Tapsel; Bupati Baru, Harapan Baru

Oleh : Syawaluddin Hasibuan *)

Pasangan Syahrul M Pasaribu-Aldinz Rapolo Siregar, Kamis (12/8) ini resmi dilantik sebagai Bupati-Wakil Bupati Kabupaten Tapanuli Selatan untuk masa jabatan 2010-2015.

Mereka menggantikan pasangan Ongku P Hasibuan-Aldinz Rapolo Siregar yang sebelumnya juga lima tahun yang lalu telah memimpin kabupaten ini.

5915786fb5789b185d8e34f1f9cbc0e6ad17a82 Tapsel; Bupati Baru, Harapan Baru
Gubsu H Syamsul Arifin SE melantik dan mengambil sumpah jabatan Bupati dan Wakil Bupati Tapsel H Syahrul M Pasaribu-Ir H Aldinz Rapolo Siregar untuk masa jabatan 2010-2015 dalam sidang istimewa DPRD Tapsel di gedung DPRD, Jalan Sudirman, Kota Psp, Kamis (12/8).

Ketika pada Pilkada lalu pasangan Syahrul M Pasaribu-Aldinz Rapolo Siregar ini mampu mengalahkan incumbent Ongku P Hasibuan yang saat itu telah pecah kongsi dengan Aldinz Rapolo Siregar dan kemudian berpasangan dengan Affan Siregar, sesungguhnya telah tersirat akan adanya keinginan yang kuat dari warga Tapsel untuk segera memperoleh perubahan.

Suksesi, bagi masyarakat Tapsel adalah suatu awal yang baik bagi terbersitnya suatu harapan baru akan adanya perubahan yang mendasar dalam peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Tapsel.

Tapsel yang pada awalnya merupakan kabupaten induk yang hingga saat ini telah dimekarkan menjadi 5 kabupaten/kota sesungguhnya memiliki suatu problematika tersendiri yang mau tidak mau harus mampu dijawab oleh pasangan bupati-wakil bupati baru nanti. Terutama saat ini, ada suatu sinyalemen kuat bahwa Tapsel yang sekarang secara nyata sesungguhnya telah jauh ditinggalkan oleh daerah-daerah yang pada awalnya bergabung dengan Tapsel.

Lihat saja misalnya Kabupaten Madina, pasca pemekarannya beberapa tahun lalu telah mampu menunjukkan eksistensinya dengan melakukan pembangunan fasilitas fisik dan sarana prasarana pembangunan yang sudah begitu baik meskipun semuanya itu tidak terlepas dari kekurangan dan keterbatasan lainnya. Demikian juga halnya dengan Kabupaten Palas dan Paluta yang dengan segala potensi perkebunan dan pertanian yang dimilikinya tentunya tidak akan mau tinggal diam untuk terus berupaya menyejajarkan dirinya dengan daerah-daerah lainnya yang sudah lebih dahulu dimekarkan.

Problematika

Tak pernah selesai, sebagai makna yang selama ini selalu dilekatkan dengan akronim Tapsel adalah suatu tantangan maha berat bagi pasangan Syahrul M Pasaribu-Aldinz Rapolo yang akan memimpin Tapsel paling tidak untuk lima tahun ke depan. Kalau ingin kembali leading dan menunjukkan kedigdayaannya sebagai kabupaten induk, maka pasangan ini dituntut harus mampu menyelesaikan berbagai persoalan-persoalan yang sudah menumpuk serta complicated yang selalu diwariskan oleh para pemimpin-pemimpin terdahulu.

Baca Juga :  PEMBANGUNAN PANTAI BARAT MADINA PERLU KEPASTIAN HUKUM

Problematika mendasar pembangunan Tapsel adalah ketidakmampuan daerah ini untuk mengakselerasikan berbagai sektor pembangunan sehingga semua komponen saling bersinergi untuk menciptakan suasana kondusif guna kemajuan dan kesejahteraan seluruh masyarakat Tapsel.

