TAPSEL, PERUBAHAN DAN HARAPAN BARU

faisal TAPSEL, PERUBAHAN DAN HARAPAN BARU
Oleh Faizal Reza Pardede*)

Setiap pemimpin mempunyai kelebihan masing – masing sesuai dengan potensi pribadi yang tidak terlepas dari moral pemimpin tersebut. Akan tetapi bila potensi pribadi yang seadanya dimaksimalkan dengan mengatrol pencitraan diri untuk mendapatkan legitimasi keberhasilan pemimpin dalam memimpin daerah tentu bukanlah tindakan yang bijaksana. Kondisi seperti ini berlangsung berdasarkan maksud tertentu dari pemimpin tersebut, seperti keinginan untuk menjabat kepala daerah untuk yang kedua kalinya. Dengan kondisi dan situasi yang demikian pejabat incumbent cenderung tidak obyektif atau dengan istilah remaja sekarang narsis. Kesuksesan yang di ekspos secara berlebih ini kental akan nuansa politis karena pada umumnya jajaran terkait di Pemda bersangkutan mau tidak mau harus harus mengklaim keberhasilan tersebut.

Situasi di atas terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan yang “kebetulan” dipimpin oleh Ongku P Hasibuan. Pada awal menjabat tahun 2005 silam segudang harapan akan perubahan dan kemajuan Tapanuli Selatan seolah nyata sehingga dukungan terhadap bupati ini sangat banyak termasuk tokoh – tokoh masyarakat Tapanuli Selatan yang di perantauan. Gebrakan baru di dilaksanakan termasuk rekrutmen pejabat eselon II yang didasarkan pada test dan uji kompetensi yang dilaksanakan lembaga independen non pemerintah dan tidak bisa di intervensi sesuai keterangan bupati pada saat itu. Setelah melengkapi jajaran birokrasinya bupati melanjutkan programnya pada sektor pemberdayaan ekonomi kerakyatan yaitu usaha kecil dan mikro. Infrastruktur untuk sentra industri kecil mulai dibangun seperti sentra industri pandai besi di Sipange, sentra industri pengalengan Salak di Angkola Selatan, sentra industri kerajinan tenun dan keramik di Sipirok. Gebrakan dan program di atas hanya sebagian kecil dari yang ada, jika ditinjau dari keadaan saat ini indikator keberhasilannya tidak sesuai dengan harapan sehingga pemberdayaan ekonomi kerakyatan dianggap gagal total.

Menyonsong Tapanuli Selatan yang baru menyusul kepemimpinan bupati dan wakil bupati terpilih periode 2010 – 2015 tentu memiliki aspek dan pekerjaan rumah yang menumpuk. Posisi masyarakat pada saat ini berharap akan adanya perubahan yang signifikan dan akan terwujud bila pemimpin kedepan serius dengan bertahap menggarap semua aspek dan jenis pembangunan sesuai dengan peruntukan yang berujung pada penentuan skala prioritas. Jika kita perhatikan dengan seksama pasca pemekaran Kabupaten Tapanuli Selatan sesuai dengan UU No. 37 dan 38 Tahun 2007 tentang pemekaran Kabupaten Padang Lawas Utara dan Padang Lawas serta penetapan Kabupaten Tapanuli Selatan sebagai kabupaten induk, Tapanuli Selatan merupakan merupakan kabupaten terburuk dalam kualitas pelayanan publik karena sampai pada saat ini Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan belum mampu menempatkan pusat pemerintahannya di wilayah sendiri, dengan kata lain aksebilitas pelayanan nihil. Kebijakan Bupati Tapanuli Selatan saat ini Ongku P Hasibuan yang tidak amanah terhadap UU mengakibatkan hal tersebut terjadi dan bahkan seringkali mengatakan Tapanuli Selatan bukanlah daerah pemekaran melainkan imbas dari pemekaran. Permasalahan berlarut ini seringkali disinyalir sebagai kepentingan sekelompok masyarakat satu kecamatan padahal yang dirugikan masyarakat Tapanuli Selatan secara keseluruhan. Disamping itu dalam pembangunan infrastruktur transportasi sangat menyedihkan, bisa kita lihat sarana transportasi ke Tangga Batu di Kecamatan Angkola Barat, Tandihat di Angkola Selatan, Mandalasena di Kecamatan Saipar Dolok Hole, Sihulambu, Tapus Nabolak, Gutting pege, Silangge di Kecamatan Aek Bilah, Tano Ponggol, Aek Nabara di Kecamatan Arse, Luat Harangan di Kecamatan Sipirok, dan banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Semua yang disebutkan diatas jauh dari kemerekaan yang sesungguhnya, akses ke ibukota kecamatan saja butuh perjuangan ekstra dengan berjalan kaki ataupun menggunakan kuda untuk mengangkut barang.

