TPA Batu Bola Cemari Sungai Batang Ayumi

Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Batu Bola, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, yang masa beroperasinya sudah habis tahun 2009 lalu, harus segera direlokasi. Limbah sampah tersebut mencemari Sungai Batang Ayumi yang biasa digunakan masyarakat di pinggiran sungai untuk mandi, cuci dan kakus.

Pengamat sosial Padangsidimpuan (Psp) Arman Badrisyah Hasibuan kepada METRO, Minggu (6/3), yang turun langsung melihat kondisi TPA sampah Batu Bola, sangat berharap agar Pemko Psp segera merelokasi TPA sampah tersebut.
Dijelaskan Arman, tumpukan sampah di TPA Batu Bola, jika pada musim hujan akan menyebabkan rembesan air dari sampah mengalir ke Sungai Batang Ayumi yang tepat berada di pinggir TPA Batu Bola. Air sungai pun menjadi tercemar. Padahal air sungai tersebut biasa dipergunakan masyarakat khususnya di Kelurahan Batunadua Jae, Kecamatan Psp Batunadua, Kota Psp untuk keperluan mandi, cuci dan kakus (MCK).

“Tentunya ini bisa menimbulkan efek sosial seperti penyakit gatal-gatal, dan jika tidak segera ditanggulangi dalam artian TPA ini dipindahkan, maka hal yang sama akan terus berulang-ulang. Dan yang menjadi korban adalah masyarakat di sekitar pinggiran Sungai Batang Ayumi khususnya masyarakat Batunadua Jae dan sekitarnya,” ucapnya. Dijelaskan Arman, akibat letak TPA Batu Bola berada di hulu aliran Sungai Batang Ayumi, limbah cair sampah ketika musim hujan akan kembali ke pusat kota melalui aliran Sungai Batang Ayumi.

“Istilahnya kita buang air besar di hilir tapi makannya di hulu. Bagaimana tidak menimbulkan penyakit jadinya. Apalagi masa operasinya sudah habis tahun 2009 lalu, jadi sudah jelas TPA ini tak layak lagi dioperasionalkan dan harus dipindahkan. Kita berharap pemerintah segera melakukan kaji ulang atas TPA tersebut dengan secepatnya membuat program pemindahaan TPA Batu Bola ke lokasi yang baru,” ungkapnya.

Pekerja Sosial (Peksos) Psp, Baun Aritonang menambahkan, selain efek langsung kepada masyarakat karena aliran Sungai Batang Ayumi dipergunakan untuk MCK yang dapat menimbulkan penyakit seperti gatal-gatal, diare dan lainnya, juga membuat masyarakat khawatir lahan pertaniannyaa rusak karena air sungai yang sudah dicemari limbah. Apalagi masyarakat Batunadua yang dulunya dikenal sebagai lokasi budidaya ikan mas, sekarang sudah jarang yang memiliki kolam. Sebab aliran Sungai Batang Ayumi yang dipergunakan untuk mengairi kolam, kotor dan ada limbahnya. Sehingga ikan tidak bisa bertahan hidup atau induk ikan tidak bisa bertelur dengan baik.

Baca Juga :  Pemkab Madina akan Tingkatkan Jalan Panyabungan Timur

“Jangankan kepada manusia, terhadap pertanian dan perikanan, limbah cair TPA Batu Bola ini juga berpengaruh. Lihat saja sekarang, masyarakat Psp mengimpor ikan dari Panti, Madina atau Sumbar. Padahal dulu kita yang ekspor, karena Batunadua itu dulu terkenal sebagai lumbungnya produksi ikan mas dengan kualitas yang baik. Sekarang jangankan ekspor, untuk budidayanya saja susah. Memang banyak faktor yang memengaruhi, tapi yang paling inti masalah air. Kalau airnya kotor dan tercemar, bagaimana ikan bisa bertahan hidup,” ucapnya.

