Terkait Kerusuhan Di Madina – 44 Orang Warga Natal Diamankan Polres Madina

Panyabungan, (Analisa)

Sebanyak 44 orang warga Kecamatan Natal, Jumat (30/4) pagi diamankan aparat kepolisian ke Mapolres Madina karena diduga turut melakukan pembakaran, perusakan dan penganiayaan perkantoran, perumahan, kenderaan milik PT PSU dan perusakan Mapolsek Natal bersama rumah Dinas Polsek.

Kapolres Mandailing Natal, AKBP Hirbak Wahyu Setiawan Sik yang dikonfimasi Analisa melalui telepon selularnya menuturkan, telah melakukan penangkapan terhadap 41 orang warga Natal dari pengembangan 3 orang warga Natal yang di tangkap sebelumnya yang diduga dalang dari semua perusakan asset milik PT PSU senin kemarin.

“Dari hasil pengembangan 3 orang yang telah kita amankan tersebut pihak Mapolres Madina setelah dilakukan pendalaman mengantongi sejumlah nama DP terlibat dalam aksi pembakaran serta perusakan di PT PSU dan Mapolsek Natal dan hari ini kita telah mengamankan 41 orang warga demi untuk dimintai keterangan lebih lanjut terkait pembakaran, perusakan, penganiayaan tersebut,” sebutnya.

Dikatakannya, pihaknya menurunkan 318 personil gabungan yang terdiri dari 1 SSK brimob, anggota Polres Tapsel, Polres Padang Sidimpuan dan Polres Madina sendiri demi untuk melakukan stabilitas lapangan karena dari 44 orang yang kita amankan tersebut setelah dilakukan pendalaman terkait keterlibatannya dalam aksi tersebut jika tidak terbukti, otomatis akan kita lepas. “Pihaknya masih terus melakukan pencarian terhadap DP (daftar pencarian) yang telah kita kantongi namanya sebab sudah ada yang telah melarikan diri dari daerah ini,” sebutnya.

Dia juga telah melakukan pendekatan terhadap warga di wilayah Kecamatan Natal dan Lingga Bayu demi untuk menjaga stabilitas keamanan, demi untuk kondusifitas warga di kedua belah pihak sebab hari ini sejumlah kenderaan truk yang membawa sembako dan minyak (BBM) telah bisa melewati wilayah Kecamatan Lingga Bayu menuju wilayah Natal begitu pula sebaliknya.

“Kita masih tetap berada di lokasi demi untuk menjamin ketentraman warga serta kelancaran sejumlah kebutuhan bahan pokok yang masuk lewat darat menuju sejumlah wilayah yang melintasi Kecamatan Lingga Bayu yang sudah mulai lancer,” katanya.

Baca Juga :  Peringatan HUT Pemkab Tapsel ke-60 Berlangsung Khidmat

Arni salah seorang warga Muara Batang Gadis mengatakan, aparat kepolisian dengan kesigapannya melakukan stabilitas warga di kedua belah pihak sangat objektif demi untuk kelangsungan hidup warga di ujung Kecamatan Natal sebab sejak terjadinya konflik antara kedua kecamatan tersebut membuat berbagai dampak terhadap kami karena pasokan bahan pangan terhambat di dua kecamatan tersebut.

“Kita sangat mendukung langkah yang telah diberikan aparat kepolisian karena stok kebutuhan bahan pokok sejak Senin kemarin sudah menipis di daerah kami, apalagi minyak tanah dan bensin sudah habis,” katanya.

Rusak Mapolsek Natal

Sebelumnya, akibat buntut panjang kerusuhan antara warga Natal dengan Lingga Bayu Kabupaten Mandailing Natal di PT PSU Patiluban Desa Simpang Sordang, massa merusak Mapolsek Natal, Kamis (29/4) siang.

“Mapolsek Natal dan rumah dinas polsek dirusak massa akibat dari kekecewaan warga terhadap aparat kepolisian yang tidak ada di tempat,” kata Ali salah seorang tokoh masyarakat Kecamatan Natal kepada wartawan.

