Tsunami: Antara Kesiapan Tekonologi dan Mental

Oleh : Hidayat Banjar *)

tsunami formation Tsunami: Antara Kesiapan Tekonologi dan Mental Kata “tsunami” berasal dari Jepang, tsu artinya pelabuhan dan nami artinya gelombang laut. Istilah ini diciptakan oleh seorang nelayan Jepang, yang kembali ke pelabuhan.

Nelayan tersebut menemukan kenyataan, daerah di sekitar pelabuhan telah mengalami kehancuran, padahal dia tidak merasakan gelombang besar dengan kecepatan tinggi di lautan terbuka. Jadi tsunami boleh diartikan “gelombang laut di pelabuhan”.

Tsunami berbeda dengan gelombang pasang-surut (tidal wave) dan gelombang laut biasa. Gelombang pasang-surut adalah gelombang yang disebabkan oleh pengaruh gaya gravitasi bulan terhadap bumi dan gaya sentrifugal yang disebabkan oleh rotasi bumi dan bulan pada porosnya. Pengaruh ini dapat mengakibatkan perpindahan volume air laut, membentuk gelombang dengan periode sangat panjang (12 hingga 24 jam).

Sedangkan gelombang laut biasa disebabkan oleh perpindahan energi kinetik dari hembusan angin ke partikel air yang mengakibatkan pergerakan partikel air pada lintasan yang sama berbentuk lingkaran, naik membentuk puncak dan turun membetuk lembah gelombang.

Melanda Jepang

Kata “tsunami” yang mulai akrab di telinga dan lidah orang Indonesia sejak 2004 lampau, kini kembali meramaikan media-media setelah gempa bumi melanda Jepang, Jumat (11/3), pukul 14.46. Dengan empasan gelombang air berkecepatan 800 km per jam. tsunammi melanda apa saja yang ada di depannya.

Jika dibanding kekuatan gempa dan besaran tsunami yang menerjang Aceh, gempa dan tsunami yang menerjang Prefektur Miyagi ini setara, berkekuatan 8,9 skala Richter (SR). Ketinggian tsunami juga hampir sama, sekitar 10 meter. Bedanya, tsunami dilaporkan menjangkau Banda Aceh hingga sekitar 9 km, sedangkan di Jepang masuk ke Kota Miyagi sejuah 24 km.

Kalau melihat, jauhnya jangkauan gempa dan tsunami di Miyagi, logika kita mengatakan korban akan jauh lebih besar. Nyatanya tidak. Ini karena Jepang membangun pemecah gelombang agar dapat meredam tsunami setinggi 6 meter. Jumlah korban bencana Aceh menewaskan 220.000 jiwa, sedangkan korban tewas di Jepang dilaporkan baru 337 orang.

Senior Coordinator for International Eartquae and Tsunami Information JMA, Takesi Koizumi, yang ditemui di Jakarta (Kompas, Sabtu 12 Maret 2011 hal 14) mengatakan, kesiapan menghadapi bencana gempa dan tsunami harus memerhatikan panduan aspek teknologi deteksi dini dan kesiapsiagaan masyarakat.

Semakin jauh lokasi daerah pusat gempa, informasi yang diterima bisa lebih dini, bisa sampai 10-20 detik sebelum gempa mengguncang. Peringatan beberapa detik ini tak akan berguna jika masyarakat tidak siap. Masyarakat Jepang sangat siap menghadapi gempa dan tsunami. Pendidikan bencana sudah masuk dalam kurikulum di sekolah-sekolah. Secara rutin warga melakukan simulasi menghadapi situasi terburuk.

Dengan demikian, walaupun gempa 8,9 SR yang disusul tsunasmi kali ini di luar perkiraan JMA, mereka telah siap. Mereka keluar dari bangunan secara teratrur, tidak berdesak-desakan, tak panik, sambil mengenakan helm.

Baca Juga :  Pemimpin yang Bangga dan Bisa Dibanggakan

Masyarakat Jepang dari berbagai lapisan, memang rajin melakukan pelatihan menghadapi bencana (gampa). Di dekat pintu, mereka mempersiapkan ransel yang berisi botol berisi air, makanan kering atau makanan kaleng, obat-obatan untuk pertolongan pertama pada kecelakaan, uang tunai, pakaian kering, radio, senter, dan beberapa makanan pengganti. Warga juga bisa menambahkan suplemen, obat-obatan khusus, atau makanan bayi dalam tas khusus mereka. Alat-alat penyelamatan gempa banyak dijual di toko swalayan.

Rawan Bencana

Tak jauh beda dengan Jepang, Indonesia secara tatanan gelogis juga terletak pada pertemuan tiga gelombang yaitu Lempeng Austrlia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Tatanan geologis ini di satu sisi sangat menguntungkan Indonesia karena terdapat mineral logam dan non logam, minyak dan gas bumi, kesuburan tanah serta pesona alam yang dapat menjadi daya tarik wisata.

Tatanan geologis ini pula membuat Indonesia merupakan daerah rawan bencana. Daerah rawan bencana gempabumi di Indonesdia tersebar mulai dari Provinsi Nanggro Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lapung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tengara, Pulau Sulawesi, Kepulaun Maluku dan Papua.

