Tuntut Perpindahan Ibukota Tapsel – Massa Bakar Dua Alat Berat dan Rusak Rumah Wakil Bupati

(Analisa/hairul iman hasibuan) Dua unit alat berat (Beko) milik Pemkab Tapsel yang terparkir dilokasi pertapakan perkantoran Desa Situmba, hangus setelah dibakar massa, Rabu (2/5). malam.

Padangsidimpuan, (Analisa). Seribuan massa dari Kecamatan Sipirok dan sekitarnya membakar dua alat berat (beko) yang berada di lahan pertapakan kantor Bupati Tapanuli Selatan, Desa Situmba Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapsel, Rabu (2/5) sekira pukul 21.00 WIB.

Massa juga melakukan perusakan rumah milik Wakil Bupati (Wabup) Tapsel Aldinz Rapolo Siregar di Desa Simagomago, tepatnya depan makam pahlawan, serta beberapa unit rumah milik para koleganya.

Massa yang merasa kecewa dengan Bupati Tapsel H Syahrul M Pasaribu beserta Wabup Aldinz Rapolo itu juga memblokir jalan di kawasan Pasar Sipirok. Akibatnya, terjadi kemacetan arus lalulintas sekitar lima jam, mulai pukul 21.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB, di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum).

Informasi dihimpun Analisa, Kamis (3/4), aksi anarkis tersebut dilakukan usai gagal mendapatkan hasil positif dalam unjuk rasa di kantor Bupati Tapsel pada Rabu (2/5) mulai pukul 11.30 WIB hingga pukul 19.00 WIB.

Tempat yang pertama mereka datangi dalam perjalanan pulangnya dari Kota P. Sidimpuan menuju Sipirok adalah lokasi pertapakan perkantoran Pemkab Tapsel di Desa Situmba Kecamatan Sipirok.

Di tempat itu, massa menemukan dua alat berat milik Pemkab Tapsel yang terparkir dan langsung melakukan pembakaran.

Massa kemudian melanjutkan perjalanan dan tepat di depan rumah Wabub Tapsel yang sudah tidak dihuni lagi, massa berhenti dan melakukan perusakan.

Selanjutnya, massa tersebut melanjutkan perjalanan dan kembali melakukan pelemparan batu ke rumah para kolega Bupati dan Wabup di kawasan pasar Sipirok.

Sebagian massa, juga melakukan pemblokiran jalan dengan memarkirkan sebuah mobil di tengah Jalinsum Medan-Jakarta itu.

Baca Juga :  PSSI Rekrut Instruktur Pelatih dari Belanda

Selama sekitar 5 jam, kondisi di kawasan itu lumpuh total karena tidak satupun kenderaan dibiarkan lewat. Barulah setelah pihak Polres Tapsel dibantu Polres Kota P. Sidimpuan tiba dilokasi situasi dapat terkendali.

Namun, upaya pengendalian situasi itu memakan waktu cukup lama, karena massa yang rata-rata berusia muda itu memberikan perlawanan dengan lemparan batu dan benda-benda keras kepada pihak keamanan.

Akhirnya, setelah dua jam bentrok dengan massa, aparat dapat mengendalikan situasi dan berhasil mengamankan sekitar 20 massa.

Dalam upaya penertiban massa, Kapolres P. Sidimpuan AKBP Andi Syahriful Taufik langsung turun melakukan pengejaran dan penangkapan.

“Keterlibatan Polres Kota P. Sidimpuan adalah perintah langsung dari Kapoldasu untuk membantu Polres Tapsel melakukan pengamanan di Sipirok,” ujar AKBP Andi S Taufik kepada Analisa sembari menyebut personil Dalmas Polres Kota yang diturunkan membantu Polres Tapsel sebanyak 45 orang.

Dikatakan, pihaknya baru keluar dari lokasi pemblokiran jalan, pagi harinya sekitar pukul 07.00 WIB setelah kondisi benar-benar kondusif.

“Semalaman, kita berada di TKP dan baru tadi pagi sekitar pukul 08.00 WIB tiba di Sidimpuan. Alhamdulillah, kondisi di Sipirok sudah kembali normal,” terang Andi.

Sayangkan

Terpisah, Ketua DPRD Tapsel H. Rahmat Nasution, SSos menyayangkan dan menyesalkan terjadinya aksi anarkis massa dalam menuntut perpindahan ibukota ke Sipirok itu.

“Perbedaan pendapat adalah ciri demokrasi, tetapi tidak boleh ada anarkis seperti perusakan dan pemaksaan kehendak oleh massa agar bupati menandatangani berkantor di Sipirok. Itu sikap-sikap yang tidak terpuji,” katanya.

Baca Juga :  Kejaksaan Negeri Cab. Sibuhuan Sulit Tangkap Khoirun Asran Daulay

Dijelaskan, bila berbicara mengenai perpindahan ibukota Tapsel dari Kota Sidimpuan ke Sipirok, sebenarnya sudah dalam tahap proses pembangunan.

“Sesuai kemampuan keuangan daerah, pembangunan perkantoran Tapsel di Kecamatan Sipirok sudah ditampung di APBD dan akan secepatnya dilaksanakan. Pemaksaan kehendak berkantor di Sipirok justru menabrak aturan karena tidak ada anggarannya dalam APBD,” terangnya.

Atas dasar itu, Rahmat mengimbau masyarakat Tapsel khususnya Sipirok agar dapat menyelesaikan perbedaan pendapat dengan azas-azas kepatutan dalam berdemokrasi. Sedangkan bagi pihak kepolisian diminta segera menindak tegas para pelaku anarkis.

“Hukum tidak boleh kalah atas aspirasi yang tidak berdasar apalagi pemaksaan kehendak,” ujarnya.(hih)

Sumber: www.analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Bagi kita yang mendengar-dengar berita-beritanya, beritanya simpang siur, versi berita diatas lain lagi, terkesan informasi diatas masyarakat sipirok juga sudah sepakat akan kantor PEMDA Tapsel sudah, namun untuk kantor sementara di kota Sipirok tidak ada APBD… mmmm???? apa iya ya…??????
    kalau kita ikutin tuntutan Masyarakat dari dulu minta di Kota Sipirok Kantor PEMDA Tapsel dan Untuk sementara pindah juga ke kota Sipirok di kantor yang ada di Sipirok…. benar ngak sih!!!!!!

    Jadi kalau kita buat tulisan sebaiknya lebih hati-hati agar tidak menambah suasana semakin panas dikedua belah pihak….

  2. Wah, kalau menyimak berita pola bertutur ini kesannya sih seolah si wartawan menyampaikan laporan pandangan mata langsung dari lokasi kejadian sewaktu peristiwa terjadi, benarkah demikian? Faktanya, seluruh warga Desa Dano Situmba yang pemukimannya hanya berjarak 20-30 meter dari lokasi terbakarnya backhoe/excavator tak tahu siapa yang membakar, karena tak seorang asing pun nampak di lokasi sa`at api menyala-nyala. Instansi penyidik Polres Tapsel belum ada mengeluarkan statemen pelakunya adalah massa, isue terakhir di Sat Reskrimum mengatakan pelakunya beberapa oknum.
    Akhirnya berita penuturan ini ketahuan si wartawan cuma belakangan comot sana sini sejumlah fakta lepas berdiri sendiri yang tidak valid, lantas diaduk untuk kemudian disajikan ke media memenuhi hasrat selera penguasa: “The king can do no wrong, the crowd always and forefer guilt”. Aduhai, malangnya integritas pers lokal . . . Kecian deh gue … !

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*