Salah seorang petani ikan, Agus Salim Ritonga di Batunadua kepada METRO, Minggu (6/3), mengaku sudah tiga tahun ini hasil pembibitan ikan masnya tidak pernah berhasil dengan baik. “Bagaimana tidak, dari sekitar 10 induk yang kita masukkan, paling banyak yang bertelur hanya sekitar 2 ribuan. Padahal biasanya bisa sampai puluhan ribu. Setelah kita cek dan kita tanyakan kepada penyuluh perikanan, salah satu faktor yang menyebabkan hal itu karena air kolamnya kotor dan sudah tercemari limbah. Saya pikir itu mungkin karena aliran air kolam yang saya gunakan ini adalah aliran Sungai Batang Ayumi,” jelasnya.

Sementara itu Kadir Harahap, warga Kelurahan Batunadua Jae mengatakan, aliran Sungai Batang Ayumi memang biasa dipergunakan masyarakat sekitar untuk MCK. Sebab, warga tidak ada pilihan lain selain menggunakan air sungai itu.
Kadir menjelaskan jika pada hari biasa, warna air tidak terlalu hitam, dan warga biasa menggunakannya untuk MCK. Namun, jika pada musim hujan, air akan tampak berwarna hitam pekat serta dibarengi dengan sampah. Untuk menggunakannya kembali, sebut Kadir, warga harus menunggu hujan reda. Kemudian setelah 2-3 jam, air baru bisa bisa digunakan. Jika tidak maka bisa langsung menimbulkan penyakit gatal-gatal.

Efendi Lubis, warga lainnya menuturkan, jika pada musim hujan, warga Batunadua Jae baik anak-anak hingga orang dewasa, biasa mengalami penyakit gatal-gatal. Setelah berobat penyakit itu hilang, namun akan meninggalkan koreng akibat bekas garukan di tubuh. “Cuma waktu musim hujan saja. Karena tidak ada alternatif lain, maka kami warga sekitar ya tetap menggunakan air sungai ini. Mau ke mana lagi? Biasanya kalau musim hujan, paling lama 3-4 hari sudah ada warga di sini yang kena penyakit gatal-gatal,” terangnya. Ditambahkan Efendi, warga sangat berharap pemerintah mencarikan jalan keluar bagi masalah yang mereka hadapi, karena kejadian yang sama terus terjadi berulang-ulang dan menyusahkan warga.

Baca Juga :  HUT, PP Tapsel Gelar Bakti Sosial

Sekretaris Komisi II DPRD Psp Sopian Harahap kepada METRO, Minggu (6/3) melalui telepon selulernya mengatakan, karena ketiadaan anggaran untuk membangun TPA baru, TPA Batu Bola masih akan terus dipakai hingga tahun 2011.
Dijelaskan Sopian, pemerintah tak memiliki anggaran untuk mengalihkan lahan atau mengganti rugi sekitar 10 hektare lahan yang sudah disiapkan untuk menjadi TPA baru di Desa Simirik, Psp Batunadua.
Hal ini dikarenakan APBD Psp masih belum mampu menampung anggaran untuk biaya pembangunan TPA baru. Untuk pembangunan baru di TPA Simirik diperlukan dana sekitar Rp6 miliar untuk pelepasan lahan, pembangunan jalan, administrasi panitia, pembuatan surat dan lain sebagainya.

Lebih lanjut dikatakan Sopian, karena relokasi TPA Batu Bola sudah cukup mendesak, dirinya meminta Pemko khususnya Dinas Pertamanan, Kebersihan dan Pemadam Kebakaran aktif melobi dana ke tingkat provinsi dan pusat untuk mendapatkan anggaran yang bisa digunakan membangun TPA baru di Simirik. Pantauan METRO, di sekitar TPA Batu Bola tidak ada pabrik. Sehingga tercemarnya air sungai sata musim hujan, sangat dimungkinkan akibat rembesan air dari sampah mengalir ke Sungai Batang Ayumi. (phn) (metrosiantar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*