Terlibat Trafficking – Dua PNS Dinsos Sumut UPT Berastagi Dituntut 10,6 Tahun

Terlibat perdagangan orang (traffiking), dua oknum PNS Dinas Sosial UPTD Para Warsa Berastagi, yakni Respan Ginting (37) warga Desa Kidupen Kecamatan Juhar dan Delaman Ginting ((32) warga Komplek Parawasa Berastagi dituntut 10 tahun, 6 bulan penjara oleh Jakasa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Kabanjahe, Selasa (15/6) sore.

Kedua oknum tersebut terbukti terlibat traffiking dengan menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang untuk memperjualbelikan tiga wanita kepada pria hidung belang di Desa Huta Lombang, Kecamatan Lubuk Barumun, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) pada Oktober 2009 silam.

Sementara seorang terdakwa lainnya  berperan sebagi pemilik café, Imran Harahap (37) warga Desa Huta Dolok, Kecamatan Lubuk Barumun, Kabupaten Tapanuli Selatan, dituntut 5 tahun penjara. Kepada ketiga terdakwa juga, masing-masing dikenakan tuntutan denda Rp 120 juta, subsider 6 bulan kurungan.

Pembacaan tuntutan itu disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU),  R Aritonang SH, Andri Sudarmaji SH, secara bergantian. Sementar majelis hakim yang diketuai Tira Tirtona SH MHum didampingi hakim anggota Shinta G boru Pasaribu SH.

Menurut JPU, dua oknum PNS tersebut, Respan Ginting dan Delman Ginting telah menyalahgunakan wewenang dan kekuasannya sebagai PNS  dengan tujuan mengeksploitasi orang tanpa persetujuan korban untuk mendapatkan keuntungan. Akibat perbuatan itu, tiga orang wanita korban trafficking menjadi trauma. Aksi yang dilakukan ketiga terdakwa itu terjadi,  Oktober 2009 silam.

Baca Juga :  Kenapa Rahudman Harahap Belum Ditangkap?

Terdakwa Respan Ginting  dan Delman Ginting mengeluarkan  tiga wanita  dari binaan UPTD Parawasa Berastagi, yakni  D (24), S (24) dan B (24), ketiganya warga Lubuk Barumun Kabupaten Tapanuli Selatan  dengan meminta uang tebusan masing-masing Rp 500 ribu.

Selanjutnya para terdakwa menjual para wanita itu  ke pemilik café, Imran Harahap (37) warga Desa Huta Dolok Kecamatan Lubuk Barumun Kabupaten Tapanuli Selatan untuk dipekerjakan sebagai pelayan café di tempat itu.  Namun, para wanita itu bukan sebagai pelayan café sebagaimana dijanjikan pemilik cafe melainkan sebagai pelayan seks untuk tamu-tamu hidung belang dengan harga  bervariatif.

Hal yang memberatkan kepada ketiga terdakwa  karena atas perbuatannya dapat meresahkan masyarakat. Selain itu tidak terdakwa tidak mengakui perbuatannya dan para korban menjadi trauma.

Lebih lanjut dikatakan, ketiga terdakwa dikenakan masing-masing pasal 8 ayat 1 Jo pasal 1 ayat 2  UU RI No 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan perdagangan orang,  pasal 2 ayat 1  UU  RI No 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan perdagangan orang.

Sumber: http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&task=view&id=38600&Itemid=57

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*