Tolak Proyek Gedung DPR, PDIP-Gerindra Walk Out

Anggota fraksi PDIP Maruarar Sirait melakukan interupsi ke meja pimpinan menolak pembangunan gedung baru DPR, saat pidato penutupan masa sidang paripurna III, di Gedung MPR/DPR. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO Interaktif, Jakarta – Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya keluar dari ruang Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat, Jumat 8 April 2011 kemarin. Keduanya menilai sidang tak mempedulikan aspirasi mereka yang menolak pembangunan gedung baru senilai Rp 1,164 triliun.

Walkout terjadi setelah Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengetuk palu tanda menyetujui laporan Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) mengenai Rancangan Anggaran DPR 2012. Dalam laporan itu, Wakil Ketua BURT Indrawati Sukadis menjelaskan, terjadi peningkatan anggaran sarana dan prasarana DPR dari Rp 1,2 triliun tahun ini menjadi Rp 1,3 triliun pada 2012. Sebagian anggaran ini untuk membangun gedung baru.

“Mas Priyo biasanya demokratis, tapi hari ini terlalu cepat mengetuk palu,” kata Maruarar Sirait dalam interupsinya. Politikus PDI Perjuangan ini meminta Priyo mencabut persetujuan itu karena fraksinya menolak pembangunan gedung. “Dulu anggaran laptop dibatalkan karena rakyat menolak.” Protes juga muncul dari Edhy Prabowo dari Gerindra. “Pembangunan ini tak perlu dilakukan,” ujarnya.

Permintaan interupsi pun berhamburan. Nudirman Munir dari Partai Golkar, misalnya, menilai penolakan itu hanya pencitraan. “Kita jangan aneh-aneh membandingkan dengan rakyat yang susah. Apa kita harus tinggal di gubuk reot juga, becek-becekan? Kita harus realistis.”

Priyo, juga dari Golkar, malah menyerahkan kepemimpinan sidang kepada Ketua DPR Marzuki Alie, yang akan membacakan pidato penutupan masa sidang. Beberapa interupsi tak digubris. Eva Kusuma Sundari dari PDI Perjuangan dan Martin Hutabarat dari Gerindra berbicara, tapi mikrofon mati.

Baca Juga :  “Pecalang” Dan Takmir Masjid Bantu Amankan Paskah

Maruarar memprotes sampai naik ke panggung pemimpin sidang. Ara–begitu sapaan Maruarar–dicemooh oleh mayoritas peserta sidang. “Turun, turun!” teriak mereka. Ara turun dari panggung dan meninggalkan ruang sidang. Langkahnya diikuti oleh semua anggota Fraksi PDI perjuangan dan Gerindra.

Kamis lalu, Rapat Konsultasi DPR memutuskan proyek gedung baru dilanjutkan. Wakil Ketua DPR Anis Matta menyatakan, dari sembilan fraksi, hanya Gerindra dan Partai Amanat Nasional yang menolak. Keputusan ini juga dipastikan tak akan dibahas dalam sidang paripurna.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo membantah pernyataan Anis. “Sejak awal kami minta penundaan dan minta perencanaan ulang,” ujarnya sebelum sidang paripurna kemarin. Bahkan fraksinya menyampaikan sikap ini lewat surat kepada pemimpin DPR. Anis balik membantah. “Di sana (rapat konsultasi) ada Theodorus (Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan Theodorus Jakob Koekertis) dan Mas Pram (Wakil Ketua DPR dari PDI Perjuangan Pramono Anung). Silakan tanya Mas Pram,” ujarnya.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*