Terkait Dilepaskannya 6 Tersangka Pemakai Ganja – Mahasiswa Segera Temui Kapolres Madina

Sejumlah organisasi mahasiswa dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam waktu dekat akan mempertanyakan ke Kapolres Madina AKBP Hirbak Wahyu Setiawan SIk alasan konkret terkait dilepaskannya enam tersangka yang diduga kuat pemakai ganja, dan hanya dikenakan wajib lapor. Mereka menilai, Polres diduga telah melakukan rekayasa atas kasus dugaan penyalahgunaan narkoba tersebut.

Ketua Umum Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Madina Ahmad Rijal Lubis SPdI didampingi Ketua Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Madina Ismail Nasution SPdI, serta Direktur Eksekutif Mahasiswa Indonesia (EMI) Madina Al-Hasan Nasution SPdI menyebutkan, pembebasan keenam tersangka sangat meresahkan publik. Narkoba seperti jenis ganja, kata mereka, merupakan penyakit yang menyerang masyarakat Madina khususnya para pemuda.

Oleh karena itu, baik pengguna, pengedar, ataupun juga produsen narkoba seharusnya dihukum berat bukan dibebaskan. Apalagi jika sudah terbukti bahwa pemakai narkoba. Diterangkan ketiga, jika keenam tersangka dilepaskan, akan dapat memicu mosi tak percaya kepada Polres Madina atau akan meminimalisir kepercayaan masyarakat terhadap Polres dalam hal kasus narkoba.

“Seharusnya polisi tidak membebaskan pelaku pemakai narkoba, dan melakukan penahanan karena sudah ada bukti jelas. Sebab, akibatnya akan menjadi sangat fatal, di mana masyarakat tak akan lagi percaya kepada polisi karena membebaskan orang yang benar-benar pemakai narkoba. Dan ini bisa mengundang perhatian banyak orang khususnya bagi generasi bangsa, karena menurut mereka pemakai narkoba bisa dibebaskan yang akhirnya mereka nantinya akan berpikir bahwa tak ada hukuman bagi pemakai narkoba,” tukas Rijal, Ismail, dan Al-Hasan.

Dijelaskan mereka, berdasarkan keterangan yang disampaikan Kasat Narkoba Polres Madina Iptu E Banjarnahor, dalam operasi penangkapan tersebut, polisi menemukan barang bukti meskipun hanya puntung rokok sisa dari isapan tersangka. Kemudian, dari hasil tes urine yang dilakukan, hasilnya membuktikan bahwa keenam tersangka positif memakai narkoba jenis ganja.

“Barang bukti kan ada berupa puntung rokok. Tapi kenapa Kasat Narkoba menyebutkan kalau barang bukti kurang memenuhi untuk kelanjutam kasus dan kenapa tersangka dibebaskan begitu saja meskipun tersangka diwajibkan melapor 2 kali seminggu tanpa ada ketentuan waktu? Jujur kami tak tahu maksudnya apa. Kalau memang tak mencukupi bukti kenapa dilakukan penahanan Selasa (27/7) dini hari itu?” tanya ketiganya.

Baca Juga :  Guardiola: MU Bisa Kalahkan Bayern - MU Tak Mau Disebut "Underdog" di Old Trafford

Dalam hal ini, lanjut mereka, bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan menemui Kapolres Madina AKBP Hirbak Wahyu Setiawan SIk untuk memperjelas alasan pelepasan keenam tersangka pemakai narkoba itu dan status mereka. Sebab jika kasus ini tidak klir atau tak dijelaskan ke publik, maka masyarakat awam akan menilai kalau pengguna narkoba tidak akan dijerat hukum, dan pemakai atau pengguna narkoba bisa semakin banyak di Kabupaten Madina.

Masih dikatakan mereka, pihaknya juga akan melaporkan kasus pembebasan tersangka narkoba itu ke Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) di Jakarta, serta juga ke Kapoldasu terkait tindak lanjutnya. Sebab mereka tidak mau kasus narkoba ini dibiarkan.

“Kami juga telah melaporkan ke Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Provinsi Sumut, dan dalam hal ini saya sudah terima kabar dari Ketua PKC, bahwa hari Senin (2/8) akan mendatangi Kapoldasu di Medan. Kami juga hari Senin (2/8) nanti akan mendatangi Kapolres Madina untuk minta penjelasan,” terang Rijal.

Sementara itu, Ketua Koordinator Daerah Indonesian Corruption Watch (ICW) Kabupaten Madina HA Kohar Batubara SE saat dihubungi METRO menegaskan, pembebasan atas tersangka pengguna narkoba tersebut merupakan hal yang menimbulkan kontroversial dari banyak pihak. Sebab jika dipelajari dari beberapa kasus sebelumnya, banyak tersangka yang tertangkap menggunakan atau memakai narkoba dan ditahan hanya dengan melakukan tes urine. Di samping itu, pembebasan atas keenam tersangka tersebut bisa menimbulkan konflik di tengah masyarakat nantinya.

“Polres Madina dalam hal ini harus jeli dalam menegakkan hukum, karena belajar dari kasus ini dan kasus sebelumnya, ada semisal perbedaan di mana sebelumnya ada tersangka pemakai narkoba dan ditahan, namun yang terjadi sekarang tersangka pengguna narkoba kemarin dibebaskan. Polisi jangan tebang pilih atau pilih kasih, siapapun dia orangnya tak terlepas dari jerat hukum. Jadi, Polres Madina kami minta memberikan keterangan jelas bagi seluruh publik supaya tak ada miss communication nantinya,” tegasnya.

Baca Juga :  Tips Aplikasi Web - Lacak Percakapan Antar 2 Pengguna Twitter

Seperti diberitakan sebelumnya, Satuan Narkoba Polres Madina, melepaskan keenam tersangka yang diduga kuta memakai ganja, Kamis (29/7) sekira pukul 00.05 WIB. Keenam tersangk yakni, HB (22), DS (27), HD (27), ASH (23), SB (34), ES (36). Di mana dua di antaranya adalah oknum PNS Pemkab Madina, yakni DS dan HD. Bahkan HD disbeut-sebut anak salah satu pejabat di Pemkab Madina.

Keenamnya diamankan pada Selasa dini hari (27/7) sekira pukul 02.30 WIB di salah satu warung kopi di Desa Pidoli Dolok, Kecamatan Panyabungan, Madina. Alasan Kasat Narkoba Polres Madina Iptu E Banjarnahor membebaskan keenam tersangka adalah kurangnya unsur bukti untuk dilanjutkannya kasus tersebut.

Diutarakan Banjarnahor, dari hasil penangkapan, polisi hanya menemukan puntung rokok yang diduga milik tersangka dan sudah diamankan di Mapolres untuk dikirim ke Mapoldasu untuk diteliti di laboratorium, tanpa menemukan barang bukti lainnya.

Sumber: http://metrosiantar.com/Metro_Tabagsel/Mahasiswa_Segera_Temui_Kapolres

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*