Terapi di Rel, Rasanya Seperti di Surga

Banyak cara yang dilakukan para warga yang percaya dengan terapi rel listrik di Stasiun Rawabuaya, Jakarta Barat. Beberapa di antaranya sengaja membawa payung layaknya di pantai.

KOMPAS.com — Neneng (45), warga Kampung Kresek, Jakarta Barat, tampak begitu menikmati sore hari di stasiun Rawabuaya, Rabu (20/7/2011). Udara di Rawabuaya terbilang cukup sejuk. Semilir angin terasa berdatangan tanpa henti. Sementara itu di sekitar stasiun masih terdapat banyak ilalang dan kebun yang digarap warga.

Namun, cara Neneng menikmati sore hari tidak seperti warga biasanya. Ia memilih berbaring di atas rel kereta dan ditemani bantal kesayangannya. “Rasanya seperti di surga. Ayo coba di sini,” ungkap Neneng, Rabu (20/7/2011), saat dijumpai di stasiun Rawabuaya, Jakarta Barat.

Neneng mengaku memiliki penyakit diabetes. Semenjak menjalankan terapi rel kereta api di Rawabuaya, sakitnya itu sudah mulai membaik. Ia merasa tak takut akan aliran listrik yang ada pada rel kereta api itu.

“Awalnya saya hanya lihat kok sore-sore ada banyak orang di sini. Akhirnya saya coba. Ternyata enak juga,” ujarnya.

Saat pertama kali mengikuti terapi ini, Neneng mengaku sedikit takut. “Saya pas pertama cuma berani pegang dengan dua tangan saja. Waktu itu kaget tiba-tiba terasa ada listrik dan tangan saya gerak-gerak sendiri,” ucap Neneng.

Lama-kelamaan, karena merasa penasaran, Neneng pun mulai mengikuti aksi merebahkan diri yang sudah dilakukan beberapa warga sebelumnya. “Listriknya mengalir ke semuanya, sampai terasa ke dada ini,” terangnya.

Tidak hanya merebahkan diri, kini Neneng pun sering melakukan berbagai macam gaya dalam menjalankan terapinya di atas rel listrik. “Kadang duduk sambil pegang dua relnya, kadang tiduran bawa bantal biar empuk, kadang juga berdiri sambil nempelin kaki di relnya. Mana yang enak saja dan yang mau disembuhin,” tambah Neneng.

Baca Juga :  Luas Hutan yang Terbakar di Riau Terus Bertambah

Selain Neneng, ada sekitar 20 warga sore itu yang berjejer di rel kereta stasiun Rawabuaya. Banyak cara yang dilakukan para warga ini dalam melakukan terapi atau sekadar menikmati sore hari di stasiun Rawabuaya.

Kumiati (61), warga Duri Kosambi, Jakarta Barat, misalnya. Di antara sekian banyak warga yang datang, Kumiati tampak mencolok. Pasalnya, hanya dia yang membawa payung sambil merebahkan diri di atas rel.

“Supaya enggak panas. Kan kalau gini asik kaya di pantai sambil sembuhin penyakit,” canda perempuan yang mengaku terbebas dari penyakit darah tinggi dan diabetes semenjak melakukan terapi rel listrik ini.

Lain lagi dengan Sri (50), warga Duri Kosambi, Jakarta Barat. Ia sengaja membawa sebuah botol air minum dan sebuah lap ke rel kereta api. Air tersebut tidak digunakan untuk diminum, tetapi justru untuk membasahi lap. Lap basah itu biasa ia letakkan di bawah kakinya saat ia rebahan di atas rel kereta. “Supaya listriknya makin kuat, pakai lap basah itu,” kata Sri.

Setiap pagi dan sore hari, rel kereta di dekat stasiun Rawabuaya selalu dipadati warga yang datang dari berbagai wilayah. Mereka percaya aliran listrik dari rel kereta itu bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Biasanya, terapi rel kereta ini dilangsungkan selama 1-2 jam. Tidak jelas kapan dan siapa yang memulai kebiasaan ini.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  JK: Ancam Gulingkan Presiden SBY Adalah Makar

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*