Terancam 20 Tahun Penjara, Hidayat Nyantai

Terdakwa kasus korupsi, Bupati Madina Muhammad Hidayat Batubara duduk di kursi pesakitan di Pengadilan Tipikor Medan, kemarin.

MEDAN – Bupati Mandailing Natal (Madina) nonaktif Muhammad Hidayat Batubara mengaku tak keberatan didakwa telah melakukan tindak pidana korupsi (tipikor) Rp1 miliar dalam pembangunan proyek Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panyabungan.

Dia pun mengaku santaisantai saja menjalani proses hukum, meskipun ancaman hukumannya 20 tahun penjara. ”Saya tidak keberatan Pak hakim. Maka, saya tidak akan mengajukan eksepsi (keberatan). Saya memintasidangagardilanjutkan saja dengan pemeriksaan saksi,” katanya menjawab pertanyaan ketua majelis hakim Agus Setiawan, kemarin. Hidayat yang mengenakan kemeja batik warna putih dan cokelat ini pun terus menebarkan senyum setelah hakim mengetuk palu untuk menunda sidang.

Tak ada terlihat raut wajah sedih di muka politisi dari Partai Demokrat ini. Seusai sidang, bupati penggemar olahraga automotif ini mengaku bisa dengan tenang menghadapi kasus yang dijalaninya. Bahkan, dari awal ditangkap hingga disidangkan kemarin, Hidayat mengaku selalu bisa tidur pulas di sel, baik di tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maupun di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Tanjung Gusta.

”Ya, tetap bisa tenang. Insya Allah saya kuat menghadapinya. Ya tidurlah dengan baik, pulas. Tidak ada masalah,” katanya seraya meninggalkan kerumunan wartawan. Dalam sidang perdana di Pengadilan Tipikor Medan, kemarin, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Supardi mendakwa Hidayat Batubara menerima suap senilai Rp1 miliar dari pengusaha Surung Panjaitan (berkas terpisah).

Supardi menjelaskan, bahwa Hidayat Batubara menerima uang sogokan itu untuk menggolkan Surung sebagai pemenang proyek pembangunan RSUD Panyabungan di Madina. ”Terdakwa selaku Bupati Mandailing Natal menerima uang senilai Rp1 miliar dari Surung Panjaitan selaku Direktur PT CG Sinar Gemilang untuk melakukan sesuatu dalam jabatannya,” katanya.

Baca Juga :  DIREKTUR WALHI SUMUT “JUAL-NAMA” MASYARAKAT SIKAPAS

Aksi suap itu bermula saat Hidayat memerintahkan Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Madina, Khairul Anwar Daulay untuk mencarikan kontraktor yang bersedia membayar Rp1-2 miliar agar diberikan proyek pembangunan RSUD Panyabungan. Mendapat perintah dari bupati, pada 12 Mei 2013, Khairul Anwar bertemu dengan Surung Panjaitan di Cafe Excelso, Sun Plaza Medan.

Pada pertemuan ini, disepakatilah Surung Panjaitan yang mengerjakan proyek tersebut. Surung juga menyanggupi memberikan fee sebesar 15% dari nilai proyek kepada masing-masing pejabat. Untuk tahap awal, Surung akan memberikan uang Rp1,2 miliar kepada Hidayat Batubara dan Khairul Anwar. Selanjutnya, pada 14 Mei 2013, dalam sebuah pertemuan, Khairul Anwar mengenalkan Surung Panjaitan kepada bupati Madina.

Keesokan harinya, pada 15 Mei, Surung Panjaitan pun menemui Khairul Anwar di Hotel Aryaduta Medan. Di pelataran parkir Hotel Aryaduta, Surung melalui sopir pribadinya, menyerahkan uang Rp1 miliar kepada Khairul Anwar. Dan oleh Khairul, uang itu diantarkan ke rumah Hidayat. ”Tak lama dari itu, penyidik KPK melakukan penangkapan,” kata Supardi.

Atas perbuatan terdakwa ini, jaksa menjeratnya dengan Pasal 12 huruf a subs Pasal 11 Undang-undang (UU) No 31/ 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah dengan UU No 20/2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman 20 tahun penjara. Setelah mendengarkan dakwaan jaksa, majelis hakim langsung menanyakan terdakwa apakah keberatan atau tidak. Bupati Madina periode 2011- 2016 ini pun mengaku tak keberatan dand ia meminta agar sidang dilanjutkan saja ke tahap pemeriksaan saksi.

Baca Juga :  4 Ha Sawah Puso Akibat Luapan Aek Arse

Seusai sidang Bupati Hidayat, majelis hakim langsung menghadirkan terdakwa Khairul Anwar Daulay selaku Plt Kepala Dinas PU Madina. Keduanya disidang dengan berkas terpisah, namun didakwa dengan pasal yang sama. Khairul Anwar didudukkan di kursi pesakitan karena menjadi perantara dan turut menerima suap dari Surung Panjaitan dan meneruskannnya ke Hidayat.

Bukan hanya itu, Khairul Anwar juga mencari orang yang bersedia memberikan suap agar diberikan proyek pembangunan RSUD Panyabungan. Kedua terdakwa saat ini ditahan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Tanjung Gusta Medan. Keduanya didakwa menerima suap dari terdakwa Surung Panjaitan terkait alokasi Dana Bantuan Daerah (DBD) pada APBD Pemprov Sumut Tahun Anggaran 2013 di Kabupaten Madina untuk proyek pembangunan RSUD Panyabungan senilai Rp32 miliar.

Proyek tersebut terbagi dalam tiga paket pekerjaan yakni Unit Gawat Darurat (UGD) sebesar Rp1.187.560.116, Unit Poliklinik senilai Rp12.454. 536.988 dan Unit Rawat Inap senilai Rp18.399.349.505. @ panggabean hasibuan

Sumber: www.koran-sindo.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*