Tak Miliki Lumbung dan Penggiling Padi – Produksi Padi dan Kedelai Digudangkan di Rumah

Palas. Setelah bertahun-tahun menekuni usaha pertanian padi sawah, padi darat atau padi gogo dan kedelai dengan hasil produktivitas yang dirasa cukup baik, namun hingga kini petani yang tergabung dalam gabungan kelompok tani (Gapoktan) Jaya Muda di Kecamatan Sosa, Kabupaten Padang Lawas (Palas) belum memiliki lumbung padi dan mesin penggiling padi.

Akibatnya hasil panen padi sawah, padi gogo dan kedelai dari para petani di sini kerap disimpan di rumah ketua gapoktan. Tentu saja, dari hasil panen padi dan kedelai yang jumlahnya berton-ton dan disimpan di dalam rumah bersama-sama dengan penghuni rumah, sanitasi dan sirkulasi udara di dalam rumah tersebut dirasakan kurang baik bagi kesehatan penghuninya.

“Dari hasil panen padi gogo tahun lalu, sampai sekarang masih disimpan tujuh ton di rumah saya. Sedangkan hasil panen kedelai yang disimpan di rumah saya sampai kini, masih tiga ton lebih,” ungkap Ketua Gapoktan Jaya Muda Tarmizi Lubis, kepada MedanBisnis, kemarin.

Tahun 2015 lalu, katanya, mereka bertanam padi gogo seluas 300 hektare dengan hasil produksi lima ton per hektare. Total hasil panen padi gogo tahun lalu 1.500 ton. Tapi, sebagian besar hasil panen sudah dijual dalam bentuk padi ke toke di Sibuhuan, harganya sebesar Rp 6.000/kg.

Sedangkan kegiatan pertanaman kedelai tahun 2015 lalu, lanjutnya, seluas 35 hektare (ha) dengan hasil produksi 2,8 ton/ha, dengan total hasil produksi kedelai varietas Anjasmoro sebanyak 98 ton. “Karena ketiadaan lumbung atau gudang padi dan kedelai, petani menjual hasil panen padi gogo dan kedelai ke satu agen di Pasar Sibuhuan. Harga jual kedelainya Rp 11.000 perkilogram,” ujarnya.

Baca Juga :  Renault Luncurkan R31

Walapun hasil panen padi gogo dan kedelai dari petani sudah dijual, tambahnya, sampai kini masih tersimpan tujuh ton padi gogo dan tiga ton kedelai di rumahnya, yang rencananya akan dijadikan benih padi gogo dan benih kedelai pada musim tanam padi gogo tahun ini, menunggu turunnya hujan.

“Kalau benih padi gogo kita ini termasuk benih padi gogo lokal, tapi kualitas produksi sudah teruji, itu sebanyak lima ton perhektare. Sedangkan benih kedelai yang masih disimpan, itu benih kedelai varietas Anjasmoro, yang sudah diuji demplotnya dengan produksi 2,8 ton perhektare. Benih kedelainya juga sudah diberi label sertifikat oleh BPTP Provinsi Sumut dengan label benih BR 1,” jelasnya.

Gapoktan Jaya Muda, yang sampai kini aktif membina tujuh kelompok tani (Poktan), yakni Poktan Sinar Jaya, Jaya Muda, Rotama, Nafas Sosa, Maju Bersama, Bintang dan Poktan Suka Maju, berlokasi di Desa Pasir Jae, Hurung Jilok dan Desa Roburan Kecamatan Sosa ini, sangat berharap mendapat bantuan bangunan lumbung atau gudang penyimpanan padi dan kedelai, juga mesing penggiling padi.

“Selama ini, kami hanya menjual padi gogo kepada agen di Pasar Sibuhuan dengan harga jual padi gogo sebesar Rp 6.000/kg. Kalau kita punya mesin penggiling padi sendiri, tentu kita sudah bisa menjual beras padi gogo seharga Rp 9.000/kg sampai Rp 10.000/kg. Tentunya hal ini bisa meningkatkan pendapatan ekonomi petani kita,” pungkasnya. (maulana syafii)

Baca Juga :  Kepala BKD Palas Tidak Takut Dengan Permasalahan CPNS K2

Sumber: medanbisnisdaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*