Tim Terpadu Ambil Sampel Air Batangtoru

BATANGTORU-Untuk pertama kalinya, Tim Terpadu Pemantau Kualitas Air melakukan pengambilan sampel air sisa proses dan air sungai Sungai Batangtoru, Jumat pekan lalu. Selanjutnya, sampel air akan dibawa ke Jakarta untuk diuji di laboratorium Intertek.

Pengambilan sampel air sisa proses tambang emas Martabe dilakukan di titik pelepasan air sisa proses (outlet), ada delapan titik pengambilan.

Pengambilan Sampel Air Sisa Proses di titik pelepasan air sisa proses (outlet) Read more: http://www.hariansumutpos.com/2013/10/67262/tim-terpadu-ambil-sampel-air-batangtoru#ixzz2hhGcsM9w

Salah satu warga, Samsuddin dari Desa Bandar Hapinis ikut aktif dalam proses pengambilan sampel air Sungai Batangtoru di titik 1000 meter dari ujung pipa air sisa proses.

Usai mengambil sampel air, warga membubuhkan tandatangan di Berita Acara pengambilan sampel air sisa proses.

Sebelumnya, 17 perwakilan warga Batangtoru dan Muara Batangtoru, Tapanuli Selatan menjadi bagian dari 51 anggota Tim Terpadu Pemantau Kualitas Air Limbah Tambang Emas Martabe ke Sungai Batangtoru, yang dibentuk berdasarkan SK Gubsu pada 19 Juli lalu. Tim terpadu ini bermasa kerja dua tahun, dengan tugas utama melakukan pengambilan sampel air pada titik-titik yang sudah ditentukan. Yaitu, ujung masuk pipa air sisa proses (inlet), ujung keluar pipa air sisa proses (outlet) di Sungai Batangtoru ,pada 500 meter sebelum titik pelepasan air; pada titik percampuran air sisa proses dan air Sungai Batangtoru (outfall); serta pada titik 500 meter, 1.000 meter, 2.000 meter, dan 3.000 meter setelah pelepasan air.

Baca Juga :  Dandim Tapsel: Cegah ISIS ke Daerah Kita

”Pengambilan contoh uji air sisa proses dilakukan setiap bulan, dan tiap tiga bulan ada perwakilan tim yang dikirim ke Jakarta untuk melihat dan mengambil data hasil uji cek sampel, sebelum diinterpertasi oleh Divisi Evaluasi yang dikoordinir oleh Badan Lingkungan Hidup Sumut,” kata Kepala BLH Provsu, Dr. Ir. Hidayati kepada wartawan di Medan, beberapa waktu lalu. (mea).sumutpos.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

5 Komentar

  1. Pabrik tahu dan tempe saja ada limbahnya yang tidak boleh sembarangan dibuang kesungai, apalagi limbah tambang mas yang penuh dengan unru kimia yang membahayakan.

  2. Jika pengujian ini dilakukan, bagaimana proses penilaian kepercayaan disetiap tahapan demi tahapan proses penelitian ini hingga akhirnya keluar suatu hasil penelitian. Apakah tingkat steril selama proses pengujian dapat dijamin independentnya atau hanya sebatas pengambilannya saja yang terbuka dan independent?

    Bisa tidak penelitian ini benar-benar di kawal dan dilaksanakan di wilayah batangtoru itu sendiri dan tidak usah dibawa keluar wilayah batangtoru itu sendiri, sehingga masyarakat lebih percaya dan lebih yakin kalau memang kekuatiran masyarakat tidak terbukti.
    Alasan peralatan tidak ada di tengah-tengah masyarakat batangtoru bukan alasan yang harusnya alasan yang dibuat sehingga pengujian sample tersebut harus dibawa keluar dari luar wilayah batangtoru itu sendiri, dan sarana yang tidak ada untuk menguji untuk diadakan menjadi tanggung jawab Negara untuk melindungi rakyaknya dan pihak yang berkepentingan mendapatkan semua peralatan yang dibutuhkan agar pengujiannya langsung ditengah-tengah kelompok masyarakat itu sendiri.