Penyelesaian tapal batas yang diberikan oleh Bupati Mandailing Natal dalam waktu satu atau dua bulan terlalu lama bagi warga Natal. “Warga menuntut persoalan tapal batas sesingkat mungkin sebab ini sudah menyangkut kelangsungan hidup, karena pasokan kebutuhan pokok menuju wilayah Natal sudah terhenti dua hari lalu,” sebutnya

Kapolsek Natal AKP Agus Maryana ketika dihubungi melalui telepon membenarkan kejadian ini. Kerusakan kantor Polsek Natal dan rumah dinas karena mereka bersama anggota sedang melakukan pengungsian demi untuk keselamatan keluarga akibat amuk massa. “Betul sudah terjadi perusakan kantor dan rumah dinas,” tambahnya lagi.
Kaban Kesbang Linmas Madina, Sahnan Pasaribu menuturkan, terus melakukan pendekatan terhadap kedua belah pihak melalui tokoh masyarakat.

Baca Juga :  PN Panyabungan Gelar Sidang Penghinaan Wartawan

“Kedua warga antar kecamatan masih mempunyai temperamen tinggi sehingga kita tidak bisa langsung turun tangan ke lokasi, walau demikian kita terus melakukan pendekatan terhadap kedua belah pihak melalui tokoh masyarakat dan aparatur pemerintah yang ada seperti camat dan lurah di kedua belah pihak,” sebutnya.

Kapoldasu, Irjen Pol, Oegroseno ke lokasi kejadian tidak membuat persoalan masyarakat Natal dengan Lingga Bayu berbuah hasil. Sebab rombongan sudah dihadang warga agar tidak bisa lewat dengan membuat kayu di sepanjang jalan dari wilayah Kecamatan Lingga Bayu menuju Natal.

Namun akibat dari kesigapan dari para aparat kepolisian yang membawa robongan dengan melakukan negosiasi dengan warga akhirnya bisa melewati jalan tersebut dan berdialog dengan warga. Oleh warga Natal dengan memasang batu dan kayu di sepanjang jalan,” sebut Kapoldasu di Hotel Paya Loting Internasional sekembalinya dari lokasi, Kamis (29/4). (man)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

4 Komentar

  1. Dinegara kita yang tercinta ini sekarang, HUKUM adalah POLISI dan sebaliknya POLISI adalah HUKUM, jadi karena itu semua yang diperbuat oleh POLISI syah2 saja. dan POLISI tidak akan pernah SALAH , selalu masyarakat yang SALAH,
    ada beberapa Contoh :
    1. Kantor Polisi Kosong (Tidak ada 1 Orangpun yg PIKET) —> Alasan MENGUNGSIKAN KELUARGA
    2. Polisi menganiaya Masyarakat —-> Alasan Kecelakaan Lalu Lintas

    Inikah yang dinamakan POLISI PENGAYOM MASYARAKAT???????

  2. kalaw dari kecamatan lingga bayu yg menghadang kapoldasu knapa masyarakat natal yang di tangkapi dengan pksa ole plisi dan kenapa jg waktu kerusuha polsek natal tidak ada polisi alasan nya takut, takut knapa? mana tgas polsek itu sebenar nya, seharus nya poldasu memikirkan kesalahn anggota nya dulu baru bertndak……..jgn asal tangkap ja yg jelek nya pelajar pun di tangkap. adu para kali la indonesia kita ini

  3. Polisi sah-sah saja melakukan penangkapan terhadap pelaku pengrusakan dan kerusuhan tetapi bukan sembarangan asal tangkap terhadap orang yang tidak terlibat sama sekali, dan pada saat proses pemeriksaan tidak melakukan kekerasan terhadap orang yang tidak bersalah

  4. kenapa harus dengan kekerasan, toh yg rugi siapa..???
    pihak yg mau membuka usaha utk pengembangan ke daerah itu kan jadi berpikir 2 kali tuk melakukannya…
    semua itu akan merugikan daerah itu sendiri nantinya…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*