Teroris Targetkan Bunuh Wali Kota Tanjung Balai dr Sutrisno Hadi SpOG

6522008495334b2aff268a017908e0b8c88a673 Teroris Targetkan Bunuh Wali Kota Tanjung Balai dr Sutrisno Hadi SpOG
PERIKSA SENPI- Kapoldasu Irjen Pol Oegroseno memeriksa senpi gerombolan yang di Mapolsek Dolok Masihul, Senin (4/10).

Target para teroris di Sumatera Utara (Sumut) tidak hanya merampok bank, money canger, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), atau tempat-tempat penyimpanan uang lainnya. Para teroris, juga mengincar fasilitas pemerintahan. Seperti rumah dinas Wali Kota Tanjung Balai. Bahkan, Wali Kota Tanjung Balai dr Sutrisno Hadi SpOG dan calon wali kota terpilih, menjadi target pembunuhan oleh kelompok teroris yang dipimpin Iwan dan Marwan alias Mak Geng.

Informasi ini dibeberkan Khairul Ghazali alias Ahmad Ghazali, tersangka teroris yang ditangkap di rumahnya di Tanjung Balai saat penggerebekan oleh Tim Densus 88 Mabes Polri, beberapa waktu lalu. Pengakuan ini disampaikan ghazali kepada petugas kepolisian.

“Mereka telah merencanakan aksi perampokan lainnya dan telah disurvei akan menyerang target, di antaranya calon wali kota terpilih Tanjung Balai, dan Wali Kota Tanjung Balai yang menjabat saat ini,” terang Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri, di Mabes Polri, Jakarta, Senin (4/10).

Pengakuan itu dibeberkan Ghazali kepada aparat kepolisian saat menjalani pemeriksaan setelah tertangkap, Minggu (19/9) lalu. Selain itu, kata Kapolri, kelompok teroris Medan yang anggotanya berasal dari jaringan radikal Sumatera Utara (Sumut), Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur itu, juga merencanakan penyerangan terhadap Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kisaran, tiga showroom kendaraan di Kisaran, BRI Binjai, money changer Tanjung Balai, dan BRI Sungai Nangka Tanjung Balai.

Kelompok pelaku yang adalah eks preman yang direkrut dan terpengaruh indoktrinasi jaringan radikal dan kemudian menganggap aksi perampokan tersebut adalah sah dan halal (fai), menurut Kapolri, mengaku sudah mulai menjalankan aksinya sejak sekitar tahun 2009.

Adapun target operasi para teroris tersebut sejak tahun 2009 itu adalah Warung Internet (Warnet) Sei Sunggal Medan yang terjadi Maret 2010 dan menimbulkan kerugian sekitar Rp57 juta. Selain itu, mereka juga menyerang dan merampok Warnet Medan Baru pada 6 Agustus silam dan membawa kabur satu unit sepedamotor.

Setelahnya, mereka merampok Bank Sumut Marelan pada 30 April 2010 dan menggasak uang sebesar Rp600 juta, merampok Money Changer Toko Bali Belawan pada 5 Juli 2010, dan menggasak total uang sekitar Rp75 juta serta melukai pemilik money changer di bagian dada.

Operasi Poldasu yang melumpuhkan jaringan perampok sekaligus teroris Bank CIMB Niaga Medan, direspon Detasemen Khusus 88 Mabes Polri. Minggu (3/10) sepuluh penyidik Korps Burung Hantu itu membawa Khairul Ghazali, dari Jakarta ke Medan.

Ghazali dibawa menggunakan pesawat Garuda GA 182 dan tiba di Medan sekitar pukul 11.00 WIB. Dia sempat disinggahkan ke Mapoldasu sebelum dibawa ke Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Medan.

Di RS, Ghazali dikawal ketat Tim Densus 88. Ia dibawa dengan tiga rombongan mobil, yakni Land Cruiser B 1958 GN, Land Cruiser silver BK 12 FA, dan Toyota Terios BK 1394 FY. Ghazali langsung digiring ke ruang Langkat. Diduga untuk dipertemukan dengan dua tersangka, Robin Simanjuntak dan Abdul Gani.