Baca Juga :  Sekali Lagi Tentang PPP

Di sektor pertanian juga terjadi kesenjangan, masyarakat hampir tidak merasakan peran pemerintah dalam memajukan pertanian. Kondisi tersebut semakin jelas terlihat dari alokasi untuk pertanian yang berjumlah 1,6% dari 529 Miliyar APBD Tapanuli Selatan tahun anggaran 2010. Sangat ironis perhatian Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan padahal 85% masyarakat merupakan petani. Demikian juga dengan kondisi dunia pendidikan tidak berbeda jauh, akses pendidikan bagi masyarakat dan upaya memperbaiki mutu keberlangsungannya berjalan monoton. Pemerintah Kabupaten tidak memahami bahwa upaya memajukan dunia pendidikan merupakan investasi jangka panjang, jauh melebihi usia tampuk pemerintahan seorang kepala daerah, bahkan bila Ongku P Hasibuan terpilih hingga dua kali masa jabatannya. Secara pribadi saya melihat faktor inilah yang menyebabkannya demikian, sehingga Pemkab Tapsel  mencari cara instan untuk mendapatkannya, seperti membuka program beasiswa penuh untuk kuliah di luar negeri. Akan tetapi itu bukanlah indikator keberhasilan memajukan dunia pendidikan terlebih kalau hanya dua orang yang dikirim.

Dalam puluhan hari kedepan akan ada pergantian kepala daerah, sampai hari ini belum ada garansi bupati dan wakil bupati terpilih periode 2010-2015, H. Syahrul M Pasaribu dan H. Aldinz Rapolo Siregar lebih baik dari bupati saat ini, Ongku P Hasibuan. Namun demikian berdasarkan hasil Pilkada 12 Mei yang lalu mengindikasikan masyarakat menginginkan perubahan, ada harapan masyarakat seperti pembenahan kelembagaan birokrasi pemerintah daerah sebelum akhirnya merambah pada pembenahan disektor lain, misalnya peningkatan kualitas pendidikan dan perluasan akses masyarakat kedalamnya, peningkatan mutu kesehatan, penggalian potensi daerah untuk melakukan pembangunan berbasis keunggulan lokal, penggalakan usaha-usaha dibidang jasa dan sebagainya. Tapi sebelum pembenahan itu semua perlu disadari bahwa kondisi aparat Pemerintah Daerah Tapanuli Selatan tidak kaya inovasi  dan kreasi, bahkan cenderung terkait erat dengan langgam keterikatan sistem yang diberlakukan secara birokratis. Perubahan tidak mencakup perubahan secara ideologis dan paradigmatik, dua hal yang justru menjadikan perubahan lebih permanen tanpa ketergantungan pada sistem dan figur kepala daerah.

Baca Juga :  Rusuh Tolak Pipa Limbah Batangtoru karena Pemerintah Abaikan Suara Warga

Ada perbedaan menarik antara Ongku P Hasibuan dengan H. Syahrul M Pasaribu, sebelum menjadi Bupati Tapanuli Selatan Ongku sama sekali tidak bersentuhan dengan pemerintahan, sedangkan H. Syahrul M Pasaribu 20 tahun lebih dalam penyelengaraan pemerintahan di Sumatera Utara. Demikian juga dengan Wakil Bupati terpilih, H. Aldinz Rapolo Siregar yang merupakan periode kedua tentu sangat memahami dinamika Kabupaten Tapanuli Selatan. Diharapkan kedepan kedua sosok pemimpin Kabupaten Tapanuli Selatan ini bisa membawa perubahan nyata demi kemajuan Tapanuli Selatan dengan mengatasi beberapa persoalan 5 tahun kebelakang sebagaimana disebutkan seperti diatas. Tapanuli Selatan sebagai kabupaten tertua di Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) merupakan cerminan pembangunan di Tabagsel, perlu upaya konkrit dan keiklasan dalam mewujudkannya. Disamping itu juga sebagai rakyat mari kita bergandeng tangan mendukung pemerintahan ini dan kalau memang tidak berjalam semestinya harus kita ingatkan bersama. Demikian juga halnya DPRD Tapanuli Selatan yang harus proaktif atau bahkan menjemput bola mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi masyarakat sehingga masyarakat bisa merasakan peranan wakilnya tersebut. Pada akhirnya mari kita berikan kesempatan kepada pemimpin baru untuk membangun Tapanuli Selatan yang lebih maju. “Madung dipature halak bagasta, attong murdenggan muse ma nian molo hita do napature na” dan “Baen adong do bagasta sai ulang be nian marlasak si mandege ta di bagas ni halak, ro ma hita tu bagasta songon na didokkon ni UU No 37 dan 38 Tahun 2007 i”. Horas!!

*) Faisal Reza Pardede
Penulis adalah :
Ketua Naposo Nauli Bulung Napa Napa ni Sibualbuali (NNBS)
Ketua Litbang IKAPSI Sumut

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*