsip komunikasi yang efektif–juga hipnosis.

Baca Juga :  Mobil Dinas Wakil Ketua DPRD Madina Berbulan di Jawa

Tampaknya ia mendalami NLP dan bisa mengamalkan apa yang ia pelajari dengan sangat baik. Dengan elegan ia bisa menjinakkan prasangka orang-orang Amerika terhadap namanya. Untuk keperluan itu dikutipnya omongan seseorang, “Hai, dari mana anda mendapatkan nama yang lucu itu?” Lihatlah, ia memberi tahu orang-orang Amerika bahwa namanya lucu, bukan menakutkan. Dan mari kita lihat juga bagaimana ia memperkenalkan dirinya ketika memilih terjun ke dunia politik. Ia juga menyampaikannya secara tidak langsung melalui omongan seseorang tentang dirinya: “Kulihat kau orang jujur, tetapi saya ingin tahu apakah kau akan tetap jujur ketika memasuki dunia politik yang kotor.”

Serileks itu ia menyatakan diri dan, Anda tahu, ia memiliki rasa percaya diri akan tujuan yang hendak ia capai. Tahun lalu, pemerintah AS memberi talangan 180 miliar dolar kepada perusahaan asuransi raksasa AIG agar dapat bertahan dan tidak merusak sistem keuangan yang lebih besar. AIG menggunakannya untuk menutup kerugian, menyuntik beberapa bank di AS dan Eropa, dan memberikan bonus besar-besaran kepada karyawannya. Ketika warga melakukan demo atas pemberian bonus yang terasa kurang ajar itu, Obama cepat-cepat menyatakan, “Saya bertanggung jawab.”

Saya baca berita waktu itu bahwa ia marah terhadap pembagian bonus yang mencapai 165 juta dolar, tetapi membela kebijakan Menkeu Timothy Geithner. Dan Menkeu lantas bekerjasama dengan Departemen Kehakiman mengurus kemungkinan menarik kembali pembagian bonus dari dana talangan yang membuat rakyat AS marah. Dana itu berasal dari pajak warga negara.

Baca Juga :  Drainase Tersumbat - Warga Tanam Pohon Pisang di Badan Jalan

Sampai di sini saya tidak berminat mengetahui apakah upaya penarikan kembali bonus itu berhasil atau tidak. Itu urusan orang Amerika sana. Lebih penting bagi saya untuk mendengar bahwa akhirnya anda menyatakan bertanggung jawab, meskipun ada yang bilang bahwa itu semestinya anda ucapkan sebelum kasus Century berlarut-larut. Juru bicara anda sempat meralat pernyataan tanggung jawab itu, dan anda kemudian meralat juru bicara anda untuk kembali ke pernyataan semula. Sepertinya anda sedang bermain pingpong dengan juru bicara anda sendiri.

Sebelum mengakhiri surat ini saya ingin sedikit bertanya, karena pernyataan tanggung jawab anda mengandung buntut, “…meskipun saya di luar negeri, dan saya tidak memberikan instruksi.” Jadi, apakah Pak Boediono dan Bu Sri Mulyani mengambil langkah sendiri tanpa berkoordinasi dengan anda, Pak Presiden? Dan apakah tanggung jawab anda itu melulu pernyataan politis belaka atau mengandung konsekuensi hukum jika kasus ini arahnya ke sana?

Salam dari saya,

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*