Pukul 12.10 WIB, Ghazali dibawa Tim Densus 88 keluar dari RS Bhayangkara. Petugas yang mengawal tidak mau berkomentar banyak terkait tujuan Ghazali dibawa ke RS. “Yang saya dengar, Ghazali mau dipertemukan dengan tersangka yang masih hidup untuk mengidentifikasi kelompoknya,” ujar petugas yang tidak mau disebut namanya. Kabidpenum Mabes Polri Kombes Marwoto Soeto membenarkan kepergian Densus 88 dan Ghazali ke Medan. “Sekarang memang ada tim yang sedang identifikasi,” kata Marwoto.

Pengamanan Diperketat

Tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri dan Polresta Tanjung Balai masih terus melakukan pengamanan di perbatasan Asahan-Tanjung Balai. Penjagaan lebih dipertajam di kawasan pinggiran laut atau sungai.

Kapolresta Tanjungbalai, AKBP Drs Puja Laksana MHum, Senin (4/10) mengatakan, pengamanan terus dilakukan untuk mengantisipasi masuknya kelompok jaringan teroris atau perampok Bank CIMB Niaga Medan.

“Sebab informasi yang kita dapat, beberapa waktu lalu juga telah terjadi kontak senjata di Serdang Bedagai antara pihak kepolisian dan kelompok jaringan teroris. Puja menambahkan, saat terjadi kontak senjata, ada beberapa orang dari kelompok jaringan lari untuk menyelamatkan diri. Diperkirakan ada yang lari ke arah Kabupaten Simalungun, ke Kabupaten Asahan, dan Kota Tanjung Balai.

“Oleh sebab itu, pihak Polresta Tanjungbalai terus melakukan pengamanan di perbatasan Asahan-Tanjung Balai atau jalan masuk ke Tanjung Balai,” ujarnya.

Rumah Ghazali Dijaga Polisi

Masih kata Kapolresta, pihaknya terus melakukan pengamanan dan penjagaan di rumah Ghazali, beberapa bank, pertokoan, dan instansi pemerintahan.

“Ini dilakukan atas perintah Kapoldasu, agar setiap Polres beserta jajarannya memperketat keamanan. Polresta Tanjung Balai memberlakukan siaga satu, agar Kota Tanjung Balai tetap aman,” kata Kapolresta. (tmc/int/sht)Parlindungan dan Mobil Kijang ‘Bebas’

Pengendara sepedamotor Supra X BK 6960 VJ, Parlindungan Sitorus (31) yang sempat diamankan di Mapolsek Bangun, dan mobil Kijang merah BK 1432 BF yang ditemukan di perkebunan PT Sipef Unit Bukit Maraja, Kecamatan Gunung Malela, diyakini tidak terkait aksi kejahatan, termasuk terorisme. Karenanya, Parlindungan dibebaskan, dan mobil Kijang tersebut dikembalikan kepada pemiliknya, Rahmat, warga Dolok Sinumbah, Kecamatan Dolok Batunanggar, Simalungun.

Baca Juga :  Ponpes Gunung Selamat Memperingati Isra Mi'raj 27 Rajab 1437 Hijriah

Kapolsek Bangun AKP Hitler Sihombing, kepada METRO, Senin (4/10) menerangkan, baik Parlindungan maupun mobil Kijang tersebut diyakini tidak mengarah kepada tindakan kriminalitas. Hal itu, katanya, sesuai hasil pemeriksaan di Mapolsek Bangun.

Hitler mengatakan, Parlindungan, warga Sibatu-Batu Pematangsiantar, yang mengendarai sepedamotor Hondra Supra X terlihat mondar-mandir di kawasan Pondok Emplasmen, Kebun Bah Jambi, telah dipulangkan kepada keluarganya. Setelah dilakukan pemeriksaan, Parlindungan diketahui mengalami gangguan kejiwaan. “Karena warga curiga, langsung melaporkan kepada petugas Polsek Bangun,” ujar Hitler.