Berbagai sektor andalan yang selama ini diharapkan mampu menjadi banchmarking pembangunan karena dinilai memiliki potensi dan sumberdaya yang memadai untuk dikembangkan justru ternyata tidak mengalami perkembangan atau justru ada yang tidak disentuh sama sekali.

Seperti misalnya sektor pertanian, sektor perkebunan, sektor kehutanan, sektor industri serta sektor pariwisata sebagai andalan utama untuk menunjang sektor pendidikan, sektor ekonomi dan wirausaha lainnya ternyata kurang bisa saling bersinergi sehingga pembangunan Tapsel tidak memiliki keunggulan kompetitif yang mampu memiliki daya saing yang tinggi di pasar regional maupun nasional dan internasional. Akhirnya, sumberdaya yang ada hanya menjadi keunggulan komparatif yang sama sekali tidak memiliki daya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ke depan, bupati yang baru diharapkan mampu menciptakan sentra-sentra produksi yang disesuaikan dengan potensi-potensi daerah yang ada. Tidak ada salahnya mencontoh daerah-daerah lain yang sudah maju yang menerapkan zona-zona produksi untuk komoditas tertentu seperti Kabupaten Simalungun yang telah berhasil menyesuaikan potensi sumberdaya lokal dengan produk-produk unggulan mereka.

Di samping itu, peningkatan perekonomian masyarakat melalui pemberian nilai tambah (value added) terhadap produksi hasil pertanian juga merupakan catatan tersendiri bagi bupati yang baru. Program bupati Ongku P Hasibuan yang telah mampu melahirkan produk olahan buah salak merupakan suatu terobosan yang perlu diteruskan dan ditindaklanjuti. Sebab, selama ini kelemahan produk-produk Tapsel adalah selalu dipasarkan dalam bentuk bahan baku sehingga tidak memiliki sentuhan teknologi yang baik dan harganya di pasar terlalu murah.

Pengembangan sektor industri dan kerajinan tangan didukung dengan pengembangan sektor pariwisata adalah suatu program yang memiliki prospek yang sangat baik dan berpeluang memiliki sumbangan bagi pembanguan dan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan Danau Siais sebagai potensi kawasan wisata yang memiliki kieindahan alam dan potensi ekologis yang cukup kaya juga sangat menjanjikan untuk dikelola dengan serius dan penuh tanggungjawab.

Baca Juga :  Lembaga Kursus dan Pelatihan di Tap-Sel yang Terabaikan

Apapun ceritanya, jika bupati baru yang baru dilantik dengan kemeriahannya adalah bupatinya seluruh komponen masyarakat Tapsel, naka diharapkan pembangunan akan berjakan dengan adil dan merata. Namun jika bupati bnaru adalah sekelompok elit, pemilik modal ataupun memiliki niat-niat tidak baik, maka pola-pola lama pemerintahan yang korup, nepotis dan ramai dengan program menara gading maka Tapsel akan masih seperti yang dulu.

Sulit memimpin warga Tapsel, sebagai suatu stigma negatif yang selama ini selalu menjadi alasan bagi pemimpin di Tapsel hanyalah sekadar dalih belaka untuk menutup-nutupi ketidakmampuan mereka dalam melakukan berbagai perubahan dan pembangunan. Sesungguhnya masyarakat Tapsel adalah masyarakat yang bijak, terbuka dan selalu menjunjung tinggi prinsip kekerabatan serta selalu berpegang teguh kepada norma-norma agama dan adat istiadat. Bagi warga Tapsel selama sang pemimpin masih memiliki niat baik dalam membangun dan mensejahterakan masyarakat, terus menjunjung tinggi norma-norma agama dan adat istiadat, siapapun pemimpinnya akan tetap dihormati dan akan memperoleh dukungan yang penuh dari rakyatnya. Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah.

Sumber: http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=65465:tapsel-bupati-baru-harapan-baru&catid=51:umum&Itemid=31

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*