Terima Kasih Obatnya, Pak Tentara…

1921098620X310 Terima Kasih Obatnya, Pak Tentara...
Anak-anak pengungsi korban letusan Gunung Merapi terlihat ceria saat dijemput naik truk militer untuk diajak belajar di sekolah alam yang didirikan prajurit Korps Marinir di lapangan Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa tengah, Kamis (11/11/2010). Kegiatan ini untuk menumbuhkan semangat belajar bagi anak-anak pengungsi yang sudah lebih dari seminggu tidak bersekolah.

Fian (10), pengungsi asal Desa Kradenan, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, menangis ketika mengikuti pelajaran di sekolah darurat. Perutnya sakit dan kepalanya pusing sehingga seorang relawan mengantarnya ke Posko Kesehatan Korps Marinir TNI AL di Gedung Armada di Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.

quote 1 Terima Kasih Obatnya, Pak Tentara...
Lah… biasanya tentara itu perang dan memegang senjata, jadi awalnya saya takut.
quote 2 Terima Kasih Obatnya, Pak Tentara...

Di dalam posko tersebut, seorang anggota Marinir memeriksa tekanan darah Fian dengan tensimeter. Seorang tentara lainnya menyiapkan obat-obatan. Begitu pemeriksaan rampung, Komandan Posko Kesehatan Korps Marinir TNI AL, Letnan Dua Nur Solihin, menerangkan aturan meminum obat. ”Makan yang banyak lalu minum obatnya ya. Jangan sampai terlambat makan. Jadi anak lelaki harus tangguh, tidak mudah menyerah,” kata Nur Solihin, Kamis (11/11).

Fian yang semula menangis, menganggukkan kepala sembari tersenyum kecil. Kemudian, seorang anggota Marinir mengantarkan bocah kelas V SD itu ke orangtuanya yang mengungsi di Gedung Armada.

”Terima kasih obatnya, Pak Tentara,” kata Fian yang berkali-kali masih memegangi perutnya.

Pasukan Marinir II Jakarta Bidang Kesehatan tidak bertugas menjaga kesehatan para marinir di lautan. Mereka ditugaskan untuk menjaga kesehatan pengungsi, antara lain di tempat pengungsian sementara (TPS) di Gedung Armada, Lapangan Tembak Akademi Militer, dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muntilan.

Khusus di Gedung Armada, personel yang diterjunkan berjumlah 17 orang. Kegiatan mereka adalah melayani kesehatan pengungsi, menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan pengungsi, dan juga menghibur para pengungsi.

Baca Juga :  Presiden: Kasus Irjen DS Ditangani KPK

Nur Solihin mengatakan, semula para pengungsi enggan berobat ke Posko Kesehatan Marinir karena takut dengan tentara. Untuk itu, pada saat pergelaran musik organ tunggal, para anggota Marinir itu berupaya menarik perhatian pengungsi dengan menyanyi dan menyapa mereka.

”Pada saat shalat bersama, saya berupaya memberikan kultum atau buah-buah permenungan kepada para pengungsi agar mereka kuat menghadapi cobaan hidup,” kata Nur.

Nur menambahkan, cara-cara itu berhasil menarik hati para pengungsi. Mereka yang semula sakit dan enggan berobat, mulai berdatangan ke Posko Kesehatan Marinir. Pengungsi yang berobat semula berjumlah 22 orang, pada hari-hari selanjutnya meningkat dan paling banyak mencapai 73 orang. Mereka kebanyakan sakit saluran pencernaan, diare, infeksi saluran pernapasan, dan iritasi mata.

”Lah… biasanya tentara itu perang dan memegang senjata, jadi awalnya saya takut. Namun, karena mereka ramah-ramah dan tidak galak, saya jadi tidak takut meminta obat tetes mata,” kata Mbah Sawiyah (68), warga Desa Dukun, Kecamatan Dukun.

Bukan di bidang kesehatan saja, para prajurit berpakaian loreng dari berbagai kesatuan Angkatan Darat dan Angkatan Laut tersebut juga menangani berbagai hal. Misalnya, menjadi tenaga masak di dapur umum, membersihkan jalanan dari tumpukan abu dan batang pepohonan yang tumbang, mengevakuasi warga, dan menjaga keamanan desa-desa yang ditinggalkan.

Letnan Satu CZI Prabowo dari Akademi Militer Magelang, mengaku setiap hari harus bergantian menjaga Jembatan Srowol di Desa Progowati, Kecamatan Mungkid. Pasalnya, jembatan itu rawan ambruk lantaran tanah di sekitar fondasi atau kaki jembatan berulang kali tergerus banjir lahar dingin.

Baca Juga :  Tim Gabungan Polda Jateng Tangkap 33 "Hacker" Asal Tiongkok

”Kalau tidak dijaga, banyak pengendara yang nekat melalui jembatan itu. Susah mengatur orang, padahal itu demi keselamatan mereka sendiri,” kata Prabowo. (kompas.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*