Sebagian besar wilayah pantai barat NAD dan sebagian Sumatera Utara terimasuk Nias mempunyai ciri pantai landai dan banyak permukiman serta berhadapan langsung dengan sumber gempabumi bawah laut. Oleh karena itu, wilayah ini rawan bencana gempabumi dan tsunami. Tsunami lebih mudah masuk kedaratan NAD karena berpantai landai dan adanya aliran sungai yang bermuara di Samudera Hindia.

Kecepatan gelombang tsunami masih tetap tinggi, sehingga landaan di daratan mencapai 5 kilometer dari garis pantai. Hal ini disebabkan tidak adanya sistem pemecah gelombang (seperti yang ada di Jepang), baik alami (hutan bakau) maupun buatan di sepanjang pantai.

Bencana di NAD, yang terparah terjadi di pantai utara dan barat, antar alain di Banda Aceh, Lhok Nga, Calang, Teunom, Meulaboh dan beberapa kota lainnya. Kecepatan tsunami di daerah ini masih berkisar antara 15 hingga 40 kilometer per jam dengan tinggi gelombang 2 hingga 12 meter. Jangkauan landasan tsunami ke daratan mencapai 5 kilometer dari garis pantai. Dengan kecepatan dan ketinggian gelombang tersebut maka kecil kemungkinan manusia dapat menyelamatkan diri.

Bersahabat dengan Alam

Untuk menghindari bencana, cara yang paling mudah adalah tidak bertempat tinggal di wilayah rawan bencana. Jika terpaksa harus tetap tinggal di wilayah rawan bencana, maka perlu mengenali wilayah rawan, mengenali tanda-tanda dan meningkatkan kesiapsiagaan.

Tanda-tanda akan terjadi tsunami relatif lebih mudah diketahui. Karena kejadian tsunami secara umum didahului dengan gempabumi dan air laut secara tiba-tiba surut menjorok jauh ke tengah laut.

Hal tersebut membuktikan bahwa alam selalu menunjukkan segala keteraturannya, dan mengajak bersahabat dengan kita. Dengan demikian guna mengetahui tanda-tanda dan keteraturan alam, kita harus bersahabat pula dengan alam. Caranya dengan menyesuaikan, menyelaraskan, dan berusaha terus-menerus mempelajari rahasia alam, termasuk tanda-tanda akan terjadi gempabumi dan tsunami.

Baca Juga :  Dongeng Tokek & Komodo

Tempat-tempat perlindungan dan penyelematan diri dapat dijumpai di alam atau dibuat dengan rekayasa teknologi.

Perlindungan alam dengan menganut prisnsip bahwa di alam selalu terjadi keseimbangan. Sebagai contoh, di alam selalu dijumpai adanya pasangan yang saling menyeimbangkan antara lembah dengan bukit, panas dengan hujan atau dingin, dan api dengan air. Semestinya goncangan gempabumi dan tsunami mempunyai pasangan penyeimbang seperti goncangan gempabumi dengan batuan keras, dan gelombang tsunami dengan batu karang, perbukitan pinggir pantai dan hutan bakau.

Oleh karena itu, untuk meredam energi (pemecah) gelobang tsunami diupayakan penanaman pohon bakau (mangrove) atau tanaman pohon kelapa yang tumbuh subur di pinggir pantai. Dengan hutan bakau, di samping terjaganya keslestarian lingkungan pantai, dapat sebagai sumberdaya perikanan yang menguntungkan masyarakat di sekitar pantai.

Pada kejadian gempabumi dan tsunami 2004 di Aceh dan daerah lainnya telah mengajarakan pada kita bahwa hutan bakau sangat efektif mengurangi korban dari bencana. Pusat gempa diketahui di daerah Simeulue, tetapi di wilayah ini hanya 6 jiwa saja yang jadi korban. Ini tak lain, di samping para penduduknya sudah punya pengalaman dengan gempabumi dan tsunami, juga perlidungan dari hutan bakau.

Begitu terjadi gempabumi, terlihat laut surut, sebagian masyarakat bersiap-siap mencari tempat perlindungan yang lebih tinggi. Saat tsunami menyerang, karena gelombang laut yang besar dipecah oleh hutan bakau, masyarakatnya sempat (punya waktu) untuk berlari meninggalkan pantai.

Begitu juga yang terjai di daerah Madina. Di sini terdapat sebuah pulau yang bernama Tamang. Usai kejadian, daerah itu ditinjau oleh Muspida, yang begitu tercengang menyaksikan keadaan pulau tak memperlihatkan seorang manusia pun.

Rupanya, setelah ditinjau ke arah perbukitan, diketahuilah masyarakatnya mengungsi ke wilayah itu. Tak satu pun korban jiwa di sini, juga karena perlindungan hutan bakau. Nah, kenapa kita tidak melestarikan hutan bakau sebagai sumber penghasilan rakyat dan perlindngan dari ancaman? *** (analisadaily.com)

Penulis adalah peminat masalah sosial budaya, menetap di Medan.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*