Sementara mobil Kijang merah yang ditemukan di perkebunan PT Sipef telah dijemput pemiliknya, Rahmat. Menurut Rahmat kepada polisi, mobilnya telah dibawa seorang tidak dikenal saat ditinggalkan di pinggir jalan di Nagori Bangun, Kecamatan Gunung Malela. Saat itu, Rahmat sedang buang air di sungai. Rahmat juga mengaku sempat mengejar mobilnya dengan menumpang angkutan.

Teryata sebelum ditinggalkan di perkebunan PT Sipef, mobil tersebut telah menyenggol satu unit sepedamotor yang mengakibatkan pengendaranya luka ringan. Namun menurut Rahmat, bukan ia yang menyenggol sepedamotor tersebut.

Hitler menambahkan, setelah Rahmat menunjukkan surat-surat kepemilikan mobil tersebut, pihaknya langsung menyerahkan mobil tersebut.

2 Pemuda Dijemput Ortu di Raya

Dua pemuda warga Sipispis dan Raya Kahean Kabupaten Simalungun, yang diamankan polisi karena tidak dapat menunjukkan identitas saat razia kendaraan bermotor, akhirnya dilepas Polsek Raya, setelah dijemput orangtua (ortu) masing-masing. Hal itu disampaikan Kapolsek Raya AKP B Simarmata melalui ponselnya kepada METRO, Senin (4/10). Menurutnya setelah dilakukan pemeriksaan, kedua pemuda tersebut tidak terlibat aksi perampokan.

Sementara Camat Raya, Drs E Ubahman Sinaga MSi mengatakan perlunya peran serta masyarakat untuk ikut menjaga keamanan. Camat juga menginstruksikan kepada seluruh pangulu nagori di Raya untuk segera membentuk Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) di lingkungan masing-masing, guna mengantisipasi masuknya orang-orang diduga teroris yang menjadi target polisi.

Terkait laporan warga tentang adanya sejumlah orang yang membawa ransel melintas di perladangan warga di Raya Dolog, setelah dilakukan penyisiran oleh personel Brimob dan Polres Simalungun, hasilnya nihil.

Gelar Rapat

Dijadwalkan hari ini, Selasa (5/10) sekira pukul 09.00 WIB di Ruang Harungguan Kantor Camat, Muspika Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, menggelar rapat guna mengantispasi masuknya jaringan teroris.

Camat Girsang Sipangan Bolon, Imman Nainggolan SSos mengatakan, selain jajaran Muspika, pihaknya juga mengundang pimpinan hotel, dinas, dan jawatan, serta pers yang ada di Parapat. (osi/hot/jes)Rekonstruksi Pelatihan Teroris di Gunung Sibayak

Jajajaran Polres  KP3 Belawan bekerja sama dengan Polres Tanah Karo menggelar rekonstruksi dugaan pelatihan jaringan teroris di kawasan puncak Gunung Sibayak,  Senin pagi (4/10).

Informasi diperoleh wartawan, reka ulang di atas gunung yang berada di ketinggian 2.094 meter di atas permukaan laut (dpl) itu guna  pengembangan lebih lanjut  dari keterangan salah seorang tersangka, JM (30) warga Belawan, yang diamankan petugas Polres Belawan terkait keterlibatan aksi terorisme, Minggu (3/10).

Dari pengakuan JM kepada polisi, diperoleh keterangan, dirinya beserta rekan-rekannya berjumlah 15 orang pernah mengikuti pelatihan terori di kawasan puncak Gunung Sibayak, sekitar seminggu sebelum Ramadan 2010.

Menindaklanjuti pengakuan tersangka, kemarin sekitar pukul 09.00 WIB, polisi membawa  JM ke lokasi yang disebutkan. Di lokasi, tersangka mengatakan dirinya dilatih cara membunuh menggunakan pisau, Ia juga mengatakan mereka berlatih di Gunung Sibayak selama tiga hari.

