TRADISI “POKEN BANTE” DAN “MANGALOMANG”

Oleh: Marwan Dalimunthe *)

6455183925785a2276b526e5496f73d9c74d13d TRADISI POKEN BANTE DAN MANGALOMANG
Marwan Dalimunthe

Ranah mandailing sebagaimana yang temaktup dalam perjanjian “Batak Maninggoring ” yang diprakarsai oleh Hindia belanda pada tahun 1922 diwilayah mandailing godang dalam perjanjian tersebut mewakili 14 Raja – raja yang mana berbunyi :

“Menerangkan dengan sesoenggoehnya, bahwa bangsa dari pendoedoek Mandailing itoe ialah bangsa Batak; sedang agamanja sebagian besar Islam dan sebahagaian ketjil sekali agama Christen, ia-itoe dalam koeria Pakantan Lombang, Pakantan Boekit dan Kota Siantar. Nama Mandailing itoe boekanlah nama bangsa akan tetapi nama negeri (loehak).”

Mayoritas Muslim yang menduduki wilayah mandailing (tapanuli selatan) mempunyai tradisi sehari sebelum lebaran, dipenghujung bulan puasa yang disebut dengan “POKEN BANTE” yang bertujuan menyambut datangnya Lebaran dengan hidangan makanan berupa lauk dari daging sapi/kerbau baik daging tersebut dimasak menjadi “Rendang” dan “Sup” maupun jenis lainya.

“Bante” adalah sebutan untuk “Daging”. secara jelas “Bante” adalahan istilah kata dari daging yang yang digantung dari hewan potong berupa sapi/kerbau, konon setiap daging dalam proses penjualanya secara retail daging tersebut harus digantung supaya lebih awet dan menunjukkan kepada calon pembeli atas kwalitet danging tersebut. Poken Banten hampir menyeluruh dilakukan oleh setiap wilayah yang mempunya Pasar rakyat diseantero wilayah mandailing – angkola, tradisi ini telah berlangsung puluh tahun bahkan dari salah satu sumber ada yang menyakini tradisi ini telah berlangsung se-abat yang lalu.

Tradisi Poken Bante juga bentuk rasa syukur yang mendalam bagi warga mandailing – angkola, yang mayoritas muslim yang menandakan akhir dari bulan Ramadhan dan menyambut datangya Hari Idul Fitri (hari Lebaran).

Baca Juga :  “Boroe Tapanoeli”, Trompet Kepoetrian dari Padang Sidempuan

Lauk “Bante” setelah dimasak pada siang harinya dan umumnya dimalam harinya diikuti sebagaian besar tradisi yaitu “Mangalomang” (memasak lemang), yang merupakan makanan khas mandailing dihari lebaran. Mangalomang dalam tradisi ini dulunya dilakukan secara kolektif antar tetangga dengan memasak, dan membuatkan tunggu memasak bersama sama, tunggu mangalomang tidak sama dengan Tunggu yang disebut dengan istilah Dalian Na Tolu (Tiga tungku sejerengan). Tradisi ini merupaka tradisi suka cita bagi anak anak sebagai gambaran keakraban dan bukti kekuatan sosial antar tetangga. Setelah “mangalomang” selesai maka jadilah “Lomang”. Lomang adalah makanan ringan dihari lebarang dan sangat lezat apabila lauk dicampur dengan lauk daging rendang, akan tetapi bagi yang menderita penyakit gula, dan asam urat disarankan memakan peganan ini dengan secukupnya.

TRADISI YANG HAMPIR HILANG

%name TRADISI POKEN BANTE DAN MANGALOMANG
Photo: bulunggadung.blogspot.com

Setelah mandailing menjadi kabupaten Mandailing – Natal dan khususnya panyabungan kota tradisi “mangalomang” sudah jarang sekali dilakukan secara kolektif oleh para tetangga, memang sangat disayangkan tradisi mulai terkikis dengan tuntutan kesibukan masyarakat sekitarnya dan keterbatasan halaman atau pekarangan rumah antar tentangga ini, dibuktikan karena dipanyabungan kota menunjukkan kepadatan penduduk yang signifikat beberapa tahun belakangan ini.

Tradisi mangalomang bersama sama telah digantikan dengan membeli atau memberi upah kepada orang lain untuk memasaknya, dan sebagian besar menerima “Lomang” yang siap disantap.

Baca Juga :  WILLEM ISKANDER

Lauk ” Bante” dan “Lomang” umunya menghiasi setiap rumah dimandailing – angkola (Tapanuli selatan ), sebagai ungkapan rasa kebersamaan dan rasa mensyukuri antar keluarga disetiap rumah dengan memberikan kebahagian, dan suka cita kepada anak cucunya dapat berkumpul dan makan bersama dihari lebaran, terlebih – lebih kepada anak cucunya yang datang mudik dari luar kota.

Semoga esensi tradisi “Poken Banten” dan “Mangalomang” tidak terlupakan dan sebagai cermin bahwa orang tua-tua kita dulu adalah masyakat yang kompak, saling menolong dan mencintai anak cucunya.

6455183925785a2276b526e5496f73d9c74d13d TRADISI POKEN BANTE DAN MANGALOMANG

*)Penulis Adalah seorang pemerhati pada adat-adat Angkola mandailing, Bekerja dan Berdomisili di Jakarta, Frofil facebook.com/uwandm

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*