    kalau tidak dapat dijamin tingkat kepercayaan dari semua tahapan proses hingga keluar suatu hasil / output penelitian, maka sebaiknya cara pengujian yang paling baik mungkin dengan ala tradisional, yaitu bisa dengan meminum langsung air dari air yang dianggap tidak tercemar oleh pihak-pihak berkepentingan dan termasuk perwakilan dari pemerintahan setempat dan keamanan setempat untuk setiap pengujian meminum langsung air dari tempat pengambilan sampel dengan waktu dan tempat penentuannya harus dari pihak masyarakat yang menentukan dan bukan pihak perusahaan atau negara. Hal ini agar terhindar dari contoh pembuangan limbah dari suatu pabrik ke pengarian pertanian suatu daerah dimana setiap petugas pengawas air diterjunkan dan setiap pengontrolan dilakukan air menjadi bersih dan tidak tercemar, namun begitu petugas pengontrol berlalu maka kembalilah berubah warna air bahkan hingga siang pagi dan siang hari. Dalam suatu penulusuran di salah satu TV swasta waktu itu bahkan mendapatkan CCTV di setiap jalur air yang bakal akan dilalui oleh pengawas, penjaga lingkungan alam dan juga para pejabat lainnya dan wartawan serta LSM yang bila mau melihatnya sudah terpantau lebih dahulu.

    Kita tidak menuduh perusahaan dalam hal ini melakukan hal-hal seperti itu, tapi dalam hukum bisnis disitu ada hambatan dan tantangan maka upaya untuk melewati hambatan dan tantangan itu harus dilalui dengan berbagai cara demi mendapatkan peluang dan keuntungan yang akan didapatkan. Jadi pengambilan sampel ini perlu dijamin dari setiap tahapan proses dijamin pelaksanaannya dan baiknya dilaksanakan langsung di tengah-tengah masyarakat itu sendiri secara bebas dan terbuka untuk media bila dilakukan setiap pengujian.
    Hal ini juga akan berdampatk positif bagi perusahaan dalam menjalankan bisnisnya di wilayah kecamatan batangtoru jika perusahaan demi menjaga hubungan baik dengan lingkungan masyarakat sekitar pertambangan. Apalagi informasi tentang bahayanya Limbah dari pertambangan sudah bukan informasi yang sulit didapatkan oleh masyarakat saat ini, jadi perusahaan tidak perlu harus menutup nutupi informasi tentang keberadaan pertambangan kalau tidak mau terjadi komplik demi komplik dimasa yang akan datang.

    Kalau perusahaan sudah merasa benar dan tidak merasa bersalah dalam hal limbah perusahaannya, kenapa harus takut? bukankah prinsip salah satu di tanah batak, BERANI KARENA BENAR, TAKUT KARENA SALAH??

    Horas..

  3. UNTUK MENYAMBUNG PIPA KE DESA BONGAL SEPANJANG 15 KM SAJA PERUSAHAAN INI TIDAK SANGGUP, ANEH SANGAT. PADAHAL PERUSAHAAN INI SUDAH MENGERUK EMAS RIBUAN TON DI BATANGTORU. ISI NOTA KESEPAHAMAN BERSAMA ANTARA PT AR DENGAN MASY. BATANGTORU TERTANGGAL 23 SEPTEMBER 2012 PADA PASAL 3 TENTANG KEWAJIBAN PT AR AYAT 2 BERBUNYI ‘ PT AR BERSEDIA MEMPERPANJANG JALUR PIPA SAMPAI KE UJUNG DUSUN BONGAL YANG TERLETAK DI DESA HUTARAJA DALAM JANGKA WATU 11 BULAN SETELAH PEMASANGAN PIPA KE RENCANA SEMULA YANG TERLETAK DI SABA JULU (RONGGANG) DESA TELO, DAN AIR PROSES DAPAT SEGERA DILEPAS KE SUNGAI BATANGTORU”. Siapakah dibelakang layar yang mengotak-atik Nota Kesepahaman ini sehingga air sisa pembuangan limbah tambang PT AR ? apakah ini hasil kerjaan Belanda hitam itu ?

  4. karena tahun lalu itu sehabis minum air buangan limbah itu, pulang ke medan pada menceret semua. jadi…… gak kedua kali lah minum racun itu

  5. KENAPA BUPATI, WAKIL BUPATI DAN GUBERNUR SUMUT TIDAK MEMINUM AIR BUANGAN LIMBAH ITU LAGI , BUKANKAH TAHUN LALU MEREKA MEMINUMNYA, APAKAH TAHUN LALU ITU HANYA PENGGALAN OPERA MURAHAN ???…….TIDAK USAH DIAMBIL SAMPELNYA, DI LAB dsb…dsb..TETAP SAJA ITU NAMANYA LIMBAH .

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*