Sesuai  keterangannya, mereka (anggota baru) hanya dilatih membunuh menggunakan pisau  dan cara berkelahi. Menurut pengakuan JM, dirinya hanya warga biasa yang diajak dan dilatih untuk menjadi teroris. JM juga mengaku memiliki tiga saudara yang termasuk dalam kelompok Taufik Hidayat. Salah satunya yang menyerahkan diri di Mapolsek Dolok Masihul.

Kapolres KP3 Belawan, AKBP Endro Kiswanto SH,  yang turun langsung ke lapangan mengikuti adegan rekonstruksi, kepada wartawan mengatakan, tersangka JM diamankan polisi di Belawan berkat informasi dan kerja sama masyarakat.

Disinggung keterkaitan tersangka dengan perjalanan pelaku teror selama ini di Sumatera Utara (Sumut), Kapolres menyatakan belum dapat memastikan dan memberikan keterangan lebih lanjut.

“Masih dalam tahap pengembangan. Nanti kita tunggu instruksi pimpinan selanjutnya,” ujarnya singkat. (wan/smg)Senpi FN Ditemukan di Lokasi Baku Tembak

Pol Air Polres Serdang Bedagai (Sergai) menyisir Sungai Belutu di Kecamatan Dolok Masihul, yang menjadi lokasi baku tembak antara komplotan bersenjata dengan kepolisian, Senin (4/10), untuk mencari senjata api (senpi) milik komplotan bersenjata. Pencarian dilakukan mulai pukul 08.00 WIB oleh 20 personel dengan menggunakan dua perahu karet dan dua set alat bantu selam.

Sekitar pukul 11.46 WIB, senpi jenis FN ditemukan. Kapolres Sergai AKBP Eri Safari yang berada di lokasi segera mengamankan senpi yang diduga digunakan salah seorang anggota kelompok bersenjata, Dedi, yang tewas Minggu (3/10). Selain menemukan senpi, warga di lokasi juga menemukan serpihan bibir Rahman yang terkena granat yang meledak di tangannya.

Polisi langsung membuka magazin di dalam senpi laras pendek tersebut dan ada enam peluru. Menurut Kapoldasu Irjen Pol Oegroseno di Mapolsek Dolok Masihul, senjata jenis FN itu bukan rakitan. Selanjutnya Kapoldasu meninjau lokasi ditemukannya senjata tersebut.

Baca Juga :  Hati-hati, Ratusan Perusahaan Jasa Pengiriman Uang Tak Punya Izin

Hingga kemarin, aparat gabungan dari Polri dan TNI masih mengejar anggota komplotan yang sempat meloloskan diri. Aparat Brimobdasu dan Inteldam I/BB melakukan pengejaran di areal perkebunan kelapa sawit PT Socfindo di Desa Ujung Silau, Dolok Sagala, dan Silau Dunia.

5 Lagi Sembunyi

Senin (4/10) hingga sore, polisi belum menemukan sisa anggota komplotan bersenjata. Diperkirakan ada lima anggota komplotan bersenjata masih berada di areal perkebunan kelapa sawit dan karet, di Kecamatan Dolok Masihul.

Sekitar pukul 15.00 WIB, wartawan menerima informasi adanya kontak senjata personel Brimob dengan komplotan bersenjata, di Dusun Cemara, Desa Dolok Sagala, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai.

Setelah dicek, di lokasi yang dikelilingi kebun karet itu, tidak ditemukan tanda-tanda adanya kontak senjata. Warga juga mengaku sejak pagi tidak ada mendengar letusan senjata.

Pengejaran juga dilakukan Kapoldasu di perairan Sungai Bah Kerapu, Dusun Empat, Desa Martebing, Kecamatan Dolok Masihul. Namun sisa anggota komplotan tidak ditemukan.

