Tim KNKT Nasional: Aek Latong Tak Layak Dilalui

Jalinsum Aek Latong tidak layak dilalui. Sebab, kerusakannya parah sehingga harus segera dibangun jalur alternatif.
Hal ini disampaikan salah seorang Tim Komite Nasional Keselamatan Tarnsportasi (KNKT) Nasional, R Sri Sadono, yang mengumpulkan data atas kecelakaan bus ALS yang menewaskan 19 penumpangnya. “Kerusakannya luar biasa. Kita melihat kondisi jalur ini tidak layak pakai, apalagi di dalamnya memiliki tanah yang lembek dan berlumpur,” kata Sadono, kepada METRO, Rabu (29/6).

Kendati pun kondisi jalur tersebut tidak layak dilalui, pihaknya tidak bisa menutup jalur Aek Latong. Sebab, akan berdampak pada perekonomian.”Nggak bisa ditutup karena dikhawatirkan akan menghambat perekonomian setempat. Namun solusi yang paling tepat kita carikan jalur alternatif,” tuturnya. Dikatakannnya, tujuan tim dari KNKT meninjau Aek Latong adalah mengambil dan mengumpulkan data dari musibah terjadinya kecelakaan lalulintas Minggu (26/6) lalu yang menewaskan 19 orang penumpang, agar diketahui faktor penyebab terjadinya kecelakaan tersebut sehingga dapat diperbaiki dan tidak terulang kembali.

“Tujuan kita mencari penyebab terjadinya kecelakaan dengan mengumpulkan data di lapangan. Kecelakaan itu kan diakibatkan oleh berbagai faktor, bisa karena alam, manusia, teknis. Selanjutnya hasilnya akan disimpulkan melalui ahli. Sekarang kita belum bisa menyimpulkan,” terangnya. Jika nantinya sudah dipastikan penyebab kecelakaan tersebut, sambung Sadono, maka akan dibuat rekomendasi untuk perbaikan. “Makanya kita membutuhkan banyak hal, termasuk KIUR, STNK kendaraan SIM pengemudi saat jatuh, dan lainnya,” tambahnya. Pantauan METRO, tim KNKT yang berjumlah 4 orang berupaya mengumpulkan data di lapangan mulai dari tempat jatuhnya bus jalur jalan dan bangkai bus, proses pengambilan data tampak teliti dan alot. (ran)

Baca Juga :  Warga Paran Julu Konflik Gara-gara Dana Desa, Kades Diadukan ke Jaksa

Sumber: metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*