Kapoldasu menegaskan, pengejaran lebih diintensifkan dengan menurunkan tim Kepolisian Perairan Daerah Sumatera Utara. “Pencarian pelaku kejahatan ini, di air dan di darat,” katanya. Ia yakin, sisa komplotan masih berada di perkebunan Dolok Masihul.

Untuk mempersempit ruang gerak komplotan, jajaran Poldasu tetap melakukan penjagaan di wilayah masing-masing, khususnya yang memiliki akses dari Dolok Masihul. “Polres Simalungun, Polres Deliserdang, dan Polresta Medan.,” katanya. (mag-15/rud/smg)Mabes Polri: Terkait Teroris

Mabes Polri yakin kelompok bersenjata di Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) terkait jaringan teroris. “Saya kira itu,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Iskandar Hasan dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Senin (4/10).

Iskandar mengatakan, selain terkait kasus perampokan Bank CIMB Niaga Medan dan penyerangan Mapolsek Hamparan Perak, 14 pria bersenjata laras panjang itu juga terlibat dalam kasus di Aceh. Hal itu berdasarkan fakta-fakta yuridis, bukan dipaksakan untuk dikait-kaitkan dengan jaringan teroris.

“Kita tidak mengait-ngaitkan. Tapi kita berdasarkan fakta yuridis. Kalau kita lihat mereka kan terkait kasus di Aceh, CIMB Niaga, penyerangan Polsek,” jelasnya. Namun Iskandar sendiri belum melihat ada keterkaitan Abu Tholut sebagai buron teroris dengan kelompok bersenjata yang terlibat baku tembak dengan Brimob di Dolok Masihul. “Saya belum lihat,” imbuhnya. (dct/int)Pengakuan Pengendara Mobil Avanza kepada Polisi

“Cepat Keluar! Kalau Tidak Kutembak!”

Pihak kepolisian telah menemui pengendara mobil Toyota Avanza hitam yang diancam tembak saat melintas di Jalan Medan, Nagori Batu Silangit, Kecamatan Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun, Minggu (3/10) sekira pukul 05.00 WIB. Kepada polisi, pengendara berinisial BS (45) warga Medan itu, mengaku disuruh memilih keluar dari mobil atau ditembak.

Kapolsek Serbelawan, AKP Kitaman Manurung, Senin (4/10) menerangkan, sejauh ini pihaknya masih melakukan penyelidikan atas kasus tersebut. Hanya saja, katanya, pengendara belum membuat laporan ke Mapolsek Serbelawan.

“Sopir atau korban belum ada membuat laporan ke Mapolsek Serbelawan. Namun untuk mengecek kebenaran informasi tersebut, petugas tetap melakukan penyelidikan untuk menjaga kekondusifan masyarakat,” terang Kitaman.

Kitaman mengatakan, pihaknya telah menemui BS. Saat ditemui polisi di kediamannya di Medan, BS mengaku delapan pria yang mengendarai empat unit sepedamotor telah melakukan pencobaan perampokan terhadap dirinya ketika melintas dari arah Kota Medan menuju Pematangsiantar, tepatnya di Jalan Medan, Nagori Batu Silangit, Kecamatan Tapian Dolok.

Para pelaku, katanya, menghentikan laju mobil yang dikemudikannya, dan meminta dirinya keluar dari dalam mobil.

“Cepat kau keluar dari mobil. Kalau tidak kutembak kau!” ancam seorang pelaku yang di bagian belakang tubuhnya terlihat tonjolan yang diduga senjata api (senpi) laras panjang. Namun aksi para pelaku gagal. Sebab rombongan pendeta dan jemaat Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) melintas di lokasi kejadian. Melihat rombongan itu berhenti, kawanan yang diduga menggunakan senpi itu langsung meninggalkan lokasi.

Kitaman menegaskan agar masyarakat lebih waspada dan melaporkan ke polisi bila ada yang mencurigakan. (osi)

Sumber: http://metrosiantar.com/Berita_Foto/Teroris_Target_Bunuh_Wali_Kota_Tanjung_Balai

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*